Kiai As’ad: “Di Sinilah Saya Disumpah Jadi Komandan Sabilillah…”

SYAMSUL A. HASAN Sabtu, 4 Agustus 2018 09:48 WIB
1151x ditampilkan Berita

Pada suatu hari, ketika Gus Saiful bersilaturrahim kepada KHR. As’ad Syamsul Arifin, ia diajak jalan-jalan ke kawasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Ketika di depan Masjid Ibrahimy, Kiai As’ad berhenti. Kiai As’ad diam sejenak, seakan-akan menerawang jauh ke masa lalu. “Gus, di sinilah saya dulu disumpah menjadi komandan Sabilillah dengan aba sampean,” dawuh Kiai As’ad kepada sang tamunya.

 

Kiai As’ad pun bertutur, ia bersama sang aba, berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia melalui Laskar Sabilillah.  Laskar Sabilillah merupakan pasukan perjuangan yang dipimpin oleh kiai-kiai pesantren.

 

Demikianlah pitutur Gus Saiful Islam, putra KH. Masykur kepada saya beberapa waktu lalu. Kiai Masykur merupakan komandan Markas Besar Sabilillah, mantan Menteri Agama, dan beberapa jabatan penting lainnya. Kiai Masykur juga pernah berkhidmah di PBNU.

 

Informasi Gus Saiful tentang “pelantikan” Kiai As’ad sebagai komandan Sabilillah, menarik perhatian saya. Keterangan ini menguatkan dan menjelaskan hasil penelitian saya, sebagaimana dalam buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat”.

 

Sekitar tahun 1945, di Pondok Sukorejo pernah diadakan pelatihan “Mubalighin” selama beberapa hari, dengan mendatangkan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur dan PBNU. Yang menjadi pelatihnya antara lain: Kiai Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Masykur.

 

Menurut kesaksian Kiai Chudory (Bekas Kelurahan Pesantren Sukorejo), pada waktu pelatihan tersebut, juga dilatih baris-berbaris yang diikuti para Pasukan Sabilillah dan Hizbullah. Di samping itu, juga para peserta pelatihan diberi ijazah Hizib Rifai, Hizib Nashr, Hizib Sakron, Hizib Bahr, Hizib Autad, Ayat Lima, Ayat Tujuh, Ayat Lima Belas, dan beberapa amalan lainnya.

 

Saya menduga, pada acara pelatihan Mubalighin tersebut, juga diadakan acara pembaiatan pasukan Sabilillah dan mengukuhkan Kiai As’ad sebagai Komandan Sabilillah. Saya tidak tahu persis, jabatan Kiai As’ad sebagai komandan tingkat apa; apakah komandan Markas Sabilillah Daerah Jawa Timur, Markas Sabilillah Karesidenan Besuki, ataukah Markas Sabilillah Kabupaten Panarukan (sekarang, Situbondo). Dari data resmi beberapa anggota veteran Situbondo, Kiai As’ad sebagai komandan Sabilillah kabupaten. Namun dari beberapa dokumen yang lain, Kiai As’ad sebagai komandan Sabilillah Karesidenan Besuki. Bahkan menurut beberapa sumber yang lain, Kiai As’ad sebagai komandan Sabillah Jawa Timur. Namun saya kira, Kiai As’ad tidaklah terlalu mempermasalahkan jabatan itu yang penting ia berjuangan dengan sepenuh hati. Ia tipe orang di balik layar.

 

Barisan Sabilillah ini turut andil dalam pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Mendengar pertempuran di Surabaya yang begitu dahsyat lalu Kiai As’ad mengirim anggota Pelopor dan Pasukan Sabilillah Situbondo ke daerah Tanjung Perak kemudian bertempur hebat di Jembatan Merah. Begitu pula, pengikut Kiai As’ad yang berasal dari Bondowoso, langsung menuju Tanjung Perak kemudian terlibat kontak senjata dengan Belanda di Jembatan Merah. Di sini, Kiai As’ad aktif memimpin.

 

Menurut keterangan dari Gus Saiful, Kiai As’ad dan ratusan santrinya berangkat ke Surabaya melalui laut; yang jaraknya sekitar 1 km dari Pesantren Sukorejo.  Dalam pertempuran Surabaya, Kiai As’ad bermarkas di rumah Kiai Yasin, Blauran IV/25. Rumah Kiai Yasin ini, memang menjadi markas para kiai yang mempunyai ilmu kanuragan tingkat tinggi. Misalnya, Kiai Gufron, Kiai Ridwan, Kiai Ali, Kiai Muhammad Sedayu, Kiai Maksum, Kiai Mahrus Ali Kediri dan beberapa kiai lainnya.

 

Dengan demikian, peran kiai-kiai pesantren sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang untuk agama dan bangsa. Dan tugas kitalah, sebagai santri-santrinya, untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan perjuangan para kiai tersebut.