Menyambut Hari Pahlawan: Melacak Peran KHR. As’ad Syamsul Arifin di Lasykar Sabilillah

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 1 November 2015 21:39 WIB
31x ditampilkan Berita

Oleh: Syamsul A Hasan

Sangat sulit melacak bukti-bukti tertulis kepahlawanan kiai-kiai tempo dulu. Karena mereka berjuang dengan ikhlas; jarang menceritakan perjuangannya apalagi menulis sepak terjangnya. Padahal  umatnya mengetahui dan menganggap perjuangannya tersebut luar biasa. Misalnya, kisah tentang perjuangannya Kiai As’ad.

 

Kiai As’ad menanamkan semangat jihad bersama ulama NU membentuk Sabilillah dan Hizbullah. Setelah terbentuk Hizbullah dan Sabilillah, para Pelopor mendorong agar orang-orang di daerahnya masuk Lasykar Hizbullah dan Sabilillah.

 

Kiai As’ad menjadi komandan Lasykar Sabilillah di Karesidenan Besuki (1943). Dari dokumen resmi yang penulis peroleh dari Dinas Sosial Kabupaten Situbondo, Hizbullah merupakan badan tertua di daerah Kawedanan Sumberwaru Asembagus, yaitu berdiri pada tanggal 1 Agustus 1945 dan  Sabilillah terbentuk pada tgl 5 Oktober 1945. Sedangkan komandan tertinggi Sabilillah pada Juni 1947 – Desember 1949 di Kabupaten Panarukan adalah Kiai As’ad. Namun informasi dari KH. Masykur (komandan pusat Sabilillah), Kiai As’ad merupakan komandan Sabilillah untuk Jawa Timur bagian Timur.

 

Hizbullah digagas oleh para ulama. Atas diplomasi Kiai A. Wahid Hasyim dan beberapa tokoh Islam kepada pemerintah Jepang, maka sekitar bulan Nopember 1943 terbentuk Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari. Namun karena kesibukannya dalam mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, tugas kesehari-hariannya dilaksanakan oleh putra sulungnya, Kiai Wahid Hasyim. Pengurus Masyumi ini mayoritas Nahdlatul Ulama dan ada pula yang Muhammadiyah atau organisasi Islam lainnya. Sedangkan tujuannya antara lain; mengkoordinasi para ulama dan mengadakan usaha-usaha perjuangan untuk meraih kemerdekaan.

 

Usaha-usaha tersebut di antaranya: mengumpulkan dana umat yang berasal dari hasil pertanian dan dimasukkan ke bait al-mal (tokoh-tokohnya: Faqih Usman, Ghafar Ismail, Wahid Hasyim, Sukiman dll), mendirikan sekolah tinggi Islam (tokoh-tokohnya: Kiai Wahid Hasyim, Drs. Ahmad Sigit, M. Natsir, dan Kiai Muhammad Junaidi dll), mendirikan majalah “Suara Muslimin” (tokoh-tokohnya: Kiai Saifuddin Zuhri, Harsono Cokroaminoto dll), serta membentuk barisan Hizbullah (Ketua Markas Tertingginya, Kiai Zainul Arifin).

 

Hizbullah ini, berdiri secara resmi pada 14 Oktober 1944 yang anggotanya mayoritas kaum muda nahdliyyin. Salah satu slogannya: “hidup mulia atau mati syahid (isy kariman au mut syahidan)” yang biasanya disingkat dengan “merdeka atau mati”. Tidak beberapa kemudian para ulama membentuk Sabilillah, yang mengayomi para Hizbullah. Pasukan Sabilillah ini dipimpin Kiai Haji Masykur. Di samping itu para kiai membentuk pasukan Mujahidin, yang dipimpin Kiai Wahab Hasbullah.

 

Pembentukan Hizbullah ini, dilatarbelakangi; berperang dalam mempertahankan agama Islam adalah wajib hukumnya. Di samping itu, terdapat permintaan Abd. Hamid Ono, pembesar Jepang; kepada Kiai Wahid Hasyim agar para santri dikerahkan masuk Heiho. Mengapa? Jepang sangat memerlukannya sebagai tenaga serdadu cadangan untuk dikirim ke Birma dan kepulauan Pasifik. Apalagi keadaan Jepang sekarang kian terdesak.

 

Secara diplomatis Kiai Wahid menolak. Namun putra Kiai Hasyim Asy’ari itu mengajukan usul agar para santri lebih baik diberikan latihan militer untuk pertahanan dalam negeri. Sebab mempertahankan tanah sejengkal di dalam negeri lebih menggugah semangat para santri daripada bertempur di luar negeri. Lagi pula untuk menghadapi tentara Sekutu lebih baik diserahkan saja kepada tentara Dai Nippon yang lebih profesional; sedangkan para santri yang masih kurang terlatih itu hanya akan menjadi beban tentara Dai Nippon.

 

Tidak semua tokoh NU, bergabung dengan Hizbullah Sabilillah. Mereka ada pula yang di tentara Pembela Tanah Air (PETA) diantaranya: Kiai Abdul Kholiq Hasyim, Wahib Wahab, dan Saiful Islam.

 

Sebagai seorang tokoh NU dan salah satu santri Kiai Hasyim Asy’ari, tentu Kiai As’ad tidak terlepas hubungannya dengan Pondok Tebuireng, termasuk dalam masalah politik. Pada saat itu, Pondok Tebuireng memang menjadi kiblat para kiai. Karena Pondok Tebuireng termasuk yang membidani kelahiran Barisan Hizbullah dan Sabilillah, maka tidak heran, bila Kiai As’ad pun bergabung dengan pasukan Hizbullah Sabilillah. Kiai As’ad memimpin Pasukan Sabilillah Karesidenan Besuki. Ia termasuk tokoh yang membesarkan pasukan Hizbullah Sabilillah dan merelakan pesantrennya sebagai markas para pejuang Hizbullah Sabillah Karesidenan Besuki.

 

Bagaimana hubungan Pelopor dengan Hizbullah Sabilillah di Karesidenan Besuki? Tentu sangat erat sekali. Bukankah tujuan, ideologi,  bahkan pimpinannya sama? Lalu apakah anggota Pelopor juga termasuk anggota Hizbullah Sabilillah, sebagaimana Kiai As’ad?

 

Pertanyaan ini, memang sangat sulit dijawab. Mengapa? Karena saat itu walaupun sistem pendataan dan pencatatan administrasi keanggotaan sudah ada, tapi beberapa informan tidak bisa memastikan apakah pendataan itu hanya untuk anggota Pelopor atau juga Sabilillah.

 

Apalagi, Lasykar Sabilillah pada saat itu, belum terorganisasi dengan rapi, sebagaimana organisasi militer. Misalnya belum ada komposisi Komandan Batalion, Komandan Kompi, dan komposisi yang mirip militer lainnya. Begitu pula, sebagian anggota Pelopor dan Sabilillah seragam sama, hitam-hitam—namun sebagian besar, mereka tidak berseragam karena terbatasnya dana. Sehingga sangat sulit membedakan, apakah mereka Pelopor atau Sabilillah atau bahkan anggota Pelopor juga termasuk anggota Sabilillah. Anggota Peloporlah yang mempelopori dan mendorong orang-orang agar masuk Hizbullah Sabilillah.

 

Tapi, tidak semua anggota Sabilillah secara otomatis masuk barisan Pelopor; terutama anggota Sabilillah yang kemudian meniti kariernya di TNI. Bahkan beberapa anggota Sabilillah pun, ada pula yang tidak pernah ke Sukorejo.

 

Sedangkan untuk membedakan anggota Hizbullah di daerah Situbondo, memang mudah. Menurut beberapa informan, Pasukan Hizbullah ini lebih tertata rapi dan terorganisasi. Seragamnya pun sudah ada, pakaian putih dan celana pendek warna putih.

 

Dalam Pasukan Hizbullah ini, peranan Kiai As’ad amat besar dan cukup menentukan. Bahkan hampir semua gerakan Hizbullah di Situbondo, pasti seijin dan sepengetahuan Kiai As’ad. Hal ini mungkin bisa kita maklumi, sebab di kalangan masyarakat Situbondo yang agamis, kedudukan kiai sangat penting dan berpengaruh. Apalagi kiai sekaliber Kiai As’ad, yang diyakini sangat sakti. Kalau bergerak tanpa seijin kiai, mereka merasa cangkolang (kurang ajar) yang berakibat menimbulkan malapetaka. Beberapa informan, menguatkan dengan cerita beberapa kasus yang berakibat ditembaknya para pejuang, akibat tidak mentaati perintah Kiai As’ad.

 

Apalagi memang Pasukan Sabilillah, menurut Kiai Masykur—Komandan Pusat Sabilillah—merupakan induk dan pengayom Pasukan Hizbullah. Sabilillah bertugas mengawasi gerak Hizbullah agar tidak melanggar syariat Islam dan sebagai operasi mental.

 

Untuk membesarkan pasukan Hizbullah ini, Kiai As’ad menunjuk beberapa orangnya untuk merekrut anggota Hizbullah. Di antaranya Mahla, yang asalnya santri Sukorejo. Bahkan beberapa anggota Hizbullah di daerah Situbondo dan Bondowoso mengaku, ia masuk menjadi anggota Hizbullah karena diajak santri Kiai As’ad dan mereka tertarik kepada Kiai As’ad.

 

Kiai As’ad bersama Kiai Abdus Shomad (salah seorang sepupunya yang menjadi pimpinan seinin dan keibodan dan sering melatih perang-perangan di Gunung Masali), pada zaman Jepang, pernah mengikuti kursus militer di Jember; secara sembunyi-sembunyi tanpa pamitan kepada Kiai Syamsul. Akhirnya, Kiai Abdus Shomad lulus dan akan di kirim ke Bogor. Sedangkan 15 santri Sukorejo yang lain, yang lulus hanya 3 orang.

 

Sebelum berangkat ke Bogor (pusat latihan Hizbullah), Abdus Shomad pulang ke Sukorejo. Setelah itu, ia dimarahi oleh Kiai Syamsul karena pergi tanpa pamit. Sedangkan Kiai Syamsul sangat membutuhkan keberadaannya. “Banyak orang yang memilih menjadi tentara tapi tidak ada yang memikirkan menjadi kiai. Saya tidak akan membuat serdadu tapi akan membuat kiai,” ujar Kiai Syamsul setelah mengetahui keponakannya itu mau ke Bogor.

 

Akhirnya Abdus Shomad menggagalkan rencananya. Sebagai penggantinya, ada seorang santri yang memang berniat menjadi tentara yaitu Abdus Syakur. Akhirnya di kartu pengenalnya, foto Abdus Shomad diganti dengan foto Abdus Syakur sedang yang lain, termasuk namanya tetap tidak diubah. Setelah datang dari Bogor, Abdus Syakur ini melatih para anggota Hizbullah di Banyuwangi.

 

Penulis merasa kesulitan untuk melacak lebih mendalam, sampai sejauh mana peranan Kiai As’ad dalam Pasukan Hizbullah ini. Apakah Kiai As’ad masuk dalam struktur formal—misalnya sebagai komandan Hizbullah Karesidenan Besuki atau sebagai dewan penasihat—atau sekadar pemimpin informal?