Ma’had Aly Rayakan Ulang Tahun Bersama Prof. Mahfud MD

SYAMSUL A. HASAN Rabu, 21 Februari 2018 08:26 WIB
797x ditampilkan Berita

Pada hari ini, Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, merayakan ulang tahunnya ke-28. Ma’had Aly, merayakan ulang tahun dengan kegiatan ilmiah.

 

Kegiatan tersebut antara lain, Kuliah Umum Fikih Konstitusi dengan narasumber Prof. Dr. Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013 dan Hakim Konstitusi periode 2008-2013); audisi baca kitab kuning, dan tasyakkuran. “Audisi Baca Kitab Kuning sebagai pintu masuk bagi para peminat Ma'had Aly, di mana mereka akan disaring dan yang memenuhi syarat akan dibimbing untuk ikut tes masuk Ma'had Aly Tahun Akademik 2018/2019. Sang juara I, II, dan II langsung diterima tanpa tes,” tutur Ustadz Asmuki, salah seorang pengajar Ma’had Aly.

 

Tentang kelahiran Ma’had Aly, 28 tahun yang lalu; terdapat kisah yang menarik dari Ustadz Abd. Muqsith Ghazali demikian:

 

Pagi itu udara cukup dingin. Matahari baru saja menampakkan wajahnya. Saya bersama ayah sowan ke Kiai As'ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo). Sampai di rumah (ndalem) beliau, Kiai As'ad sedang menerima banyak tamu ulama dari berbagai daerah di Jawa bahkan dari Sumatera dan Kalimantan.

 

Tapi, ada suasana kurang biasa. Kiai As'ad berbicara sambil berlinangan air mata. Rupanya air mata bahagia. Beliau mengisahkan kebahagiaannya karena hari itu bisa melaksanakan salah satu nasehat gurunya, Syaikhuna Cholil Bangkalan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Nasehat gurunya itu adalah agar kelak Kiai As'ad membuat lembaga pengkaderan ulama. Kiai As'ad menamainya Ma'had Aly.

Setelah satu jam mendengarkan nasehat dan kisah sufistik dari beliau, jam 8 pagi kami bergerak ke arah selatan menuju kampus Mahad Aly yang sebentar kemudian akan diresmikan. Saat itu di halaman kampus Mahad Aly sudah berkumpul puluhan kiai lintas generasi. Ada KH Maimun Zubair, KH Hasan Abdul Wafi, KH Wahid Zaini, KH Yusuf Muhammad, dan lain-lain.

 

Kiai As'ad sudah cukup sepuh. Usianya 93 tahun. Karena itu, dalam memberi kata sambutan sebagai tuan rumah dan pengasuh pesantren, Kiai As'ad mendelegasikan pada salah seorang santrinya yang juga lulusan Universitas Madinah, Drs KH M. Hasan Basri, Lc. Kiai Hasan Basri pun naik ke podium mewakili Kiai As'ad.

 

Setelah lima menit memberi sambutan, Kiai Hasan Basri mengutip pernyataan Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din yang menjelaskan perihal ketidakberdayaan sejumlah orang untuk menangkap ayat-ayat Allah yang tak bersuara dan tak beraksara. Ayat-ayat Allah yang tak bisa dijangkau dengan mata kepala, sebab ia hanya bisa diraih dengan mata kesadaran. Al Ghazali berkata;

الذين يعجزون عن قراءة الأسطر الإلهية المكتوبة على صفحات الموجودات بخط إلهى لا حرف فيه ولا صوت الذى لا يدرك بعين البصر بل بعين البصيرة.

 

Mendengar teks Al-Ghazali itu, tiba-tiba Kiai As'ad menjerit kencang sekali. Beliau menangis. Mungkin Kiai As'ad membayangkan dan berharap santri-santri Mahad Aly nanti bukan hanya cakap membaca huruf dan aksara melainkan juga terampil membaca ayat-ayat Allah yang tak beraksara dan tak bersuara.Saya merindukan panjenengan, kiai.