Alumni Harus Jaga Persatuan dan Tebar Kebaikan

SYAMSUL A. HASAN Kamis, 24 Januari 2019 08:38 WIB
869x ditampilkan Berita

Para alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo diharapkan untuk tetap menjaga persatuan, kedamaian, dan ketentraman. Para alumni juga diharapkan tetap istiqamah untuk mengajarkan kebaikan kepada lingkungannya sesuai dengan kemampuannya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menjaga persatuan dan menebar kebaikan ini, harus dimulai dari niat yang ikhlas dan hati yang bersih.

 

Demikian salah satu hikmah kegiatan Reuni Alumni dan Haul Majemuk, 22-23 Januari kemarin.

“Perbaikan iman akan tampak pada perbaikan hati. Perbaikan hati akan tampak pada perbaikan lisan. Lisan merupakan jurubicara hati. Karena itu, sampaikanlah pesan dengan tepat dan bermanfaat. Sampaikanlah pesan yang damai dan sejuk di tengah-tengah saat suasana yang panas ini,” ujar Kiai Agus Mashuri, salah satu penceramah Haul Majemuk.

 

Kiai Azaim mengingatkan kembali pesan Kiai Syamsul, pendiri Pondok Sukorejo, “Murok ye, Cong! (mengajarlah, Nak!”) kepada para santrinya yang mau pulang ke masyarakat. Kiai Syamsul sangat menginginkan santri Sukorejo mengajarkan dan menularkan nilai-nilai kebaikan yang diperoleh di pesantren kepada keluarga dan lingkungannya. Menurut Kiai Azaim, bila seseorang dengan tangan dan lisannya telah membuat orang bahagia, telah membimbing umat untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil, pasti ia akan mendapat perhatian dari Allah dan Rasulullah. Orang inilah yang akan membuat Rasulullah bangga dan menjadi muslim sejati.

 

Dalam menebarkan kebaikan-kebaikan itu, tentu akan menghadapi rintangan dan tantangan. Hadapilah dengan ikhlas dan lapang dada, tawakkal dan menyerahkan segala penyelesaian kepada Allah. Keburukan seseorang jangan dibalas dengan keburukan juga. Ketika kita membalas keburukan orang lain, hakikatnya kita sedang keluar dari jalan kebaikan. Ketika kita dicaci tapi kita diam, maka seperti diberi hadiah yang kita tolak, maka hadiah itu akan kembali kepada yang memberi, dalam waktu cepat atau lambat. “Dari sinilah akan menunjukkan keluhuran dan budi pekerti yang menyejukkan,” imbuh Kiai Azaim.

.

Menurut Kiai Azaim, hinaan jangan dibalas hinaan agar kita tidak menjadi kelompok para penghina. Cacian jangan dibalas cacian, agar tidak terbentuk para pencaci. Fitnah jangan dibalas fitnah agar tidak terlahir budaya saling memfitnah.

 

Di samping bersihnya hati dan sikap ikhlas kita dalam menebar kebaikan, kebaikan tersebut juga muncul dari dalam keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Menurut Gus Ali, keluarga yang bahagia tercermin dari rumah yang luas nan asri sekaligus hati penghuninya yang lapang; sehingga muncul “baiti jannati, rumahku surgaku”.

 

Kunci sukses pemimpin besar di dunia; sesungguhnya dapat dilihat: siapa ibu yang telah melahirkannya dan siapa istri yang sedang mendampinginya. “Mengapa? Karena pendidikan yang sesungguhnya berawal dari pendidikan di keluarga,” sambung Gus Ali.