Menata Bangsa Dimulai dari Kehidupan Nyata di Depan Mata

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 11 Maret 2018 08:54 WIB
1404x ditampilkan Figur

Kiai Fawaid berjuang ingin melakukan perubahan-perubahan yang bermanfaat bagi umatnya. Perubahan itu dimulai dari sesuatu yang tampaknya kecil dan sepele di depan mata. Bukan sesuatu yang tampak megah, di awang-awang atas langit. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita. Menata bangsa dimulai dari menata kehidupan nyata di depan mata kita.

Dalam menata Sukorejo, Kiai Fawaid telah berbuat dengan apiknya. Misalnya, untuk menjadikan Dusun Sukorejo sebagai kawasan dengan nuansa pesantren yang kental. Kalau kita datang ke Sukorejo setelah shalat magrib, jangan berharap mendapati warung dan pertokoan buka. Mereka tutup sampai setelah shalat isya’. Karena sudah terjadi kesepakatan dengan masyarakat dan pejabat desa, setelah magrib warung dan pertokoan tutup. Waktu magrib digunakan untuk mengaji. Kalau terjadi pengingkaran terhadap aturan itu, pemilik warung akan ditegur oleh keamanan pesantren. Kalau sampai lebih dari tiga kali masih tidak mengindahkan, warung tersebut akan dibaikot. Para santri, dilarang keras membeli ke warung tersebut. Dan bisa ditebak, warung tersebut dengan sendirinya tidak dapat bertahan lama akan pailit.

Di kawasan Sukorejo, Kiai Fawaid memang dapat mendominisasi dan mengendalikan masyakat sekitarnya. Masyarakat seirama dan satu barisan dengan pesantren. Jalinan yang erat antara pesantren dan masyarakat, dibaratkan seperti air dan ikan. Kiai As’ad mengumpamakan pesantren seperti air, masyarakat bagaikan ikannya. Ikan akan mati bila tanpa air. Air pun akan mudah terjangkit benih-benih nyamuk bila tidak ada ikannya. Pesantren dan masyarakat, saling menguntungkan. Masyarakat termasuk benteng pertahanan pesantren, sehingga harus seirama dengan pesantren. “Sejak merintis pesantren ini Kiai Syamsul dan Kiai As’ad sudah melakukan pembinaan, semacam ikatan antara pesantren dengan masyarakat… santri membutuhkan tetangga, tetangga membutuhkan santri,” ungkap Kiai Fawaid pada suatu acara dengan para santri di Masjid Ibrahimy.

Ketika terjun ke dunia politik praktis kemudian Kiai Fawaid bersedia untuk dicalonkan sebagai ketua partai tingkat cabang, banyak orang (terutama alumni) menyayangkan sikap itu. Karena mereka beranggapan Kiai Fawaid sudah pada level nasional bukan lagi lokal.

Dengan penuh kerendahan hati, Kiai Fawaid beralasan ia tergolong baru terjun ke partai politik. Ia harus keyang dulu asam garam kehidupan politik praktis. “Saya tidak mau, hanya karena kebesaran nama Kiai As’ad saya dipastikan menjabat pengurus pusat,” katanya di hadapan pengurus anak cabang ketika rapat di kantor pesantren.

Menurut Kiai Fawaid, tidak menutup kemungkinan walau tokoh lokal tapi selalu menjadi acuan tokoh nasional. Ia mencotohkan sang aba, Kiai As’ad. Kiai As’ad hanya Pengurus Syuriah Cabang NU Sitobondo. Tapi sikap dan pendapatnya kerap menjadi referensi orang-orang atas. Banyak pejabat tinggi dan politisi nasional yang mendatangi Kiai As’ad.

Kiai Fawaid juga beralasan, ia lebih memilih untuk berjuang di level bawah karena ingin dekat dengan masyarakat bawah. Kiai Fawaid ingin bergaul dan mengetahui langsung permasalahan masyarakat akar rumput.

Alasan lain yang amat penting, karena Kiai Fawaid menjaga amanah mengemban Pondok Sukorejo dari abanya. Itulah tugas yang paling utama yang harus ia utamakan dan tak mungkin ditinggalkan. Bagi Kiai Fawaid, kalau sudah diberi amanah ia memiliki komitmen untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan amanah itu. “Saya tidak mungkin melakukan tugas, kalau saya di pusat. Kalau di kabupaten masih mungkin dan lebih mudah,” imbuhnya.

Kiai Fawaid menganggap di tingkatan mana pun kita dapat berjuang dan mengabdi. Dalam pengabdian dan perjuangan, tidak memandang posisi jabatan dan tingkatan. Bahkan di ranting pun, ia mengaku siap. Dalam perjuangan yang paling dipentingkan, apa peran dan bagaimana konstribusi kita bukan di mana tempat dan status posisi kita. Kita mampu berbuat apa untuk perjuangan, bukan tingkatan dan jabatan kita dalam perjuangan. Yang ditekankan fungsi dan manfaat kita, bukan struktur kita. Kita harus melakukan perubahan menjadi lebih baik, dengan tindakan nyata dan itu dapat dimulai dari kehidupan nyata di depan kita!

Dilihat dari sisi historis dan sosiologis, pemikiran Kiai Fawaid yang menata umat mulai dari langkah nyata di depan mata, merupakan gambaran sesungguhnya ia sebagai seorang kiai. Seorang kiai akan melakukan perubahan-perubahan bersama komunitas masyarakatnya. Karena melakukan “bersama” masyarakat, maka tidak ada jarak antara dirinya dengan masyarakatnya. Akan terjalin komunikasi interaktif, bukan komunikasi satu arah. Inilah salah satu kunci sukses kepemimpinan seorang kiai. (sumber buku “KIAI FAWAID: Kepribadian, Pemikiran, dan Perilaku Politik”)