Mengenang Tiga Belas Tahun Nyai Zai: Sosok Ahli Dzikir dan Penderma

SYAMSUL A. HASAN Sabtu, 7 April 2018 08:42 WIB
379x ditampilkan Berita

Orang baik, akan selalu dikenang orang banyak. Kemarin, ribuan orang berbondong-bondong mendatangi Haul Almarhumah Nyai Zainiyah As’ad di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Al-As’adiyah Balikeran Asembagus.

Nyai Zai dikenal sebagai sosok yang tak pernah lepas dari tasbih, membantu orang sedang membutuhkan, dan “Beliau selalu memaafkan orang yang berbuat dhalim kepadanya,” ungkap Ust. Muhammad Nasrullah asal Bondowoso yang kemarin memberikan testimoni pada Haul Nyai Zai.

Menurut kesaksian mubaligh yang beretnis Tionghoa tersebut, Nyai Zai dalam kesehariannya selalu memegang tasbih, ini artinya Nyai Zai selalu berdzikir.

Di dalam buku “Antologi Biografi Nyai Zainiyah As’ad”, karya Syamsul A Hasan dan Ning Alum, terdapat kisah yang unik berkaitan dengan tasbih. Nyai Zai bila diberi tasbih oleh orang yang baru datang dari haji tersebut, tasbih itu selalu dipakai untuk wiridan saat malam hari. Dari saking banyaknya tasbih pemberian orang, sampai diperlukan wadah khusus dari kardus. Uniknya, semua tasbih itu terpakai semua secara bergantian. Bila tidak sempat malamnya, biasanya paginya beliau pakai.

Nyai Zai juga tersohor kedermawanannya. Setiap menjelang hari raya, seluruh kerabat dan pembantunya ia belikan pakaian. Nyai Zai juga sering memberikan sesuatu kepada orang lain, terutama anak-anak yatim, janda-janda tua dan kalangan syarifah. Dalam memberi, Nyai Zai tidak perhitungan. “Semakin banyak Anda mengeluarkan, kian banyak pula Anda menerima”, demikian kata orang bijak. Nyai Zai pun demikian, rizki yang ia terima kian melimpah. Namun, Nyai Zai mengeluarkan lagi rizki yang ia terima itu, terutama pada saat lebaran. Setiap anak-anak baik yatim maupun bukan dan  kaum janda yang berjubel menyowaninya, tak luput dari pemberiannya. “Umi tidak pernah menyimpannya terlalu lama. Apalagi menabung di bank,” tutur Nyai Us, sebagaimana dalam buku Biografi Nyai Zai.

Nyai Zai kerap melakukan lawatan terhadap ibu-ibu yang baru melahirkan dan mendoakan si jabang bayi agar menjadi anak yang sholeh-sholehah, juga melakukan ta’ziyah. Barangkali, hal ini sesuai dengan anjuran-anjuran yang telah ia sampaikan kepada santri-santrinya. Ia selalu berpesan, apabila para santrinya ingin memiliki banyak teman, mereka harus membantu orang yang ditimpa kesulitan dan musibah. Umpamanya seseorang yang ditinggal mangkat anggota keluarganya.

Namun Nyai Zai, meski putri sulung kiai besar dan tokoh yang amat disegani, bukan berarti dalam proses mengembangkan Pesantren Balikeran tanpa mengalami tantangan dan hambatan. Tantangan itu datang silih berganti. Namun orang-orang yang menghambat dan membencinya tidak diladeni, dia menghadapi dengan telaten dan tabah. “Mudah-mudahan orang yang berbuat jelek, akan mendapat hidayah dan cepat kembali kepada jalan yang benar,” do’anya dalam jiwanya yang besar.