Sang Deklarator, Hak Asasi Manusia

SYAMSUL A. HASAN Sabtu, 2 Desember 2017 08:40 WIB
1850x ditampilkan Wasiat Kyai Berita

Oleh. KHR. Ach. Azaim Ibrahimy

 

Di penghujung Dzul Qo’dah, tahun kesepuluh dari peristiwa hijrah, kaum muslimin datang berduyung-duyung menuju Madinah, kota cahaya. Suasana begitu ramai, setelah sebelumnya tersiar berita bahwa Baginda Nabi SAW hendak menunaikan ibadah haji di tahun ini. Mereka berasal dari berbagai penjuru daerah, datang dengan membawa kerinduan yang mendalam. Merindukan momen terindah bersama Rasul al-Mushthafa, menunaikan haji dalam bimbingan kekasih yang sangat dicinta. Kerinduan ini telah bertahun-tahun terpendam di benak mereka.

Langit biru cerah, awan putih berarak menambah indah pesona. Hari itu, Sabtu siang usai sholat dhuhur, Rasulullah SAW keluar meninggalkan kota Madinah bersama seratus ribu lebih manusia pergi menuju Makkah, lembah yang berkah, Baitullah, Ka’bah yang mulia. Pergi untuk membimbing umat, mengajarkan agama dan ritualitas ibadah mereka, memenuhi persaksian, menyampaikan amanat, memberi wasiat yang terakhir, dan mengambil sumpah serta perjanjiannya. Menghapus bekas-bekas kejahiliyahan, mengajari yang bodoh, mengingatkan yang lupa, membangkitkan semangat yang malas, dan memberi kekuatan pada yang lemah.

Baginda Rasulullah berhaji hanya sekali, tak pernah melakukan sebelum dan sesudahnya. Momentum tersebut dikenal dengan haji Wada’, karena pada saat itulah baginda menyampaikan ucapan perpisahan, wadda’a (berpamitan) kepada para sahabat Rasulullah SAW yang dengan iman, cinta, dan kesetiaan, mereka telah tulus mendampinginya. Ketika itu baginda bersabda, “Wahai sekalian manusia, dengarlah aku, karena aku sungguh tak tahu, mungkin aku tak akan lagi berjumpa dengan kalian setelah tahunku ini!”

Khalayak ramai yang hadir terkesiap mendengarnya, lalu suasana berganti senyap. Sesaat kemudian keharuan segera menyelimuti hati mereka. Dan pada detik-detik berikutnya tangis pun tak lagi tertahankan, memecah kehiningan.

Di perut lembah tanah ‘Arafah, kala matahari tergelincir ke arah barat. Hari itu hari Jum’at awal Dzul Hijjah, baginda Nabi menyampaikan Khutbah yang begitu monumental, khutbah yang menjelaskan hak-hak asasi manusia. Sebuah mitsaq (perjanjian) yang menetapkan kaedah-kaedah Islam, menghancurkan kaedah-kaedah kemusyrikan dan kejahiliyahan. Menjaga jiwa raga, harta benda, serta harkat dan martabat manusia. Melindungi kehormatan wanita, membela hak dan kewajibannya. Sebuah piagam yang dideklarasikan untuk mengatur interaksi sosial antar umat manusia, jauh sebelum orang-orang mengenal Hak Asasi Manusia (HAM) – kecuali sejak beberapa dekade terakhir ini – yang kemudian di sepakati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga menjadi sebuah ketetapan. Maka, tinta pun kering di atas kertas, menorehkan berbagai hukum dan perundang-undangan.

Sedangkan mistaq yang telah dideklarasikan baginda Nabi SAW pada momentum haji Wada’, telah lama menjadi sebuah sistem yang dilaksanakan, dan undang-undang yang ditetapkan. Kaum muslimin telah mengamalkannya dengan aksi, bukan sekadar basa-basi dan menjadikannya sebagai manhaj mereka dalam hidup, bukan sekadar retorika belaka tanpa efektivitas dalam praktik kehidupan nyata, sebagaimana nasib yang dialami oleh Hak Asasi Manusia dalam sistem dan ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Haji yang dipraktikkan oleh baginda Rasulullah SAW, juga khutbahnya di ‘Arafah dan Mina, sungguh telah menjadi sinar dan cahaya, menerangi jalan manusia menuju bahagia, meraih hidayah. Baginda telah menggandeng erat umat ini, membimbing mereka untuk mencapai  derajat mulia dan sempurna.

Di akhir khutbah, baginda Rasul berwasiat agar umat ini senantiasa berpegang teguh kepada Kitabullah. Selama mereka berpegang teguh kepada Kitabullah tak akan tersesat selamanya. Umat ini bertanggung jawab penuh atas eksistensi dan fungsi wahyu Allah tersebut sebagai pedoman hidup mereka. Maka, ketika baginda Rasul meminta persaksian atas tugas yang telah dilaksanakannya, para sahabat pun dengan segera serentak menjawab, “ kami bersaksi bahwa engkau sungguh telah menyampaikan amanat, engkau sungguh telah menunaikan kewajiban teramat berat, dan engkau telah memberikan nasehat kepada umat!”

Tatkala mendengarnya, raut wajah baginda tampak berseri-seri, menunjukkan betapa bahagia perasaannya. Segera, setelah itu, ia mengangkat jemarinya ke langit, seraya bersabda, “ Allahumma isyhad (Ya Allah, saksikanlah)!” diulanginya sebanyak tiga kali.

Betap berharganya  pesan yang telah disampaikan, betapa luhurnya nilai-nilai yang telah diajarkan sejak keberangkatan Baginda Nabi SAW pergi meninggalkan Madinah, mengendarai unta al-Qashwai’, hingga proklamasinya yang lantang membahana penuh kesungguhan, “Allahumma hajjatan la riya-a fiha wala sum’ah!”

Lalu bertahlil mentauhidkan Allah, menyatakan penghambaan diri kepada-Nya, Tuhan semesta alam, “Labbaik allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, inna al-hamda wa al-ni’mata laka wa al-mulk, la syarika laka!”

Itulah sesungguhnya kalimat iman yang jujur-murni, yang membuka pintu-pintu langit, dan menggema, menggetarkan penjuru bumi. Kalimat yang terucap dari bibir dan terlepas lekas dari tenggorokan orang mukmin. Mereka mengulang-ulangi pekikan kalimat tauhid itu, sambung-menyambung bersama pemimpin agung, rasul pilihan, Nabi akhir zaman, Muhammad bin Abdullah sebagai rahmat bagin semesta alam, yang telah membacakan dan mengajarkan al-Qur’an, kitab suci pembawa kedamaian.

Itulah saat penuh berkah yang pernah tercatat dalam sejarah dan bumi menjadi tempat yang paling berbahagia dengan adanya kholifah tersebut, khalifah orang-orang yang datang untuk memenuhi panggilan ilahi, panggilan Allah Yang Maha Tinggi. Bersama insan mulia yang telah menampakkan kakinya di lembah suci, dialah Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi. Juga bersama delegasi terhormat yang datang ke baitullah al-‘Atiq untuk menyempurnakan rukun Islam sebagai agama yang fitri.

Alangkah nikmat yang agung tiada tara dan risalah yang sangat mulia. Diturunkan dari langit tertinggi kepada penutup para rasul dan nabi, di hari yang paling utama, demi menyambut lahirnya Hak Asasi Manusia, piagam paling berharga di kala bumi menghembus-terbangkan kedhaliman tirani yang merajalela.