“Al-Adzkar Al-Yaumiyyah” Karya Kiai Fawaid

SYAMSUL A. HASAN Selasa, 5 Desember 2017 08:33 WIB
141x ditampilkan Wasiat Kyai Berita

Untuk menyambut Haul Majemuk Masyayikh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo 1439H mendatang, insyaallah kami akan menulis secara serial beberapa karya kitab karangan kiai-kiai Sukorejo. Karya tersebut penting, agar kita mengetahui beberapa pemikiran beliau dan mampu meneladani serta mengamalkan beberapa gagasan dan cita-cita beliau. Beberapa karya tulis tersebut ada yang sudah diteliti oleh beberapa mahasiswa dan dosen.

Bahkan karya dosen tersebut, ada yang mendapat penghargaan dari pihak lain. Misalnya, “Spritualitas dalam Pendidikan Karakter: Teknik Khidmah dan Rihlah dalam Membentuk Kepedulian Para Santri,” karya Ustadz Akhmad Zaini, salah seorang peneliti dari Pusat Pengembangan Psikologi dan Konseling Berbasis Pesantren, yang meneliti tentang kearifan lokal pesantren, mendapat penghargaan terbaik kedua dalam forum National Seminar on Science, Education and Spirituality 2015, Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia &  FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha.

Kami mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah “membumikan” dan mengkontekstualisasikan karya-karya masyayikh Sukorejo. Mereka layak untuk mendapatkan apresiasi, terutama dalam menyambut Haul Majemuk 1439H ini.



“Al-Adzkar Al-Yaumiyyah”, merupakan kitab kumpulan beberapa doa sehari-hari yang kerap dibaca di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Kitab tersebut disusun oleh KHR. Ach. Fawaid As’ad. Kitab ukuran saku tersebut sangat praktis sehingga mudah dibawa oleh para santri, alumni, dan kaum muslimin lainnya.

Kitab doa tersebut berisi istighatsah, ratibul haddad, tahlil, dan semacamnya. Pada kitab “Al-Adzkar Al-Yaumiyyah”edisi lama terdapat beberapa doa yang kerap diamalkan oleh masyarakat. Misalnya Doa Rokat dan Doa Pangrokat.

Doa Pangrokat berasal dari Kiai Abdul Latief, adik Kiai Syamsul. “Doa Pangrokat” berbahasa Arab dan Jawa sehingga agama Islam lebih mudah diterima masyarakat dan “membumi”. Ulama Nusantara tempo dulu memang telah kreatif melakukan “pribumisasi”, termasuk dalam ritual selamatan yang menjadi ciri khas masyarakat sebagai mitra dakwahnya. Misalnya, mereka telah memasukkan teks-teks keagamaan ke dalam bacaan doa ritual selamatan (seperti Doa Pangrokat), sehingga agama Islam lebih membumi dan mudah diterima masyarakat. Ritual khas daerah tersebut sebagai media dalam berdakwah.

Doa Pangrokat dalam kitab “Al-Adzkar Al-Yaumiyyah”, telah dikaji oleh salah seorang peneliti dari Pusat Pengembangan Psikologi dan Konseling Berbasis Pesantren. Hasil penelitiannya, dipaparkan dalam “Second International Symposium on Religious Literature and Heritage 2017”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi, Badan Litbang dan Diklat, Kemenag RI,; dengan subtema “Revitalizing Religious Manuscripts for Empowering National Characters”.

Dalam konteks konseling, Rokat ini dapat dijadikan teknik untuk mengubah perilaku orang menjadi baik dan hidup berkah, terutama orang yang berduka karena tertimpa musibah dan untuk memulihkan diri dari jeratan malapetaka. Doa Pangrokat, dapat sebagai model dalam “indigeneousasi” konseling dan menggiatkan kembali kebersamaan untuk hidup berkat dan sehat.

Penelitian tersebut, memfokuskan kepada kajian struktur teks “Doa Pangrokat” dalam kitab “Al-Adzkar Al-Yaumiyyah” karya Kiai Ahmad Fawaid As’ad dan makna implementasi praktik tradisi Rokat bagi masyarakat Situbondo dalam perspektif konseling. Metode yang digunakan, pendekatan struktural-etnografi. Data berasal dari dokumen dan wawancara mendalam.

Hasil penelitian menunjukkan, Doa Pangrokat tersusun atas komponen-komponen yang membentuk struktur yang disebut doa. Komponen-komponen tersebut  jalin-menjalin secara erat dan sistematis sehingga membentuk satu-kesatuan yang utuh. Dengan menggunakan metode strukrural, kajian ini diarahkan kepada komponen-komponen  yang membentuk struktur Doa Pangrokat yang utuh. Doa Pangrokat terdiri dari tiga bagian; yaitu komponen awal (terdiri dari unsur judul dan pembuka), komponen tengah (terdiri dari unsur tujuan dan tawassul serta unsur harapan), dan komponen akhir.

Sedang, makna implementasi praktik tradisi Rokat bagi masyarakat Situbondo; pertama: terdapat pribumisasi Doa Pangrokat, agar lebih mudah dipahami atau memiliki the internal frame of reference dan supaya lebih khusyu’.   Kedua, riyadhah dan shadaqah, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan penyucian diri: agar jiwa kita lebih sehat dan selamat dari bencana. Riyadhah (termasuk kesalihan ritual) dan shadaqah (termasuk kesalihan sosial) merupakan teknik untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya, yaitu terdapat keseimbangan antara kesalihan ritual dan kesalihan sosial. Ketiga, berjamaah ketika acara Rokat, bermakna bersama-sama untuk beribadah dan bangkit. Salah satu manfaat kumpul bareng adalah saling melakukan penguatan (reinforcement); seseorang yang sedang berduka bila mendapat rangsangan motivasi untuk bangkit bersama dari keterpurukan maka ia akan cenderung untuk bangkit pula. Begitu pula, orang akan tampil lebih baik ketika ia berada di tengah-tengah orang lain. Kehadiran orang lain dapat menjadi pendorong untuk bangkit dari keterpurukan.