Bupati Puji KKN Posdaya Berbasis Masjid

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 13 Oktober 2013 11:07 WIB
6x ditampilkan Berita

Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto melepas mahasiswa Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII) yang menjadi peserta kuliah kerja nyata (KKN) tahun 2013, Senin (02/09) kemarin. Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Situbondo ini memuji pelaksanaan KKN mahasiswa IAII yang bertematik pos pemberdayaan keluarga (posdaya) berbasis masjid.

Kata Bupati, ketika pemberdayaan menggunakan masjid sebagai basisnya, maka akan memiliki banyak efek. Selain, pemberdayaan ekonomi, para mahasiswa juga sangat memiliki kesempatan luas dalam melakukan pemberdayaan spiritual dan keagamaan kepada masyarakat.

“Bagaimana adik-adik mahasiswa bisa menghidupkan, memakmurkan dan mensejahterakan Masjid. Sehingga, nantinya tidak hanya ada motivasi tapi juga bimbingan kepada masyarakat. Saya tertegun, ketika pengasuh (KHR Azaim Ibrahimy) bertanya, apakah di Pemkab ada kegiatan-kegiatan yang berbasis masjid. Ini sangat luar biasa,” puji Bupati.

Dia mengaku ingin menyesuaikan sejumlah pemberdayaan yang tersebar di SKPD lingkungan Pemkab Situbondo dengan tematik pemberdayaan berbasis masjid KKN IAII Sukorejo. Bupati mengaku akan segera berkoordinasi dengan para camat yang wilayahnya di tempati KKN agar bisa bersinergi.

“Kami titipkan, meskipun tematiknya adalah posdaya berbasis masjid, namun harus ada sinkroniasi bagaimana ikut memperbaiki indeks pembangunan manusia (IPM) yang ada secara garis besar dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Karena daerah membutuhkan uluran semua pihak termasuk adik-adik mahasiswa,” harap Bupati.

Bupati menyampaikan pertumbuhan ekonomi Situbondo yang melesat luar biasa, hingga mengalahkan pertubuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Situbondo mencapai 7,24. “Karena itu, pemda sangat berbahagia dibantu teman-teman melalui pos dayanya,” imbuhnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah (P2S2) Sukorejo, KH Ahmad Azaim Ibrahimy mengungkapkan, Pada masa nabi Muhammad, Masjid tidak hanya menjadi pusat aktifitas ibadah ritual. Nabi Muhammad menerima delegasi diplomasi dari berbagai kabilah di masjid. Demikian juga dalam penyelesaian kasus-kasus pemerintahan, startegi peperangan, dan pengelolaan ekonomi keumatan.

Sebab itulah kehadiran mahasiswa IAII melalui kegiatan KKN diharapkan dapat mengembalikan peran masjid secara utuh. “Ini tugas dari mahasiswa IAII yang seorang santri untuk mengembalikannya,” ujar suami Ning Sari tersebut. (pri/als)

(Sumber: Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi 3 September 2013)