Kiai Fawaid Memberi Pelajaran Berpolitik yang Baik

SYAMSUL A. HASAN Senin, 16 April 2018 06:08 WIB
566x ditampilkan Berita

Setiap sesuatu ada masanya dan setiap masa ada tantangannya tersendiri. Kita hendaknya bijak dalam memandang dan membaca sesuatu peristiwa politik, dan pembacaan tersebut tidak boleh sepenggal-penggal.

Demikian salah satu nasihat penting KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan salah satu penulis biografi “Kiai Fawaid As’ad: Kepribadian, Pemikiran, dan Perilaku Politik” dalam acara bedah buku yang diadakan PAC GP Ansor dan Majelis Ratibul Haddad Kecamatan Gerokgak Bali kemarin. Acara tersebut juga dihadiri Syamsul A Hasan, penulis kedua buku biografi Kiai Fawaid dan ratusan peserta.

Menurut Kiai Azaim, pada saat Kiai Fawaid terjun ke politik praktis, kondisi saat itu terjadi eforia dalam dunia politik karena baru terlepas dari jeratan orde baru. Orang berlomba-lomba terjun ke partai politik. Kiai Fawaid juga terjun ke partai politik dan ingin memberi pelajaran kepada semua orang, terutama para santrinya, bahwa politik dapat dijadikan sarana untuk berdakwah dan mencapai kemashalatan umat bukan untuk kepentingan ambisi pribadinya. Kiai Fawaid memberi teladan masuk ke partai politik secara baik dan benar. “Misalnya, beliau mengkritik keras politisi yang bermental ‘melacurkan diri’ dengan menjual NU dan pesantren untuk kepentingan pribadinya; politisi yang tidak memiliki jati diri,” imbuhnya.

Dengan demikian, buku “Kiai Fawaid As’ad: Kepribadian, Pemikiran, dan Perilaku Politik” menjadi penting untuk dibaca. Apalagi bagi santri Sukorejo yang sedang bergelut di partai politik agar menjadi pegangan.

Dalam pandangan Kiai Azaim, Kiai As’ad telah menjadi guru, termasuk guru politik, yang baik bagi Kiai Fawaid dan dirinya. Setiap ada tamu-tamu penting, Kiai As’ad menyuruh Kiai Fawaid dan Kiai Azaim untuk berpakaian rapi dan mendampinginya dalam menerima tamu tersebut. Namun mereka tidak diperkenankan untuk ikut berbicara. “Mbah As’ad memberikan pelajaran dengan bahasa tubuh. Saat itu saya tidak mengerti apa-apa namun baru mengerti sekarang manfaatnya,” imbuhnya.

Dalam penilaian Kiai Azaim, pola komunikasi antara Kiai As’ad dan Kiai Fawaid lebih menampakkan sebagai pola komunikasi antara seorang kiai dan santri daripada seorang ayah dan anak. Hal ini dapat dimaklumi, karena perbedaan usia yang sangat jauh. “Bahkan kepada sang umi, Kiai Fawaid kecil, ikut-ikutan keponakannya memanggil mbah. Karena usia yang umi sudah sepuh. Kiai Fawaid malah akrab dengan Nyai Zai dan Kiai Dhofier,” kenang Kiai Azaim.

Namun terlepas dari masuknya Kiai Fawaid ke dunia politik praktis, dunia beliau sesungguh dunia pondok pesantren. Kiai Fawaid dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren dan tugas utama beliau, sebagai pengasuh pondok pesantren. Dan siapa pun pengasuh pondok pesantren, menurut Kiai Azaim dengan mengutip pendapat KH. Ihya Pujon Malang, adalah kiai yang ikhlas, jujur, dan sungguh-sungguh. “Kalau tidak memenuhi ketiga kreteria tersebut, pasti tidak akan bertahan mengasuh Pondok Sukorejo,” imbuhnya.