Iksass Ikuti Jejak Kiai dalam Menebar Keberkahan untuk Kemashlahatan

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 6 Oktober 2019 08:18 WIB
386x ditampilkan Berita

Pada peringatan ulang tahun ke-31 Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (Iksass), santri alumni Pondok Pesantren Sukorejo hendaknya ikut menjaga, meneladani, mengamalkan, dan melestarikan jejak para masyayikh Sukorejo. Jejak para masyayikh Sukorejo itu, baik masalah wirid yang selalu dibaca di pesantren maunpun sikap dan perilaku berbangsa. Pondok Sukorejo telah mendermakan dirinya sebagai pusat perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dan penerimaan asas tunggal Pancasila. Karena itu, para alumni Sukorejo hendaknya ikut menjadi pelopor pemersatu bangsa, bukan pemecah belah bangsa. Alumni hendaknya, menebar keberkahan untuk kemashlahatan umat dan bangsa.

 

Demikian salah satu dawuh KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang sekaligus menjadi Ketua Dewan Syuri Iksass pada peringatan HUT Iksass tadi malam. Menurut Kiai Azaim pada peringatan HUT Iksass yang bertema, “Menebar Keberkahan untuk Kemashlahatan”, para alumni Sukorejo hendaknya:

 

Pertama, menjaga hubungan baik dengan dzurriyah Pondok Sukorejo. Menjaga hubungan baik ini dengan cara menghormati, menutup aib, dan selalu mendoakan mereka.

 

Kedua, harus pandai belajar kepada organ. Iksass seumpama organ tubuh, merupakan satu kesatuan dengan alumni yang lain. Karena itu harus selalu menjaga dan kompak. Organ juga ada spirit atau ruh, kalau tidak ia berarti mati. Begitu pula Iksass harus memiliki ruh, yaitu hubungan baik dengan para gurunya. Karena itu alumni harus tetap menjaga wirid yang telah diamalkan para gurunya seperti Ratibul Haddad, Istighatsah, Qosidah Munfarijah, dan lain-lain. “Wirid itu semua sebagai tali pengikat antara guru dan murid; sebagai tali pengikat antara tubuh dan ruh,” imbuh Kiai Azaim.

 

Ketiga, harus menjadi pelopor pemersatu umat dan bangsa. Santri Sukorejo selama di pesantren mendiami asrama yang terdiri dari berbagai suku dan beragama umur. Santri Sukorejo diajarkan untuk berinteraksi dengan santri multibudaya. Hendaknya, sikap ini juga dipraktikkan di tengah-tengah masyarakat yang beragam budaya dengan tetap saling menghormati. Karena perbedaan merupakan fitrah yang dibawa sejak kita lahir.

 

Iksass hendaknya lebih matang dan dewasa dalam menyikapi keadaan dan kondisi lingkungan dan bangsa. Iksass hendaknya menjadi pelopor pemersatu bangsa bukan pemecah belah bangsa.

 

Pada HUT kali ini, pengurus pusat Iksass memberikan penghargaan kepada para pelopor dan perintis Iksass. Yaitu kepada KHR. Ach. Fawaid As’ad, KH. Hariri Abd. Adhim, Ust. H. Mudzakkir A. Fattah, Ust. H. Zainal Abidin, Ust. H. Muhyiddin Khotib, dan Ustadzah Hasanah Thohir.