Kiai Muzakki Ridwan, Sosok Pengayom Penghafal Al-Qur’an

SYAMSUL A. HASAN Ahad, 1 Desember 2019 10:36 WIB
856x ditampilkan Berita

K.H. Muzakki Ridwan (62 tahun), Wakil Pengasuh Bidang Amaliyah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tadi malam meninggal dunia. Tadi pagi puluhan ribu santri, alumni, dan masyarakat mengantar kepergian beliau. Shalat jenazah dipimpin oleh K.H. Afifuddin Muhajir dan pembacaan talqin oleh K.H.R. Ach. Azaim Ibrahimy.

 

Di Pondok Sukorejo sosok Kiai Muzakki, tak lepas dengan para penghafal al-Qur’an karena beliau pemangku Ma’hadul Qur’an Pondok Sukorejo. Menurut Kiai Muzakki, sebagaimana penuturannya kepada wartawan Assyarif (1996), gagasan pendirian Ma’hadul Qur’an berasal dari keinginan Kiai As’ad. Namun sampai Kiai As’ad wafat, keinginan tersebut belum tercapai.

 

Keinginan Kiai As’ad tersebut kemudian direalisasikan oleh Kiai Fawaid, sebagai penerus estafet kepemimpinan Pondok Sukorejo, Kiai Fawaid mempercayakan kepada Kiai Muzakki untuk merealisasikan cita-cita Kiai As’ad tersebut. Pondok Sukorejo kemudian mendirikan Lembaga Tahfidzul Qur’an (LTQ) yang letaknya dekat kediaman Kiai Muzakki sekaligus mengangkat Kiai Muzakki sebagai mudir atau pemangkunya.

 

Pendirian Lembaga Tahfidzul Qur’an pada tanggal 5 Mei 1991 dan diresmikan oleh K.H. Wahid Zaini, ketua Rabithah Ma’hadil Islamiyah (RMI) dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo. Pendirian Lembaga Tahfidzul Qur’an dihadiri oleh para kiai dan ulama.

 

Santri Pondok Sukorejo yang menghafal Qur’an, yang semula berada di bawah naungan Jam’iatul Qurro’ Wal Huffadz, kemudian berpindah asrama di Lembaga Tahfidzul Qur’an. Jam’iatul Qurro’ Wal Huffadz yang di Sukorejo berdiri pada tahun 1988 memang merupakan cikal bakal pendirian Lembaga Tahfidzul Qur’an. Lembaga Tahfidzul Qur’an kemudian tumbuh berkembang dan berubah menjadi Madrasatul Qur’an yang sekarang berubah lagi menjadi Ma’hadul Qur’an.

 

Di samping terkenal sebagai pemangku Ma’hadul Qur’an, para santri Pondok Sukorejo dan masyarakat mengenal Kiai Muzakki sebagai kiai yang terkait dengan bidang keamanan pesantren. Dulu, beliau sebagai kepala bidang keamanan. Kemudian seiring dengan perubahan struktur pesantren, beliau menjadi wakil pengasuh bidang amaliyah (yang juga terkait dengan keamanan dan hubungan kemasyarakatan).

 

Dan yang agak “aneh”, Kiai Muzakki termasuk orang kepercayaan almarhum Kiai Fawaid dalam bidang politik. Para politisi Situbondo, pasti mengenal akrab Kiai Muzakki karena kerap bertemu dalam kegiatan politik praktis. Agak “aneh” karena beliau barangkali bukan tipe politisi. Kiai Muzakki termasuk kiai “jalan lurus” yang tidak pandai “berkelit”, tidak pandai menelikung, dan “jujur apa adanya”. Beliau dikenal sebagai kiai “pemimpin doa”, yang menghindari berorasi. Kalau berdoa atau memimpim tahlil, suaranya merdu menyentuh hati.

 

Namun justru dengan “kiai jalan lurus” itulah Kiai Fawaid termasuk mempercayakan dan “melibatkan” Kiai Muzakki dalam politik praktis. Beberapa kegiatan politik atau rapat-rapat yang terkait politik praktis, selalu ditempatkan di kediaman Kiai Muzakki.

 

Dalam diri Kiai Muzakki memang terpancar “kewibawaan” sebagai kiai yang mengurusi ketertiban dan kedisiplinan santri, sosok yang mengayomi santri penghafal ayai-ayat suci Al-Qur’an, dan sosok kiai yang menjalin interaksi dengan para politisi. Barangkali, Kiai Fawaid mengajak Kiai Muzakki bergaul dengan para politisi, agar politisi yang mayoritas santri tersebut, tidak menyimpang dari nilai-nilai kesantrian dan di dada mereka tetap tertanam ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga para politisi membawa politik yang berketentraman, berkedamaian, dan berkesejukan menuju kemaslahatan umat