Tradisi Kurban di Pesantren Sukorejo

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 20 Oktober 2013 11:22 WIB
4x ditampilkan Kabar Pesantren

Ada yang berbeda dalam perayaan Idul Adha di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, beberapa tahun terakhir ini. Sebelum penyembelihan puluhan hewan kurban, santri putra dan putri menampilkan takbir dengan inovasi alat musik seadanya.

Tahun ini jumlah hewan kurban yang disembelih pesantren yang diasuh KHR. Ahmad Azaim brahimy itu melonjak tajam, yakni 23 ekor sapi dan 11 kambing. Padahal, biasanya hanya 11 hingga 15 ekor sapi.

Achmad Ichsan, ketua panitia penyembelihan hewan kurban mengungkapkan, meningkatnya jumlah sapi dan kambing yang disembelih bisa jadi karena meningkatnya jumlah santri. Sebab, hewan kurban itu merupakan pemberian sejumlah pihak dari berbagai penjuru Tanah Air, mulai orang tua santri hingga para alumni yang sukses.

Dari saking banyaknya hewan kurban yang disembelih, panitia yang terbentuk untuk menangani kegiatan tersebut sampai beranggota 50 orang lebih. Maklum, panitia juga harus memikirkan ribuan tumpuk daging itu nanti akan didistribusikan kepada siapa saja.
“Yang pasti untuk seluruh santri, para ustadz dan ustadzah. Mereka berhak menerima karena termasuk golongan fisabilillah, orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Orang yang menuntut ilmu agama masuk kategori ini,” terang alumnus Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Ibrahimy itu.

Pendistribusian dilakukan hingga malam hari. Meski demikian, para santri tetap setia menunggu. Mereka memiliki tradisi sendiri dalam menyambut Idul Adha. Mereka biasanya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk kepentingan memasak daging kurban yang diterima, meski hanya ala kadarnya.

Ichsan mengungkapkan, beberapa tahun terakhir ada nuansa baru dalam menyambut perayaan Idul Adha. Sebab, sebelum perayaan, digelar lomba takbir. Bukan hanya mengumandangkan suara, tapi juga disertai tabuh-tabuhan.

Jangan membayangkan alat musik yang digunakan adalah alat musik yang biasa digunakan mengiringi takbiran profesional. Para santri menggunakan alat musik seadanya, mulai galon air, kaleng biskuit, kentungan, hingga ember cucian.

“Setidaknya ini juga dijadikan ajang bagi santri untuk refreshing tapi masih dalam bingkai ibadah atau berperilaku yang insyaallah mendapatkan pahala. Yang juara diberi kesempatan tampil pada hari H sebelum penyembelihan hewan kurban,” terangnya. (pri/als)