Pesan Persatuan

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 4 Februari 2018 06:00 WIB
429x ditampilkan Berita

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada paling utamanya para Nabi dan para Utusan. Yaitu Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan atas keluarganya serta para sahabatnya. Amma Ba’du : Kami memuji kepada Allah yang Maha Suci dan Maha Luhur atas segala ni’mat-Nya, bersyukur dengan lisan, bersyukur dengan perbuatan, serta bersyukur dengan perasaan, Atas ni’mat-Nya bisa menteladani dan mengikuti baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Atas ni’mat-Nya terbukanya pintu taufiq dan hidayah, pertolongan serta pelindungan.

 

Sahabat-sahabat para alumni ...

Sejak awal berdirinya, Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo telah menunjukkan perannya secara nyata dalam proses pembentukan dan pembangunan bangsa (nation-building), baik perannya dalam pendidikan islamiyah, penumpasan penjajahan kolonial, memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, serta perannya dalam mengisi kemerdekaan.

 

Di masa penjajahan, kaum pesantren berjuang dengan gigih dan tanpa pamrih untuk membebaskan rakyat dan negeri ini dari penjajahan bangsa kolonial. Kepemimpinan tradisional dalam masyarakat, khususnya kaum santri, berada di tangan para Kiai yang secara tradisi mempunyai kedudukan sebagai pelindung masyarakat, penyebar Agama dan Dakwah Islamiyah. Para Kiai inilah yang memimpin para santri dan masyarakat memberontak dan menentang terhadap kekuasaan kolonial. Setelah masa kemerdekaan, pesantren ikut berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan dengan memposisikan sebagai “benteng moral” bangsa yang berusaha mengikis habis warisan-warisan budaya kolonial. Bahkan dalam memerangi paham komunisme di Indonesia, pesantren terlibat secara fisik dalam penumpasannya.

 

Sejalan dengan perkembangan zaman, peran pesantren sebagai agen perubahan dalam realitas sosial mengalami reposisi dan reaktualisasi. Pesantren dengan tokoh sentralnya para Kiai tidak lagi hanya terbatas melakukan proses rekonstruksi tatanan sosial dan budaya, tetapi juga terlibat dalam proses rekonstruksi tatanan politik di negeri ini. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah menjadi saksi penerimaan asas tunggal Pancasila sebagai ideologi bangsa yang berdampak pada kesatuan NKRI.

 

Pesantren yang dibangun dari sekedar pengajian sorogan itu, kini berkembang hingga pendidikan Perguruan Tinggi, yang para alumninya banyak terserap di masyarakat dan elemen-elemen lembaga pemerintahan, baik Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Eksistensi Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah yang telah memasuki usia satu abad ini tidak terlepas dari pembaharuan dan penyesuaian pesantren dari masa ke masa, yang mengarah pada pandangan dunia dan substansi pendidikan pesantren yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan tantangan zaman, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman serta budaya-adat ketimuran yang terus melekat.

 

Namun demikian, terkadang proses modernisasi sering tampak sebagai suatu perubahan yang memiliki dampak sangat mendasar dan mendalam terhadap struktur nilai yang telah berlaku dalam kehidupan di masyarakat. Tidak mustahil, perubahan tersebut akan menyeret pada sebuah situasi yang semakin menjaukan kita pada nilai-nilai spiritualitas keislaman secara substantif. Untuk itulah, pesantren bukan hanya bertanggung jawab membekali para santrinya dengan pendidikan-pendidikan ke-Islam-an, namun pesantren juga diharapkan mampu menjadi filter yang berupaya merangkum realitas kehidupan dalam jalinan nilai-nilai spiritual dan moralitas Islam rahmatan lil alamin. Sebagai lembaga yang berorientasi pada aspek tafaqquh fiddin, Pesantren secara substansial merupakan institusi keagamaan yang tidak mungkin bisa dilepaskan diri dari masyarakat. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat, dengan posisinya sebagai institusi yang berperan melakukan transformasi sosial bagi masyarakat yang ada di lingkungannya.

 

Koneksitas antara pesantren, alumni dan masyarakat dapat dilihat melalui dua hal, yaitu jasadi dan ruhani. Koneksi Jasadi dapat diartikan dengan intensitas keberlangsungan silaturrahim yang berkesinambungan secara bilateral dengan pesantren (hadir dalam setiap even perayaan hari-hari besar di pesantren), ataupun melanjutkan tradisi “nyantri” dengan menempatkan putra-putrinya di pesantren. Sementara koneksi ruhani adalah kesinambungan ilmiyah, amaliyah dan wasilah yang diamalkan secara konsisten (mengamalkan ilmu yang bersanad, pembacaan rawatibul haddad, dzikir aqaid saeket, qasidah istighasah, qasidah munfarijah, tawassul dll.), serta dapat menjadi transmisi mata rantainya.

 

Sahabat-sahabat para alumni...

Pada masa ini, masa-masa dimana terdapat berbagai macam fitnah. Musibah yang sedemikian besar serta keadaan yang berat yang menimpa umat Islam dengan adanya ancaman perpecahan dan perselisihan. Juga adanya penggambaran penyimpangan untuk menodai Islam dengan praktik yang keluar dari jiwa Islam itu sendiri dan dari sisi kemanusiaan, maka ada baiknya kita senantiasa meneladani apa yang diajarkan oleh para Masyayikh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Tatkala Kiai Syamsul Arifin membabat hutan untuk mendirikan sebuah pesantren, beliau sama sekali tidak menyakiti binatang dan makhluk lain yang dijumpainya, bahkan terhadap yang mengancam nyawa sekalipun. Melainkan beliau memindahkannya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, tanpa memusuhi apalagi mencederai.

 

Secara filosofis, Proses pemindahan yang dilakukan terhadap makhluk-makhluk tersebut diharapkan tidak hanya terjadi terhadap pemindahan secara fisik belaka, namun jauh lebih dari itu, pemindahan makhluk-makhluk tersebut juga diharapkan mampu memindahkan insting (gharizah) hewani yang dimiliki oleh manusia sebagai hayawan an-natiq yang hidup di areal babatan tersebut dan merubahnya menjadi manusia yang lebih beradab. Dimana perbedaan mendasar antara manusia dan hewan adalah memiliki hati dan akal. Dengan hati manusia dapat memiliki dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. dan dengan akal manusia dapat meningkatkan kebutuhan berdasarkan instrumen yang dapat merubah pola hidup. Sehingga dengan keseimbangan hati dan akal yang dimulai dari masing-masing individu inilah akan tercipta tatanan perdaban ilmiah. Inilah yang menjadi misi awal Kiai Syamsul Arifin dalam mendirikan pesantren Sukorejo dengan memilih hutan yang dihuni oleh binatang buas dan mahluk halus sebagai lokasinya.

 

Demikian halnya dengan dawuh Kiai As’ad, yang menyerukan “tak usah ngalem oreng se tak oning ka kabhenderennah, ben tak olle nyale oreng se tak oning ka kasalaannah” (tak usah memuja orang yang belum diketahui kebenarannya, dan jangan mencela orang yang belum diketahui kesalahannya). Kalimat tersebut mengandung pesan moral bahwa sebagai manusia, kita jangan mudah terhasut, termakan fitnah/berita hoax yang menjerumuskan pada suka atau tidak suka terhadap orang yang kita sendiri belum tahu kesalahan atau kebenarannya. Hal ini hanya akan mebawa dampak perpecahan di masyarakat, bahkan mungkin antar sesama alumni Salafiyah Syafi’iyah sendiri. Inilah yang selalu dihawatirkan dan diwanti-wanti oleh Kiai Ahmad Fawaid As’ad. “Alumni harus solid dan kompak, tunjukkan bahwa Salafiyah Syafi’iyah besar dan alumninya dapat bermanfaat bagi masyarakat”.

 

Maka jadikan momentum reuni alumni dalam rangka haul majemuk ini sebagai ajang silaturrahim untuk mempererat ukhuwah antar sesama alumni dari berbagai daerah dan dari berbagai masa, untuk mewujudkan apa yang menjadi harapan para almarhumin, sebagai wujud kecintaan kita pada beliau semua.

 

Dan semoga Allah memberikan keberkahan dalam kebersamaan kita dan menyatukan hati diantara kita. Membersihkan perkataaan-perkataan dan perbuatan-perbuatan kita dari segala kesalahan, karena sesungguhnya Dia maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan yang berhak mengabulkan segala do’a.