Berbeda Ijtihad Politik, Jangan Korbankan Hubungan Baik

SYAMSUL A. HASAN Senin, 25 Juni 2018 07:50 WIB
1283x ditampilkan Berita

Semakin tinggi keilmuan seseorang, semakin toleran pula terhadap perbedaan dengan orang lain. Ia akan toleransi dan menghormati orang lain. Karena itu kita harus selalu memperbaiki hubungan kita dengan orang lain, terutama orang-orang tua yang seharusnya kita hormati dan junjung tinggi. Jangan sampai karena persoalan perbedaan ijtihad politik, kita mengorbankan hubungan baik dengan orang lain. Jangan sampai karena persoalan pemilihan yang lima tahunan, kita mengorbankan hubungan baik yang kita jalin selama bertahun-tahun.

 

Demikian salah satu nasihat KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo kepada ribuan pengurus pesantren dan ustadz/ustadzah, pada acara Halal Bihalal kemarin. Karena itu, menurut Kiai Azaim, doa yang diijazahkan kepada pengurus pesantren pada acara Halal Bihalal tahun kemarin, masih relevan dan terus relevan untuk selalu dibaca. Doa tersebut, berbunyi:

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ
 

“Ya Allah, satukanlah hati kami dan perbaikilah hubungan kami, tunjukkanlah kami jalan-jalan keselamatan dan selamatkanlah kami dari jalan kegelapan kepada jalan yang terang dan jauhkanlah kami dari keburukan apa-apa yang tampak ataupun yang tidak tampak.”

 

 

Sementara itu, terkait Surat Pindah Datang bagi para santri Sukorejo, bahwa ketentuan tersebut merupakan suatu bentuk ijtihad penyelamatan dan ujian kepatuhan terhadap aturan pesantren. Sebagai bentuk ijtihad penyelamatan, karena menurut Kiai Azaim, demi tanggung jawab kita untuk mendorong para santri sebagai warga negara untuk memberikan hak suaranya dalam pemilihan umum dengan tetap melaksanakan kewajibannya menuntut ilmu di pesantren.

 

Menurut Lora Fadlail, sekretaris pesantren, seorang santri memiliki kewajiban belajar di pesantren namun di sisi lain, memiliki hak politik dalam pemilihan umum. Jadwal pemilihan umum yang terjadi dalam masa aktif belajar di pondok pesantren, bagaimana pun berimbas pada kondisi belajar para santri. Misalnya, Pilkada yang akan dilaksanakan tanggal 27 nanti, itu berimbas kepada keterlambatan kedatangan para santri yang memiliki hak pilih di daerahnya. Begitu pula, pemilihan umum tahun depan, terjadi pada bulan Sya’ban, sebelum liburan kepulangan santri.

 

Supaya para santri kosentrasi dalam belajar, maka Pondok Sukorejo, memberlakukan ketentuan Surat Pindah Datang. Surat Pindah Datang tersebut sebagai upaya untuk mendidik para santri dalam menggunakan hak politiknya sebagai warga negara namun masih tetap dalam kondisi belajar di pondok pesantren. Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi pendidikan di pesantren bila ditinggalkan ribuan santrinya untuk menggunakan hak politiknya di daerahnya masing-masing. Dengan demikian, tujuan surat pindah datang diberlakukan di Pondok Sukorejo untuk kepentingan bangsa dan untuk kepentingan pendidikan di pesantren.