Beda Pilihan Politik, Jangan Rusak Hubungan Baik

SYAMSUL A. HASAN Kamis, 5 April 2018 19:21 WIB
2515x ditampilkan Berita

Kita harus selalu menghormati, menjunjung tinggi, dan menjaga keutuhan guru-guru kita. Jangan sampai gara-gara beda pilihan politik, hubungan kita menjadi retak dengan mereka. Menjaga keutuhan ahlul bait Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sangat penting. Jangan sampai gara-gara hajatan lima tahunan jalinan keguruan yang sudah terbina puluhan tahun menjadi retak dan terpecah belah.

Demikian salah satu wejangan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo kepada para ketua kamar dan umana’ Ma’had, Kamis siang tadi. Penegasan Kiai Azaim tersebut, sebelumnya juga pernah diungkap pada acara Pra Mubes PP Iksass di Kalibaru Banyuwangi beberapa waktu lalu. Menurut Kiai Azaim, dirinya memilih sikap netral dalam pilihan politiknya, untuk menjaga keutuhan keluarga besar Pondok Sukorejo. Bagi Kiai Azaim menjaga keutuhan tersebut lebih penting artinya, untuk perkembangan Pondok Pesantren Sukorejo. Karena sikap kenetralan tersebut, ia rela dicap oleh orang yang tidak menyukainya, sebagai “pemimpin yang abu-abu dan tidak jelas”.

Jalan yang ditempuh Kiai Azaim ini, juga pernah ditempuh kiai-kiai Sukorejo lainnya. Abdurrahman Wahid, dalam buku “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah” menggambarkan dengan cukup apik tentang problem kepemimpinan, termasuk kepemimpinan kiai. Menurut Gus Dur, pemimpin itu harus mempunyai “keberanian moral” untuk ditinggal umatnya. Pada suatu saat, seorang pemimpin harus rela dicerca dan ditinggal umatnya, karena jalan yang ditempuhnya berbeda dengan mereka. Seorang pemimpin, karena jalan yang ditempuh diyakini kebenarannya, harus mempunyai “keberanian moral” untuk berseberangan, dicacimaki, dimusuhi, dan ditinggal para pendukungnya. Hampir semua pemimpin pasti mengalami problem itu.

Kiai Azaim mengharap agar kita menjaga keutuhan dan persatuan tersebut. Di samping itu, kita hendaknya berdoa, “Ya Allah sembunyikanlah aib kekurangan guruku dari (penilaian) ku dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku,”

 

Pada rapat bulanan tersebut, Kiai Azaim juga mengatakan, segala fitnah terhadap umana’ ma’had merupakan ujian bagi militansi mereka. Karena itu ia mengingatkan agar sesama umana’ ma’had saling menguatkan bukan malah membesar-besarkan api fitnah tersebut. “Padamkan dengan doa,” imbuhnya.

Kiai Azaim menganjurkan agar membaca doa:

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ
 

“Ya Allah,satukanlah hati kami dan perbaikilah hubungan kami, tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari jalan kegelapan kepada jalan yang terang dan jauhkanlah kami dari keburukan apa-apa yang nampak ataupun yang tidak tampak.”