Santri Harus Berjuang Berpedoman pada Sejarah Kiainya

SYAMSUL A. HASAN Senin, 14 Mei 2018 08:54 WIB
316x ditampilkan Berita

Setelah pulang bermasyarakat dan berjuang bersama masyarakat, seorang santri hendaknya mengamalkan ilmunya yang diserap di pesantren, menjalin komunikasi dengan sesama pejuang masyarakat dan saling memperkokoh perjuangan, serta mengkontekstualisasikan ilmu yang diperoleh di pesantren dengan kondisi masyarakat setempat.

 

Demikian salah satu nasihat KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Ketua Umum Dewan Syuri PP Iksass sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo kepada peserta Mubes IX Iksass. Menurut Kiai Azaim, seorang santri yang ideal adalah sosok santri yang memiliki hubungan kedekatan dengan sang kiai, menyerap ilmunya, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh dari sang kiai.

 

Klasifikasi santri, lanjut Kiai Azaim sambil mengutip dawuh Kiai As’ad, dapat digolongkan menjadi tiga macam. Golongan pertama, santri ongguh (santri sejati) yaitu santri yang sungguh-sungguh belajar dan mengamalkan ilmunya. Golongan kedua, abeu santri (berbau santri) yaitu orang yang tidak pernah mondok tapi sering bersilaturrahim dan mengikuti pengajian kiai serta mampu mengamalkan ilmunya. Golongan ketiga, santri bau; yaitu santri yang pernah mondok tapi tidak mengamalkan ilmunya.

 

Dalam mengamalkan ilmu yang diperoleh di pesantren, menurut Kiai Azaim, santri harus memperhatikan adat kebiasaan masyarakat setempat, sebagaimana pepatah: di mana tempat berpijak di situ langit dijunjung tinggi. Santri harus memiliki kearifan lokal, ia harus menerjemahkan teks-teks kitab yang diajarkan di pesantren dengan realitas masyarakat setempat.

 

Di samping itu santri harus menjalin hubungan dengan pesantren lain dalam berjuang di masyarakat; harus saling mengokohkan perjuangan. “Harus saling bersinergi,” imbuhnya.

 

Santri juga harus tetap menjalin hubungan, terutama hubungan ruhaniyah dengan sang kiai. Seorang santri harus membaca sejarah kiainya dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang dianut kiainya, jangan sampai menyimpang dari jalan yang pernah dijalani sang kiai. Misalnya, para kiai Sukorejo yang selalu berjuang untuk Indonesia bahkan beliau menjadikan Pesantren Sukorejo menjadi pusat perjungan melawan Belanda. Begitu pula, Kiai As’ad yang menerima Pancasila dan menjadikan Pesantren Sukorejo sebagai tempat merumuskan hubungan Islam-Pancasila (dalam Munas NU) dan menerima asas Pancasila (dalam Muktamar NU).

 

Karena itu, jangan sampai santri Sukorejo menyimpang dari jalan yang ditempuh kiai-kiai Sukorejo. Misalnya, mendukung khilafah.

 

Nah di sinilah fungsinya pengurus Iksass. Pengurus Iksass hendaknya mengajak santri Sukorejo yang menyimpang dari ajaran kiainya untuk kembali diajak pada jalan yang benar. “Iksass juga sebagai filter, mesin pembersih santri yang menyimpang itu,” imbuh Kiai Azaim. (BERSAMBUNG)