Jangan Lupakan Pahlawan, Punya Ikatan Ruhaniyah dengan Syuhada

SYAMSUL A. HASAN Jumat, 17 Agustus 2018 09:33 WIB
709x ditampilkan Berita

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, memiliki cara tersendiri dalam memperingati Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus. Pondok Sukorejo mengadakan pembacaan Al-Qur’an dan Tahlil di Masjid sekaligus mengadakan upacara di Kantor Pesantren. Pembacaan Al-Qur’an tersebut untuk mendoakan Pahlawan dan Syuhada. “Sehingga kita memiliki ikatan ruhaniyah dengan para syuhada. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawan,” tutur KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Sukorejo pada upacara kemerdekaan ke-73 RI.

 

Peringatan Hari Kemerdekaan dengan membaca Al-Qur’an tersebut, sudah menjadi tradisi Pondok Sukorejo sejak era KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang pada tahun 2016 mendapat gelar Pahlawan Nasional. Kiai As’ad mengeritik keras orang yang merayakan kemerdekaan dengan hura-hura. “Kita merayakan hari kemerdekaan, dengan cara memperbanyak membaca Al-Qur'an, dzikir, dan shalawat! Jangan seperti kebanyakan orang! Mereka hanya berhura-hura  penuh kemaksiatan!  Mereka sudah lupa arti hakiki peringatan hari kemerdekaan!” begitu dawuh Kiai As’ad, sebagaimana dalam buku ”Wejangan Kiai As’ad dan Kiai Fawaid”.

 

Kiai Azaim sebagai Pengasuh Pondok Sukorejo, tetap memegang tradisi tersebut. Namun pada era sekarang ditambah dengan upacara bendera. Pada upacara bendera tadi, diikuti ribuan santri Pondok Sukorejo, utusan Ansor dan Banser, TNI, Polri, Polhut, dan yang lainnya. Upacara bendera juga dilakukan di kompleks pesantren putri, untuk ribuan santri putri yang dipimpin ibu nyai..

 

Menurut Kiai Azaim, kita tidak boleh lepas dari jiwa patriotisme membela tanah air. Dengan memiliki sikap membela tanah air berarti kita juga membela keberlangsungan pengamanan keagamaan. Kita tidak mungkin dapat menjalankan syariat agama dengan aman dan tentram jika keadaan negara tidak aman. Yang diperjuangankan para syuhada bukan sekadar tanah tempat kita berpijak, namun juga tanah tempat kita beribadah. Maka keamanan, ketertiban, dan stabilitas buah hasil kemerdekaan merupakan karunia yang wajib kita syukuri bersama.

 

 

Kiai Azaim berpesan agar kita selalu memperbaiki niat dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia. Kita jangan sampai mencoreng perjuangan para syuhada dan ulama yang telah gigih berkorban jiwa raga untuk negeri ini. Mereka berjuang untuk agama dan bangsa. “Karena itu, kawal negeri ini! Para santri harus tetap mengawal negeri ini menuju ridha Ilahi!” pinta Kiai Azaim.

 

Kiai Azaim meminta agar santri mempelajari sejarah dengan baik, agar tidak salah memahaminya dan mengambil hikmah dari sejarah. Menurut Kiai Azaim dipilihnya waktu untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir. Soekarno bukanlah merupakan suatu kebetulan namun dengan perencanaan yang matang. Pemilihan waktu, penuh dengan simbol, isyarat, dan filosofi yang dalam kandungan maknanya. Misalnya, bulan itu bertepatan dengan Ramadhan. “Kemenangan pasukan Rasulullah atas pertolongan Allah dalam pertempuran Badar terjadi di bulan Ramdhan.Semangat inilah yang kemudian diambil oleh para pejuang kemerdekaan untuk melepaskan negeri ini dari jerat penjajahan,” imbuh Kiai Azaim.

 

Selain itu terdapat jika kita dapat menganalisis, bahwa angka 1 ditambah 7 sama dengan 8 yang merupakan jumlah dari Khulafaur Rosyidun dan Imam madzhab yang empat. Kemudian makna 1945 yang jika ditambahkan angka 4 dan 5 maka berjumlah 9. Lantas ada apa dengan angka 9 yang itu juga merupakan jumlah huruf dari nama negara kita INDONESIA. 9 merupakan jumlah auliya’ yang berajasa dalam perjuangan menyebarkan agama islam di indonesia khususnya tanah Jawa. 

 

Menurut Kiai Azaim cara santri dan untuk bersyukur dalam mengisi kemerdekaan dengan cara rajin dan tekun menimba ilmu, tafaqqu fiddin.Sehingga kelak pada saatnya nanti kalian akan menjadi anak-anak bangsa yang akan menggantikan para pemimpin negeri ini dimasa depan. Kawal negeri ini, kawal menuju ridho Allah. “Jangan serahkan negeri ini kepada para koruptor penghianat bangsa yang hanya berbuat demi kepentiangan diri sendiri!” tuturnya.

 

Merah melambangkan darah para syuhada, putih melambangkan tulang pahlawan.  “Mulai saat ini kalian harus terus belajar dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh manfaat dan barokah untuk agama, nusa dan bangsa,” pesannya.