Kiai Hariri, Mudir Ma’had Aly Sukorejo Wafat

SYAMSUL A. HASAN Rabu, 7 November 2018 20:20 WIB
380x ditampilkan Berita

KH. Hariri Abd. Adhim, Mudir  Ma’had Aly dan Wakil Pengasuh Bidang Maliyah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, tadi siang wafat.  Jenazah Kiai Hariri dishalati setelah shalat asar di Masjid Ibrahimy oleh ribuan santri, alumni, dan masyarakat. “Pondok Sukorejo berduka karena sudah ditinggal oleh Kiai Hariri. Beliau salah satu tiang penyangga Pondok Sukorejo,” dawuh Kiai Afifuddin setelah memimpin shalat jenazah.

 

Kiai Hariri, kelahiran Bulalawang Malang, 8 Maret 1956 dari pasangan Kiai Abdul Adhim dan Nyai Nadhiroh. Kiai Hariri juga terkenal ulama sufi dan dosen tasawuf di Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy. Beliau pengagum Syaikh Abdul Qodir Jailani dan Imam Al-Ghazali. Menurut pengakuannya, beliau tertarik dengan dunia tasawuf semenjak usia 20 tahun. “Karena wawasan tasawuf adalah Allah yang berisi pembersihan jiwa, hati, dan ruh. Ilmu tasawuf itu bersifat amaliyun, perbuatan manusia sedangkan ilmu fiqh bersifat ‘ilmiyun,” alasannya.

 

Perjalanan manusia, tidak ada yang menerka dengan tepat. Kadang-kadang penuh dengan lika-liku yang melelahkan. Begitu pula, dengan Kiai Hariri muda. Siapa sangka ia menjadi kiai yang amat disegani. Padahal ketika kecil, ia hanya sekolah; SD sampai SMA di Malang. “Lain dengan saudara-saudara saya, yang madrasah dan nyantri,” imbuhnya.

 

Bahkan, menurut pengakuannya kepada wartawan TA, sebenarnya, ia tidak suka mondok. Karena santri identik dengan hidup kumuh, kudis, dan koreng. Sedang beliau terkenal dengan hidup bersih.

 

Namun, perjalanan manusia kadang-kadang tidak dapat ditebak. Begitu pula, perjalanan Kiai Hariri berbalik arah, ketika ia bertemu dengan salah seorang kiai Pasuruan. Kiai itu menyarankan agar Kiai Hariri berhenti sekolah dan langsung mondok. Kiai Hariri heran, karena saat itu ia masih kelas II SMA. “Kalau kamu mondok lewat dari tahun ini, maka kamu akan menjadi pedagang” dawuh sang kiai.

 

Kiai Hariri terdiam mendengar salah seorang kiai yang dikagumi itu. Sang kiai menyarankan agar mondok ke Kiai Mustain Ramli Jombang. Namun Kiai Hariri muda matur, bagaimana kalau mondok di Nurul Jadid Paiton. Kiai itu memberi ijin.

 

Di Pondok Nurul Jadid, Kiai Hariri belajar dengan tekun; apalagi ia sadar selama ini ia hanya sekolah umum. Ia belajar ilmu-ilmu dasar keagamaan secara otodidak. Ia menghafal ilmu sharraf dan nahwu. Di Pondok Nurul Jadid ini, Kiai Hariri sampai tamat kuliah Fakultas Dakwah.

 

Setelah itu, Kiai Hariri mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah. Ia pun mengurus semua berkas administrasinya. Sayang, ia gagal ke Timur Tengah karena berkasnya raib. Di tengah kegagalan untuk belajar di Timur Tengah itu, Kiai Hariri mendapat reziki lain. Beliau kemudian nikah dengan Nyai Hajjah Ummi Hani’, salah satu putri Kiai Dhofir Munawwar dan Nyai Zainiyah As’ad.