Cicit Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany Sampaikan Wasiat Leluhurnya

SYAMSUL A. HASAN Jumat, 2 Maret 2018 07:01 WIB
628x ditampilkan Berita

Kita senantiasa harus bersikap jujur, menjauhi dusta, dan tidak membedakan-bedakan latar belakang manusia; baik itu terhadap orang kaya maupun miskin dan terhadap muslim atau non muslim.

 

Itulah nilai-nilai etika luhur yang disampaikan Syaikh Sayyid Muhammad Fadil Al-Jailany Al-Hasany ada acara Istighatsah malam Jum’at Manis, tadi malam. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan santri, alumni, dan kaum muslimin lainnya.

 

Syaikh Fadhil menyampaikan dua wasiat Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany. Pertama, “Wahai anak-anakku, kalian harus senantiasa jujur kepada Allah, jujur kepada semua manusia, dan jujur kepada dirimu sendiri.” Karena kejujuran merupakan derajat kedua setelah derajat kenabian.

 

Wasiat kedua, “Wahai anak-anakku, kalian harus senantiasa menjauhi kebohongan!”. Karena kebohongan menduduki derajat kedua setelah kedudukan setan. Jika kalian berbohong maka akan terus berbohong. Kalian akan mewarisi setan. “Ketika kalian akan berbohong, tahan kuat-kuat mulutmu,” imbuh Syaikh Fadhil.

 

Menurut Syaikh Fadhil, cara menghilangkan kebohongan dengan bertakwa kepada Allah, dengan cara beribadah. Obatnya bohong dengan berbuat ikhlas.

 

Cicit Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany tersebut, juga menceritakan akhlak luhur mbah buyutnya yang tidak membeda-bedakan latar belakang manusia. Konon, dulu Syaikh Abdul Qodir Al-Jailany membuka pondok pesantren. Terdapat lima aturan yang diterapkan Syaikh Abdul Qodir. Pertama, semua orang boleh masuk pesantren. Kedua, biaya gratis. Ketiga, pesantren tidak membeda-bedakan latar belakang santri. Semua diterima, baik itu kaya atau miskin; muslim atau non muslim tapi anaknya orang miskin lebih diutamakan. Keempat, tidak boleh memaksa siswa non muslim untuk masuk Islam. Kelima, ada pembagian antara laki-laki dan perempuan.

 

Aturan tersebut sangat dirasa aneh. Maka protes pun dilontarkan oleh masyarakat dan ulama. Namun Syaikh Abdul Qodir Jailany dan para santrinya sabar.

 

Tidak beberapa lama kemudian, santri Syaikh Abdul Qodir membludak. Yang mengikuti pelajaran beliau, sekitar 70-an ribu santri. Walaupun jumlahnya banyak, namun semuanya dapat mengikuti pelajaran Syaikh Abdul Qodir dengan baik. Orang yang duduk di paling belakang, dapat mendengar baik petuah-petuah beliau sebagaimana orang yang duduk di depan.

 

Di madrasah ini, Syaikh Abdul Qodir mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan sampai dhuhur. Setelah dhuhur sampai malam, ia mengajarkan ilmu ekonomi dan ilmu-ilmu sains lainnya.

 

Beberapa bulan kemudian, banyak santri non muslim yang masuk Islam. Mendengar anak-anaknya masuk Islam, ribuan wali murid dan para pendeta protes mendatangi Syaikh Abdul Qodir. Mereka menuntut agar Syaikh Abdul Qodir Jailany menutup madrasah atau mereka akan mengusirnya dari Baghdad.

 

Maka Syaikh Abdul Qodir Jailany memanggil anak-anak mereka. Apakah aku pernah memukulmu untuk memaksa masuk Islam? Mereka menjawab, tidak. Apakah aku pernah membeda-bedakanmu dengan siswa muslim? Mereka menjawab, tidak.

 

Kemudian Syaikh Abdul Qodir berkata kepada para pemerotes tersebut, ayo bertanya kepada anak-anakmu mengapa menyukai Islam!

 

Salah seorang siswa maju dan menjawab; kami melihat pribadi Syaikh Abdul Qodir Jailany lain dengan ulama-ulama lain yang kami lihat. Beliau tidak pernah membedakan kami; antara kaya dengan yang miskin; antara Islam atau yang bukan Islam. Beliau tidak pernah memaksa kami untuk masuk Islam. Akhlak beliau sama dengan akhlak para nabi yang kami pelajari. Kami masuk Islam karena kelembutan akhlak beliau.