Santri Balik Bertahap, Diharapkan Aktifitas Pesantren Kembali Normal

SYAMSUL A. HASAN Senin, 1 Juni 2020 09:50 WIB
1086x ditampilkan Berita

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo memutuskan untuk mengembalikan santri secara bertahap; mulai dari pengurus pesantren, ketua dan wakil ketua kamar, dan para santri yang menempuh pendidikan diniyah lebih tinggi. Kebijakan tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan dari berbagai pihak, terutama wali santri yang ingin anaknya secepatnya kembali ke pondok pesantren untuk menimba ilmu.  Pengurus pesantren sebenarnya, memiliki keinginan yang sama dan telah menyusun jadwal kedatangan santri menurut daerahnya masing-masing. “Saya sangat merindukan untuk mengajar santri-santri di madrasah,” imbuh Ustadz Mudzakkir A Fattah, salah satu ustadz senior.

 

Namun disisi lain, Pondok Sukorejo memiliki keterbatasan-keterbatasan apalagi kalau mengacu kepada protoKol COVID-19 yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, Pondok Sukorejo memutuskan kembalian santri secara bertahap. “Sesuatu yang sulit dilakukan jangan menjadi alasan untuk meninggalkan sesuatu yang mudah dilakukan الميسور لا يسقط بالمعسور,” imbuh Kiai Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Bidang Ilmiah Pondok Sukorejo.

 

Menurut Kiai Afif, di masa pandemi covid-19 ini, kita harus menaati protokol kesehatan. Salah satunya adalah social distancing dan physical distancing (jaga jarak). “Hal itu membuat pondok-pondok pesantren yang memiliki santri dengan jumlah besar (tidak sepenuhnya) menerima kembalian seluruh santrinya secara serentak. Yang bisa dilakukan adalah mengembalikan mereka secara bertahap,” tutur Kiai Afisi.

 

Pondok Pesantren Sukorejo yang memiliki santri lebih dari empat belas ribu, memutuskan untuk memulai lagi aktifitas pembelajaran setelah liburan Ramadhan. Pada tanggal 9 Syawal 1441 H atau 1 Juni 2020 pengurus pesantren, pimpinan lembaga, dan umana’  wajib hadir kembali untuk melakukan aktifitas di pesantren. Pada tanggal 15 Syawal atau 7 Juni pada ketua dan wakil ketua kamar wajib berada di lingkungan pesantren. Para santri Madrasah I’dadiyah, Aliyah, Tahfidzil Qur’an, Ma’had Aly, dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy wajib hadir di pesantren. Para pengurus dan santri tersebut wajib menjalani ketentuan dan protokol yang ditentukan pesantren.  misalnya, mereka melakukan isolasi mandiri dan menjalani pemeriksaan kesehatan.

 

Menurut Kiai Afif, santri sebanyak itu cukup sebagai modal untuk menghidupkan kembali aktifitas pesantren yang sempat terhenti. Dengan begitu beliau berharap, pondok pesantren tetap jaya. Kiai Afif menambahkan,  selain wajib taat kepada Allah dan Rasulullah, umat islam juga wajib taat kepada ulil amri. Namun kewajiban taat kepada ulil amri tidak bersifat mutlak, melainkan dengan catatab (qayid) tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dan Rasulullah.

 

Menurut Afif, ulil amri di bidang politik adalah pemerintah (الأمرآء), ulil amri di bidang agama adalah para ahli agama (العلمآء), dan  ulil amri di bidang kesehatan adalah ahli kesehatan (الأطبآء). “Dalam penanganan virus corona harus ada sinergitas antara tiga kelompok tersebut,” tambahnya.