Surat Pindah Domisili Santri, Tak Terkait Arahan Pilihan Politik

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 13 Mei 2018 08:45 WIB
1675x ditampilkan Berita

KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo mengatakan, Pondok Sukorejo meminta agar para santri Sukorejo ketika kembali lagi sehabis liburan Ramadhan dengan membawa surat pindah domisili untuk menjaga pondok Sukorejo. Surat pindah domisili tersebut tak terkait Pilkada Jawa Timur. “Surat tersebut bukan untuk mengarahkan pilihan santri Sukorejo untuk memilih calon tertentu,” ungkap Kiai Azaim.

 

Menurut Kiai Azaim surat domisili tersebut untuk menjaga kewibawaan Pondok Sukorejo dalam berpartisipasi pada Pilkada. “Tolong sampaikan ini kepada para walisantri,” imbuh Kiai Azaim kepada para peserta Mubes.

 

Sebelum itu, pada acara Dialog dengan peserta Mubes, Kiai Azaim ketika ditanya pilihan sikap politiknya dalam Pilgub Jawa Timur, ia memilih sikap netralitasnya. Ia kembali menegaskan: kita harus selalu menghormati, menjunjung tinggi, dan menjaga keutuhan guru-guru kita. Jangan sampai gara-gara beda pilihan politik, hubungan kita menjadi retak dengan mereka. Menjaga keutuhan ahlul bait Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sangat penting. Jangan sampai gara-gara hajatan lima tahunan jalinan keguruan yang sudah terbina puluhan tahun menjadi retak dan terpecah belah.

 

Menurut Kiai Azaim, dirinya memilih sikap netral dalam pilihan politiknya, untuk menjaga keutuhan keluarga besar Pondok Sukorejo. Bagi Kiai Azaim menjaga keutuhan tersebut lebih penting artinya, untuk perkembangan Pondok Pesantren Sukorejo.

 

Berikut, cuplikan pengarahan Kiai Azaim dalam menyikapi tahun politik:

 

Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai tahun politik, dimana terdapat 171 daerah akan melaksanakan Pemilihan Umum Kepala Daerah secara serentak, dan akan terus berkelanjutan hingga tahun 2019, menghadapi pemilu legislatif dan pemilu pemilihan presiden. Momentum ini tentu sangat berpotensi untuk melahirkan konflik, baik vertikal maupun horizontal, besar ataupun kecil, yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pilihan dan perbedaan kendaraan politik. Keterlibatan dalam konflik akibat pengaruh politik, adalah wujud ketidakdewasaan dalam berpolitik. Untuk itu, Kiai As’ad pernah menyampaikan kepada para santri “pelajari ilmu politik”. Ilmu politik bukan hanya menjadi bekal bagi mereka yang hendak menjadi politisi. Keinginan Kiai As’ad agar santrinya mempelajari ilmu politik supaya mereka melek politik, tidak mudah dibodohi dalam berpolitik, tidak mudah terhasut, dan tidak mudah diadu domba. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Kiai As’ad, Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani berpesan; “Jangan terlibat dalam politik, tetapi jangan bodoh tentang politik”.

 

Terkait Pemilihan Kepala Daerah, ajaran agama Islam cukup lengkap memberikan tuntunan menentukan kriteria calon pemimpin, minimal memiliki sifat ketaqwaan, kejujuran, amanah, fathonah, tabligh (aktif & partisipatif), dan memperjuangkan kepentingan yang dilandasi oleh khidmah (pelayanan kepada masyarakat). Rasulullah SAW bersabda: سيّد القوم خادمهم Pemimpin suatu kaum adalah pelayannya.

 

Islam tidak menghendaki adanya praktik politik yang menciptakan kerusakan dan permusuhan, dengan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi kekuasaan semata. Allah SWT berfirman:  “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad:22)

 

Tafsir Imam Abul Aliyah, Al-Kalby dan Ka’bul Akbar menjelaskan bahwa merebut kekuasaan dapat berdampak pada dua hal negatif:

1. Berbuat kerusakan di bumi.

2. Memecah belah antar saudara muslim.

Sehingga Tim Sukses harus memenangkan dengan segala cara, lebih-lebih dengan politik uang (money politic). Dari sini sangat mungkin dapat terlihat perbedaan yang sangat mencolok bagi calon pemimpin yang dalam kepemimpinannya disebut oleh Rasulullah SAW عليه  كلفت atau عليه أعنت Fakta di lapangan cukup menjadi tolok ukur kita menilai

مابين كَنت الإمارة للخدمة أو التوليي

 

Karena itulah bagi para Alumni Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo cukuplah menjadi pemerhati politik kekuasaan, dan jangan menjadi bancaan politik kekuasaan lima tahunan, hanya karena di balik kita terdapat ummat yang diperebutkan suaranya. Sangat disayangkan jika kita menjadi korban hanya karena perbedaan dukungan, sehingga menjadi saling bermusuhan, yang dapat menjadi hijab (penutup) pada hati kita. Allah SWT:

ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan” (QS. Al-Anfal:24)

 

Hal lain yang tidak kalah penting dalam memberikan dukungan politik adalah kita mendukung siapa, sementara teman politiknya siapa. Dampak shuhbah ini memberikan pengaruh yang sangat kuat:

عن المرءلَتسأل وسل عن قرينه ۞ وكل قرين بالمقارن يقتدي

 

Jangan bertanya tentang jati diri seseorang, bertanyalah tentang siapa temannya. Karena setiap teman mengikuti pada temannya

Tidak berlebihan kiranya, jika praktik politik uang (money politik) bukan saja mencederai cita-cita demokrasi, lebih dari itu dalam pandangan Islam juga merusak tatanan aqidah yang telah tertanam kuat. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin menulis bahwasanya agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar. Agama sebagai pondasinya, dan kekuasaan sebagai penjaganya. Segala sesuatu yang tanpa pondasi akan runtuh, dan segala sesuatu yang tanpa penjaga akan hilang. Prinsip berpolitik yang diajarkan oleh Kiai Ahmad Fawaid As’ad “Jangan sampai menggadaikan apalagi memperjualbelikan akidah dengan uang. Jika ingin berjuang, berjuanglah sungguh-sungguh. Jangan terlintas pamrih sedikitpun”.

 

Tentukan pilihan berdasarkan tuntunan agama dan kehendak hati nurani. Jangan sampai Golput (abstain), namun jangan pula asal memilih. Karena setiap pilihan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak. Apakah membawa pada kebaikan atau justeru membawa pada keburukan. Dalam sebuah Hadits diriwayatkan:

Dari Wabishah bin Ma’bad al-Asady sesungguhnya Raasulullah SAW bersabda kepada Wabishah: “Apakan engkau datang untuk menanyakan tentang kebaikan dan dosa?”. Wabishah berkata: “Aku menjawab, iya”. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya dan memukulkannya ke dada Wabishah sambil bersabda: “Tanyakan kepada dirimu. Tanyakan kepada hatimu, wahai Wabishah”. Beliau mengatakannya hingga tiga kali. “Kebaikan adalah apa yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang membekas dalam jiwa dan membuat hati ragu, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu”. (HR. Muslim).

Mintalah fatwa kepada nafsu muthmainnah yang telah mendapatkan anugerah cahaya Ilahi, guna membedakan antara yang haq dan yang bathil, serta antara kejujuran dan kebohongan.

 

Pemilihan umum sejatinya hanyalah bagian kecil dari upaya mewujudkan demokrasi yang sesungguhnya. Politik praktis hanyalah sarana penyampaian aspirasi masyarakat, sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara, yang konsepnya masih khilafiyah. Oleh karenanya, jangan menghabiskan segala energi hanya untuk kepentingan lima tahunan, terlebih yang masih dalam konteks khilafiyah ini. Berikhtiyar memilih pemimpin jangan sampai pahala ijtihadnya terkikis oleh fitnah (berita hoax) dan namimah (provokasi). Jangan mengadu urat syaraf hanya karena berbeda pilihan. Wujudkan kedewasaan dalam berpolitik, yang lebih menitikberatkan pada politik kerakyatan dan politik kebangsaan. Menjaga persaudaraan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, sebagai amanat yang Allah titipkan kepada kita, ummat Islam di negeri ini, negeri yang diberkahi oleh perjuangan para wali Allah, negeri yang diimpikan sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk terbaik dalam kebersamaan kita. Membersihkan perkataaan dan perbuatan dari segala kesalahan kita. Menjauhkan segala anasir-anasir yang dapat merusak persaudaraan kita. Karena sesungguhnya Allah maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Dan yang berhak mengabulkan segala do’a hamba-Nya.