Jaga Akhlak di Dunia Maya; Ambil yang Jernih Buang yang Keruh

SYAMSUL A. HASAN Senin, 7 Mei 2018 05:33 WIB
342x ditampilkan Berita

Kita seharusnya menjunjung tinggi akhlakul karimah tak sekadar dalam kehidupan nyata namun juga di dalam berinteraksi di dunia maya. Dalam dunia maya, seumpama media sosial, kita harus tetap menjunjung tinggi etika. Kita jangan menyakiti, mencaci maki, dan melupakan identitas kesantrian kita. Kita harus menyeleksi setiap informasi yang kita peroleh, hati-hati dan kerap melakukan klarifikasi, jangan langsung menerima apa adanya apalagi langsung ikut menebarkan informasi tersebut.

 

Demikian pesan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo kepada ribuan santri yang mau menikmati liburan panjang di kampung halaman masing-masing, tadi malam. Selama di Pondok Sukorejo, para santri dilarang menggunakan media sosial, namun ketika di rumah, sebagian santri generasi mileneal tersebut pasti ada yang menggunakan media sosial. Menghadapi kenyataan tersebut, Kiai Azaim memberikan nasihat kepada para santrinya tentang etika dalam bermedia sosial.

 

Kiai Azaim menekankan pentingnya niat baik dalam bermedia sosial. Kiai Azaim mengharap kepada para santrinya, dalam bermedia sosial kita harus berniat untuk melakukan silaturrahim dengan sesama teman dalam dunia maya. Dengan bermedia sosial, jalinan pertemanan menjadi kian akrab.

 

Santri juga harus menulis status untuk mengajak kebaikan dan mencegah keburukan. “Kita harus berniat menyebarkan ilmu, niat berdakwah,” imbuhnya.

 

Karena itu, tulisan-tulisan para santri harus mencerahkan dan menyejukkan. Para santri dalam menulis status harus menggunakan sumber rujukan yang baik dan benar. Kita harus menghindari sumber berita yang menyesatkan, hindari kabar hoax. “Kita harus teliti dan melakukan klarifikasi dulu sebelum meng-share status,” tambahnya.

 

Menurut Kiai Azaim, tidak semua peristiwa yang benar, baik untuk disebarkan. Tidak semua peristiwa, baik untuk dipublikasikan. Kita harus bijak dalam menulis sesuatu; kita harus menimbang asas manfaat dan bijak membaca situasi peristiwa tersebut. “Apalagi menyangkut aib seseorang,” ungkapnya.

 

Begitu pula sebaliknya, tidak semua peristiwa buruk, buruk untuk diberitakan. Kadang-kadang kita perlu untuk mempublikasikan peristiwa tersebut agar menjadi perhatian dan renungan bersama; terutama kalau menyangkut kedhaliman dan ketidakadilan. Misalnya, kita meng-share peristiwa ketidakadilan di Palestina.

 

Dalam menulis status atau mengomentari orang lain kita harus tetap menjunjung tinggi sopan santun. Jangan menghina orang lain atau mencaci maki. Apalagi orang itu tergolong alim dan cukup sepuh; kita harus menghormati orang tua. Boleh jadi orang tersebut, ucapan atau sikapnya khilaf atau pemberitaan yang kurang utuh. “Kita harus mendoakan beliau, jangan ikut mencaci,” ucapnya.

 

Kita tidak boleh ikut nyinyir atau mengolok-olok orang lain. Kalau ada orang lain yang tidak sevisi dengan pesantren kita, kita harus klarifikasi dulu kepada pengurus pesantren; tentang langkah-langkah kita. Bukan langsung menyerang mereka.

 

Dengan demikian, berakhlak mulia juga harus diterapkan di dunia maya. Apalagi, sebentar lagi bulan Ramadhan. Jangan sampai nanti puasa kita menjadi sia-sia, karena perbuatan fitnah, caci maki, dan sikap nyinyir kita. “Ambil yang jernih, buang yang kotor,” pesan Kiai Azaim.