“Risâlah at-Tauhîd”, Kitab Bekal dari Kiai As’ad untuk Santri dalam Menghadapi Musuh Aswaja

SYAMSUL A. HASAN Senin, 11 Desember 2017 09:00 WIB
948x ditampilkan Wasiat Kyai

Kitab berbahasa Madura ini, tebalnya 42 halaman. Kitab yang ditulis dengan huruf arab ini sebenarnya ditujukan kepada santri Sukorejo yang telah terjun ke masyarakat. Apalagi di masyarakat sekarang muncul beberapa usaha yang merongrong dan menghancurkan Islam. Karena itu santri diharapkan memperdalam agama Islam, terutama ilmu tauhid. Mengapa? Karena tauhid merupakan pondasi dalam beramal, acuan dalam melayani masyarakat, dan dasar amal duniawiyah.

Kitab ini memang berisi tentang ilmu tauhid, namun lebih banyak mengupas masalah tasawuf. Misalnya, membahas tingkatan iman, macam-macam fana fillah, tujuan masuk tarekat, guru tarekat, dan waliyullah. Untuk menguatkan beberapa argumennya, Kiai As’ad merujuk kepada beberapa kitab.

Menurut Kiai As’ad, waliyullah tersebut terdapat dua pengertian. Pertama, wali berarti, orang yang dijadikan kekasih (wali) oleh Allah. “Wali” menurut pengertian ini, mengikuti wazan “fa’îl” yang berarti “maf’ûl”.  Karena itu, wali dalam pengertian ini adalah orang yang dijaga Allah dari dosa besar, dosa kecil, dan hawa nafsu dari mengerjakan maksiat, walau sedetik. Kalau dia mengerjakan dosa secara tidak disengaja, maka dia cepat-cepat bertobat.

Kedua, Wali berarti orang yang selalu taat tanpa sempat melakukan maksiat. “Wali” dalam pengertian ini, berasal dari wazan “fa’îl” yang berbentuk mubalaghah (berlebih-lebihan). Wali dalam pengertian ini, berarti terdapat ikhtiar seorang hamba; karena sangat takut kepada Allah, selalu istiqamah dan tidak malas beribadah dhahir dan batin kepada Allah, tidak ada waktu yang terbuang secara percuma (apalagi dibuang untuk mengerjakan maksiat!). Misalnya dengan memperbanyak shalat sunnah dan mencari nafkah.

Kiai mengingatkan agar kita tidak usah meminta menjadi orang yang keramat dan terkenal. Tapi kita berdoa, agar menjadi orang yang cinta dan ridla kepada Allah. Menurut Kiai As’ad kalau ada seseorang mengaku wali (baik terang-terangan maupun isyarat), sesungguhnya orang tersebut bukan wali.

Konon pada suatu malam, Syaikh Abul Qosim bermimpi mengunjungi sebuah kota metropolis, yang dihiasi umbul-umbul dan penuh kembang serta diiringi irama musik. Syaikh sangat takjub. Ada acara apa? “Malam ini Imam Yahya An-Nawawi sedang naik pangkat menjadi wali quthb,” ujar salah seorang warga saat ditanyakan Syaikh Abul Qosim.

Syaikh bangun. Dia merenungi makna mimpinya, ia merasa heran, sebab selama ini tidak kenal dan tidak pernah mendengar nama Imam Yahya An-Nawawi.  Begitu pula ketika ditanyakan kepada ulama, tidak ada yang mengetahuinya.

Ketika Syaikh Abul Qosim berkunjung ke negeri Syam, beliau diberitahu seseorang alamat Imam Yahya An-Nawawi. Maka Syaikh pun silaturrahim. Saat itu, sang Imam sedang menerima tamu, ketika Syaikh mengucapkan salam. Melihat Syaikh Abul Qosim tersebut, Imam An-Nawawi berdiri dan bergegas mendekat. “Hai Abul Qosim, saya minta tolong agar Anda jangan menceritakan mimpi Anda tersebut ke orang lain. Kecuali kalau saya sudah meninggal,” bisiknya kepada Syaikh.

Lain lagi cerita Imam Abu Yazid Al-Busthomi. Abu Yazid dan santri-santrinya, mengadakan silaturrahim ke seorang imam masjid yang sangat keramat, terkenal, dan dianggap sebagai wali. Setelah mengucapkan salam dan dipersilakan duduk, beliau berbincang-bincang sebentar. Lalu Abu Yazid keluar tanpa permisi.

“Kalian jangan percaya, kalau imam masjid tadi dikatakan wali. Mengapa? Karena dia riya, beramal karena manusia, dan ujub. Sedangkan seorang wali, bukan begitu. Seorang wali itu akan istiqamah menjalankan syariat Islam,”  kata Abu Yazid kepada santrinya di perjalanan.