Bela Tanah Air Berarti Bela Agama

SYAMSUL A. HASAN Kamis, 17 Agustus 2017 21:09 WIB
52x ditampilkan Berita

Kita tidak boleh lepas dari jiwa patriotisme membela tanah air. Dengan memiliki sikap membela tanah air berarti kita juga membela keberlangsungan pengamanan keagamaan. Kita tidak mungkin dapat menjalankan syariat agama dengan aman dan tentram jika keadaan negara tidak aman. Yang diperjuangankan para syuhada bukan sekadar tanah tempat kita berpijak, namun juga tanah tempat kita beribadah. Maka keamanan, ketertiban, dan stabilitas buah hasil kemerdekaan merupakan karunia yang wajib kita syukuri bersama.

 

Demikian amanah KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo pada acara upacara bendera peringatan kemerdekaan ke-72 di Pondok Sukorejo. Upacara tersebut diikuti ribuan santri Pondok Sukorejo, utusan Ansor dan Banser, TNI, Polri, Polhut, dan yang lainnya. Upacara bendera juga dilakukan di kompleks pesantren putri, untuk ribuan santri putri yang dipimpin ibu nyai. Untuk ribuan santri yang berusia SMP, mengikuti acara pembacaan Al-Qur’an dan tahlil yang dipimpin KH. Muzakki Ridwan.

 

Kiai Azaim berpesan agar kita selalu memperbaiki niat dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia. Kita jangan sampai mencoreng perjuangan para syuhada dan ulama yang telah gigih berkorban jiwa raga untuk negeri ini. Mereka berjuang untuk agama dan bangsa. “Karena itu, kawal negeri ini! Para santri harus tetap mengawal negeri ini menuju ridha Ilahi!” pinta Kiai Azaim.

 

Kiai Azaim meminta agar santri mempelajari sejarah dengan baik, agar tidak salah memahaminya dan mengambil hikmah dari sejarah. Menurut Kiai Azaim dipilihnya waktu untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir. Soekarno bukanlah merupakan suatu kebetulan namun dengan perencanaan yang matang. Pemilihan waktu, penuh dengan simbol, isyarat, dan filosofi yang dalam kandungan maknanya. Misalnya, bulan itu bertepatan dengan Ramadhan. “Kemenangan pasukan Rasulullah atas pertolongan Allah dalam pertempuran Badar terjadi di bulan Ramdhan.Semangat inilah yang kemudian diambil oleh para pejuang kemerdekaan untuk melepaskan negeri ini dari jerat penjajahan,” imbuh Kiai Azaim.

 

Selain itu terdapat jika kita dapat menganalisis, bahwa angka 1 ditambah 7 sama dengan 8 yang merupakan jumlah dari Khulafaur Rosyidun dan Imam madzhab yang empat. Kemudian makna 1945 yang jika ditambahkan angka 4 dan 5 maka berjumlah 9. Lantas ada apa dengan angka 9 yang itu juga merupakan jumlah huruf dari nama negara kita INDONESIA. 9 merupakan jumlah auliya’ yang berajasa dalam perjuangan menyebarkan agama islam di indonesia khususnya tanah Jawa.

 

Menurut Kiai Azaim cara santri dan untuk bersyukur dalam mengisi kemerdekaan dengan cara rajin dan tekun menimba ilmu, tafaqqu fiddin.Sehingga kelak pada saatnya nanti kalian akan menjadi anak-anak bangsa yang akan menggantikan para pemimpin negeri ini dimasa depan. Kawal negeri ini, kawal menuju ridho Allah. “Jangan serahkan negeri ini kepada para koruptor penghianat bangsa yang hanya berbuat demi kepentiangan diri sendiri!” tuturnya.

 

Merah melambangkan darah para syuhada, putih melambangkan tulang pahlawan.  “Mulai saat ini kalian harus terus belajar dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh manfaat dan barokah untuk agama, nusa dan bangsa,” pesannya.

 

Kiai Azaim juga berpesan agar kita jangan pernah melupakan perjuangan ulama’ dan syuhada’ dengan senantiasa bertawasul dan mendoakan mereka. Sehingga sambungan ruhani kita tidak pernah terputus dengan orang-orang yang telah berjasa kepada bangsa dan agama. Karena bangsa yang baik dan besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa pahlawannya.