“Ekonomi dalam Islam”, Kitab Penyeru Moral Perekonomian Umat

SYAMSUL A. HASAN Kamis, 7 Desember 2017 08:54 WIB
105x ditampilkan Wasiat Kyai Berita

Buku ini berbahasa Madura, ditulis dengan huruf Arab, berukuran 15 x 21,5 cm, tebalnya 31 halaman. Ditulis pada saat malam pemilihan umum yang pertama (1 Jumadil Awal 1375 atau 15 Desember 1955).

Kitab yang aslinya berjudul at-Tajlib al-Barokah fî Fadlî  as-Sa’yi wa al-Harakah tersebut berisikan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits nabi tentang asal-usul kehidupan, bercocok tanam. Dalam masalah ini, Kiai As’ad cukup banyak merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits tentang dorongan bercocok tanam. Misalnya, “Barang siapa yang ‘menghidupkan’ bumi yang ‘mati’, karena percaya  kepada Allah dan karena Allah, maka Allah Taala berhak untuk menolong dan memberi berkat kepada orang tersebut) dan dalam mencari rizki lainnya. Misalnya Misalnya dalam masalah berkarya atau melakukan pekerjaan; Kiai As’ad mengutip sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah Taala mencintai orang mukmin yang ahli kerja."

Dalam risalah tersebut Kiai As’ad  lebih memposisikan diri sebagai penyeru moral, tidak sampai pada tataran konsep strategi ekonomi Islam.

Kiai As’ad memaparkan, penghidupan manusia telah disediakan Allah. Manusia sebagai khalifah di bumi dianjurkan oleh Allah untuk manggali dan mengelola alam ciptaan-Nya sebagai sumber ekonomi; baik di daratan, lautan, udara, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya,

Dalam mengelola sumber-sumber ekonomi yang disediakan Allah, Kiai As’ad menekankan kesesuaian dengan hukum Islam (halal) sehingga, hasil kerja kita bisa dijadikan bekal ibadah kepada Allah menuju kebahagiaan di akhirat. Pada point terakhir, Kiai As’ad mengutip hadits tentang hak buruh, sebagaimana anjuran nabi agar upah buruh diberikan sebelum kering keringatnya.  Di bagian penutup, Kiai As’ad minta kritik dan saran tentang kitab ini.