Tiap Lelaku Kita Niatkan untuk Berdzikir dan Memperbaiki Diri (Catatan Dakwah Kiai Azaim di Kalimantan)

ADMINPESANTREN Kamis, 2 Agustus 2018 08:40 WIB
157x ditampilkan Berita

Mulai tanggal 30 Juli kemarin, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo mengadakan safari Dakwah ke beberapa pelosok Kalimantan Barat. Di samping untuk kegiatan Dakwah, beliau juga mengadakan silaturrahim dengan Rayon Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (Iksass) Kalimantan Barat. Beliau yang juga sebagai Ketua Umum Dewan Syuri PP Iksass itu, didamping oleh Lora Syamsuddin Rusdi (Sekretaris Dewan Syuri) dan Ust. Sunardi (Sekretaris Umum) PP Iksass. Berikut catatan Sunardi, yang mengikuti perjalanan dakwah Kiai Azaim.

 

 

Catatan Hari Pertama: Haflah Imtihan sebagai momentum memperbaiki diri

 

Haflatul Imtihan bertujuan untuk menutup rangkaian proses belajar mangajar selama satu tahun, dan bisa juga dirangkai dengan berbagai jenis lomba. Kegiatan tersebut pada hakikatnya adalah mensyukuri nikmatnya ilmu, hal ini memberikan gambaran bahwa hidup harus ada prestasi di berbagai aspek dengan dimensi dan peran sesuai fungsi masing-masing, yang tujuan prinsipnya adalah mencapai ridho Allah.

 

Hal lain bahwa setiap sesuatu yang diperoleh secara instan, tanpa proses yang matang, maka bisa sukses tanpa pondasi atau jatuh tanpa pertolongan. Maka ujian di madrasah yang didahului dengan proses belajar mengajar adalah sebagai gambaran dalam kehidupan nyata kita sebagai hamba Allah, apakah akan menjadi manusia yang selamat atau celaka baik di dunia maupun di akhirat.
 

 

Catatan hari kedua: Tiga jenis manusia

Ada tiga amal manusia yang tidak pernah putus:

  1. Shodaqoh Jariyah, seperti menanam pohon yg bisa dinikmati dari setiap buah yg ditanamnya, bahkan burung ikut menikmati, maka orang tersebut mendapat aliran pahalanya. Apalagi menanam shodaqoh dalam bentuk bangunan mandrasah, bangunan masjid yg terus bermanfaat utk banyak orang, maka akan mengalir pahala dari shodaqohnya.
  2. Ilmu yg bermanfaat dan bertambahnya kebaikan pada setiap yg menerima ilmu tersebut, maka akan terus mengalir pahala dari ilmu yg bermanfaat. dan setiap ilmu yg bermanfaat akan berpotensi mengangkat derajadnya.
  3.  Anak yg berbakti menjadi do'a yg baik bagi kedua orang tua.

 


Majelis Ilmu tidak hanya menjadi kebanggaan manusia, tapi menjadi kebanggaan juga para malaikat dan jin, karena mejelis ilmu merupakan mulia yang mengantarkan kepada hal-hal yang baik. Keistimewaan Ummat Nabi Muhammad, tidak akan pernah bersepakat pada kesesatan, maka ilmu mencapai keselamatan, maka ikutlah konsensus mayoritas.
 

 

Kisah teladan sang mediator pendirian Jam'iyah Ulama' (Raden As'ad) yang digagas oleh KH. Hasyim Asy'ari dan mendapat restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan, simbol tongkat dan tasbih sebagai simbol strategis dan bermakna ikhtiyar dan do'a.

 

 

Catatan hari ketiga: Niatkan untuk Berdzikir

 

Bersyukur karena kita berkumpul ditempat yang baik dan berkumpul dengan orang-orang baik, Insya Allah penuh keberkahan. Setiap manusia berpotensi dilaknat kecuali mereka yang mendekat, berpasrah dan berdzikir kepada Allah.

 

Setiap sesuatu harus diniatkan untuk menjadi perantara dzikir kepada Allah tentu dalam setiap dimensi kehidupan kita. Setiap dosa yang kita lakukan susuli dengan kebaikan, agar kelak dihadapan Allah tidak menjadi orang yang bangkrut.
 

Ketika seseorang berangkat ke majelis ta'lim, maka para malaikat ta'dhim kepada orang yang menuju majelis ta'lim karena semata-mata mencari ridho Allah, dengan meletakkan sayapnya karena menghormati orang tersebut. Setiap sesuatu yg digunakan untuk menjadi fasilitas dan perantara menuju ibadah, maka fasilitas/tempat tersebut akan terus mengalir keberkahan.

 

Ilmu dan tawadhu' adalah kunci mencapai keberkahan dan dijauhkan dari murka Allah. Ilmu akan menjadi musibah besar bagi seseorang yang berilmu tapi tidak di dasari dengan akhlaqul karimah.