Nyai Zai, Potret Kegigihan Seorang Pendidik Pesantren

SYAMSUL A. HASAN Jumat, 6 April 2018 08:08 WIB
275x ditampilkan Profil

Kalau kaum lelaki mendirikan pondok pesantren, barangkali bukan barang asing lagi. Namun kalau kalangan perempuan merintis sebuah pondok pesantren, mungkin masih terasa asing. Bahkan untuk Situbondo, kabupaten yang bermotto “Kota Santri”, pendirian pesantren oleh kaum perempuan ini terasa asing dan masih teramat aneh.

 

Siapa yang melakukan pekerjaan yang masih asing dan ganjil itu? Dialah, Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Ia kaum perempuan pesantren yang merintis sekaligus mengasuh Pondok Pesantren “Salafiyah Syafi’iyah Al-As’adiyah” Asembagus Situbondo. 

 

Inspirasi pendirian pesantren itu, berawal ketika Nyai Zai (sapaan akrabnya) memberikan pengajian di sebuah pelosok pedalaman Dusun Balikeran Desa Kertosari Kecamatan Asembagus. Di sekitar daerah itu kering-kerontang, tanahnya amat gersang, dan sebagian besar gubuk penduduk hampir ambruk. Salah seorang penduduk mengadu, pendidikan keagamaan anak-anak Balikeran kurang memadai bahkan hampir tidak ada yang mau mengurusi. “Inilah yang membuat saya trenyuh. Betul-betul tergolong daerah rawan,” kata putri tertua almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin itu.

 

Setelah pulang ke kediamannya di Pondok Pesantren “Salafiyah Syafi’iyah” Sukorejo, Nyai Zai merasa gelisah. Beban penderitaan, ketidakberdayaan, dan keawaman masyarakat Balikeran masih terasa melekat di pelupuk matanya. Setelah melakukan perenungan, ia bertekad membantu masyarakat pedalaman itu, untuk melakukan pencerahan dan pemberdayaan pendidikan. Tekad itu kian bulat, ketika ia teringat cita-citanya sejak kecil. “Saya mau seperti aba dan ummi. Beliau pejuang yang amat gigih, terutama berjuang dalam bidang pendidikan keagamaan,” kisahnya.

 

Tiada beberapa lama kemudian, sekitar Maret 1999, Nyai Zai mulai merintis pembangunan pondok pesantren di Balikeran. Pondok itu ia beri nama “Salafiyah Syafi’iyah Al-As’adiyah”. Nama “Salafiyah Syafi’iyah” merujuk kepada pesantren peninggalan abahnya di Sukorejo. Sedangkan “Al-As’adiyah” berasal dari nama abah kesayangannya.

 

Nyai Zai, meski putri sulung kiai besar dan tokoh yang amat disegani, bukan berarti dalam proses mengembangkan pesantrennya tanpa mengalami tantangan dan hambatan. Tantangan itu datang silih berganti. Orang-orang yang menghambat dan membencinya tidak diladeni, dia menghadapi dengan sabar. “Mudah-mudahan orang yang berbuat jelek, akan mendapat hidayah dan cepat kembali kepada jalan yang benar,” tuturnya.

 

Namun diakui atau tidak, kehadiran pesantren itu betul-betul dirasakan manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Jalan yang dulunya becek sekarang berubah menjadi licin beraspal. Daerah yang dulunya berupa tanah gersang, kini di tengah-tengahnya bermunculan asrama-asrama para santri putra-putri. Kawasan yang dulunya sunyi senyap tiba-tiba terdengar syahdu suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan santri putri. “Dusun ini kian ramai saat Jum’at Legi, karena ada pengajian rutin muslimat se-Karesidenan Besuki,” cerita Ustadz Muhammad Kholil, salah seorang ustadz senior Al-As’adiyah.

 

Pondok Pesantren Al-As’adiyah yang berdiri di tanah seluas dua hektar itu, dilengkapi dengan Aula yang cukup besar dan beberapa fasilitas pendidikan. Misalnya, gedung madrasah, masjid, mushalla untuk santri putri, beberapa lokal bangunan asrama santri putra dan putri serta fasilitas penunjang lainnya.

 

Sedangkan pendidikannya, antara lain: Madrasah Ibtidaiyah diniyah, SLTP terbuka, Madrasah Aliyah, tahsinul qur’an, dan pengajian kitab-kitab kuning. Walaupun Al-As’adiyah tergolong baru, tapi tenaga pengajarnya tidak diragukan lagi keilmuannya. “Karena pengajarnya, para ustadz senior asal Pesantren Sukorejo,” ungkap Ustadz Syamsul Arifin, salah seorang pengurus pesantren.

 

Kehadiran Pesantren Al-As’adiyah memang tergolong baru dan sebagian masyarakat masih belum mengetahui keberadaannya. Para santri kebanyakan masih dalam kawasan Situbondo. Sekarang, jumlah santrinya sekitar tiga ratusan. Jumlah santri Al-As’adiyah mengalami pasang surut. “Maklum rata-rata mereka orang pedesaan. Besar sedikit, mereka pulang karena dikawinkan,” tutur Ustadz Kholil.

 

Ustadz asal Kalimantan itu juga bercerita, salah satu keluhan penduduk Dusun Balikeran, termasuk santri Al-As’adiyah adalah masalah air yang tidak memadai. Selama ini, mereka hanya mengandalkan air sungai proyek. Dari sungai inilah mereka mandi dan mencuci pakaian. Sayangnya, sungai itu mengalir hanya empat hari dalam seminggu. Sedangkan sumurnya amat dalam. “Bahkan banyak yang tidak memancarkan air,” keluh Ustadz yang mempunyai anak satu itu.

 

Karena itu, ia berharap agar pemerintah memperhatikan masalah air di Balikeran. Sebab air tersebut sangat dirasakan kebutuhannya oleh masyarakat dan para santri.  “Apalagi wakil bupati Situbondo yang terpilih sekarang berasal dari kalangan pendidikan, Mas!” katanya.

 

Pesantren Al-As’adiyah Asembagus ini sebagai bukti potret kegigihan kaum perempuan pesantren untuk melakukan pemberdayaan terhadap golongan lemah. Kalangan ibu nyai, yang terkesan lemah dan pemegang teguh tradisi salaf di balik dinding pesantren yang kokoh, ternyata tak kalah gigih dengan gerakan kaum feminisme modern atau bahkan perjuangan kaum lelaki. (Syamsul A Hasan, pernah dimuat Majalah Aula, 2005)