Resolusi Jihad dengan Cara Melestarikan Moderasi Islam dan Keutuhan Indonesia

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 21 Oktober 2018 19:39 WIB
326x ditampilkan Berita

Kita perlu mereaktualisasikan semangat Resolusi Jihad sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang. Kita melakukan kontekstualisasi Resolusi Jihad dengan cara menjaga dan melestarikan keutuhan Indonesia dan moderasi beragama sesuai dengan tantangan zaman. Kalau pada zaman lahirnya Resolusi Jihad, Jihad lebih diarahkan kepada pengertian fisik jihad melawan penjajah. Namun Jihad pada konteks sekarang lebih cenderung kepada jihad dalam pengertian non fisik dalam menghadapi ancaman terhadap keutuhan NKRI. Misalnya, ancaman ideologi. Karena itu, penting untuk mengingat kembali “Deklarasi tentang Hubungan Islam dengan Pancasila” yang dicetuskan ulama pada Munas NU 1983 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

 

Demikian salah satu kesimpulan penting dalam acara Halaqah Nasional, “Reaktualisasi Resolusi Jihad NU dalam mempertahankan NKRI”, tadi sore di Pondok Sukorejo. Narasumber Halaqah tersebut adalah KH. Fahmi Amrullah (salah satu cucu KH. Hasyim Asy’ari Pondok Tebuireng Jombang)  dan Prof. Dr. M. Arskal Salim GP (Direktur PTKI Kemenag RI) dan pesertanya para pengurus NU dan kiai se-tapal kuda, dosen dan mahasiswa Universitas Ibrahimy.

 

Menurut Kiai Fahmi, Resolusi Jihad penting perannya bagi bangsa Indonesia. Karena Resolusi Jihad sebagai jawaban atas keresahan Bung Karno menghadapi kedatangan tentara sekutu dan tentara Belanda yang mau menjajah kembali bangsa Indonesia. Maka Jenderal Sudirman menyarankan kepada Bung Karno untuk meminta fatwa Kiai Hasyim Asy’ari. Kemudian Kiai Hasyim Asy’ari mengumpulkan para ulama yang kemudian menghasilkan Resolusi Jihad. “Resolusi Jihad ini hampir dilupakan dan tidak ditulis dalam buku-buku sejarah,” imbuh Kiai Fahmi.

 

Menurut cucu Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, dalam konteks sekarang Resolusi Jihad penting dalam menghadapi perpecahan bangsa akibat ancaman beberapa ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Begitu pula, akibat perbedaan pilihan politik. “Dalam politik kita harus mengedepankan kedewasaan dan kesantunan,” ujarnya.

 

Menurut Prof. Arskal, kita harus melakukan reaktualisasi Resolusi Jihad dengan cara menjaga, merawat, dan melestarikan keutuhan NKRI sepanjang zaman. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, harus memasukkan itu semua kedalam kurikulum. Kurikulum diarahkan untuk memperkuat Islam Wasthiyyah atau moderasi beragama.

 

Menurut guru besar lulusan Pondok Pesantren Darurrahma Jakarta tersebut, konstribusi kita dalam melakukan reaktualisai Resolusi Jihad; pertama dengan cara mengenalkan rasionalisasi dalam beragama. Kita harus berpikir kritis. “Setiap informasi, terutama media sosial, harus kita pikir secara kritis, jangan langsung diterima dan dishare. Harus mempertimbangkan kebenarannya dan kemanfataannya,” tuturnya.

 

Kedua, dengan cara bersikap dari monolog ke dialog. Kita harus membuka diri dan melakukan dialog dengan orang lain. Ketiga, kita harus mempelajari dan menggunakan media dengan efektif. Kita menggunakan media untuk berdakwah sekaligus membentengi diri kita. “Karena itu, para santri harus membuat jejaring dengan semua santri dari berbagai daerah,” imbuhnya.