Ribuan Santri Sudah Datang Kembali ke Pondok Penuh Ceria

ADMINPESANTREN Ahad, 26 Juli 2020 09:55 WIB
768x ditampilkan Berita

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo membentuk tim yang bertugas menyambut kedatangan santri. Tim tersebut bernama Tim Penyambutan Santri Lama dan Tes Urine. Salah satu diantara anggota tim tersebut adalah saya, sebagai perwakilan dari unsur Pengurus Pusat Iksass Alumni bersama kawan-kawan yang lain.

Seiring berjalannya waktu, tim ini pun bekerja dan menjalankan amanah sesuai dengan tugas dan fungsi yang diberikan. Penyambutan santri akhirnya dibagi beberapa gelombang sesuai dengan arahan pengurus pesantren. Gelombang kedatangan pertama adalah ketua dan wakil ketua kamar. Kemudian gelombang kedua adalah siswa yang berpendidikan Madrasah Aliyah, Madrasah I’dadiyah, para santri Tahfidz Al-Quran, santri Mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan dan mahasantri Ma’had Aly.

Menyambut mereka dalam situasi pandemi covid-19 ini tentu sesuatu banget, karena ada kekhawatiran bisa tertular penyakit Covid-19. Tetapi sampai keluarnya edaran gelombang ketiga, semuanya sehat wal’afiyah. Total santri yang datang pada gelombang satu dan dua tersebut kurang lebih 2000 santri.

Saatnya bersiap menyambut santri dari berbagai penjuru negeri sampai luar negeri pada kembalian santri gelombang ketiga. Seperti biasa persiapan dilakukan secara matang dan maksimal, rapat persiapan hampir tiap hari dan tiap malam pun dilakukan, bahkan sampai ada ungkapan tiada hari tiada jam tanpa rapat, untuk apa? Untuk memastikan santri yang kembali terlayani dengan baik dan kembali kepesantren dalam kondisi sehat walafiat.

Waktunya pun tiba, jadwal kembali santri sudah ditentukan perdaerah yang dikoordinir oleh pengurus Rayon dan sub Rayon Iksass di wilayah masing-masing dimulai sejak tanggal 15 Juli sampai dengan 25 Juli 2020, sepuluh hari. Santri yang akan kembali pada gelombang ketiga ini berjumlah kurang lebih 12.000 santri. Jumlah yang tidak sedikit.

Tim sudah siap, dan ketua tim Sunardi Muhid membuat List petugas yang harus standby di lokasi penyambutan yakni di Terminal Religi Sukorejo. Tepat pukul 03.00 WIB dini hari, ponsel berdering pertanda ada pesan WA masuk, begitu dilihat ternyata pesan WA dari Ketua TIM yang bunyinya sebagai berikut:

Bismillah, disampaikan bahwa agenda penyambutan besok hari Rabu, 15 Juli 2020, start jam 08.30 Wib, dengan acara :

1. Persiapan Lokasi

2. Pembacaan Rotibul Haddad, Qosidah Istighotsah, Likhomsatun

3. Cek list Meja masing² dan barang² yg dibutuhkan

4. Penjelasan alur Screening Penyambutan

semua tim dan relawan tetap menggunakan protokoler kesehatan

 

Pesan seperti di atas tersebut bisa dipastikan selalu diterima hingga hari kedelapan.

Saya kira wajar, karena alur penyambutan dan scaning kesehatan yang disiapkan tim lumayan panjang. Dimulai dari meja registrasi, lalu scaning medis, verifikasi, kemudian pengecekan data santri, rekomendasi, lalu kebagian jamu herbal yang disiapkan oleh pesantren untuk santri dan terakhir melakukan tes urine. Ada tujuh tahapan yang harus dilalui oleh santri secara berurutan.

 

Waktu penyambutan dan Pemeriksaan

Sesuai dengan jadwal yang dieradarkan bahwa penyambutan dan pemeriksaan dimulai sejak pukul 09.00 WIB. TIM pun sudah bersiap dan memulai dengan pembacaan Haddad, istighatsah dan shalat likhomsatun yang dipimpin langsung oleh Ketua TIM Sunardi Muhib. Santripun berdatangan menggunakan armada Bus dan Mini Bus dari kota/Kabupaten tetangga Bondowoso, Jember dan Banyuwangi untuk santri putra. Kemudian begitu seterusnya hingga santri benar-benar selesai dilakukan scaning kesehatan. Mulai dari mencuci tangan dengan air yang mengalir, lalu masuk terop yang sudah disediakan melewati scaning room, lalu duduk di kursi antrian kemudian melakukan scaning dari meja ke meja sampai selesai.

Waktunya lama? Lama, karena tim harus betul-betul memeriksa dokumen dan riwayat kesehatan santri. Ada dua dokumen penting yang harus disiapkan, pertama, surat pertanyataan bermateri 6000 yang menyatakan bahwa yang bersangkutan benar-benar melakukan isolasi mandiri sebelum kembali kepesantren, sekurang-kurangnya 14 hari, surat pernyataan tersebut harus ditandatangani oleh wali/orang tua dan dibuat di atas sumpah demi Allah.

Kedua, adalah dokumen kesehatan yang menyatakan bahwa santri tersebut bebas dari covid-19 dengan menggunakan metode Rapid Tes/Tes cepat. Jika kedua dokumen itu tidak ada, atau salah satunya tidak ada, maka santri tersebut bisa dipastikan kembali kerumahnya atau minimal wajib mengupayakan bersama penanggungjawabnya menyediakan dokumen tersebut sebagai bentuk tanggungjawab.

Ruwet sih enggak, hanya saja butuh konsentrasi untuk tetap fokus memeriksa dokumen yang harus dibawa oleh santri. ada satu lagi, harus bawa masker minimal tiga buah masker kain, bukan medis. Khusus ini, saya punya cerita sendiri dan akan saya tulis pada lembaran lain.

“Istirahat pukul 12.00 dan buka lagi pukul 13.00 WIB”, silahkan para santri mencari tempat teduh untuk beristirahat dan jangan lupa untuk melaksankan shalat Dhuhur”. Begitu yang disampaikan saudara Daeng Hulaidi setiap hari selama delapan hari, untuk mengingatkan petugas dan santri yang sedang menunggu antrian di luar terop.

Pukul 13.00 di buka hingga pukul 17.00 WIB kemudian istirahat, lalu lanjut lagi pada pukul 19.00 WIB sampai selesai. Kenapa sampai selesai, karena sampai jam berapapun santri datang dimalam hari, pasti dan wajib dilayani agar segera kembali keasrama.

Pernah suatu malam, TIM sudah umumkan untuk tutup pukl 23.00 WIB dan sebagian besar tim juga sudah kembali pulang kerumah masing-masing. Kemudian beberapa saat kemudian ketua TIM kembali mengumumkan bahwa ada rombongan dari pulau Bawean sebanyak 6 Bus memasuki area parkir. Penyambutan dan Pemeriksaanpun dibuka kembali mulai pukul 01.30 WIB dan baru selesai pukul 07.00 WIB pagi hari. Waw ... Tim sebagian besar tidak tidur dan tidak istirahat. Beberapa saat setelah itu, Pesan WA ketua Tim kembali masuk di WA Grup :

BISMILLAH

disampaikan bahwa agenda penyambutan hari ini,  start jam 09.00 Wib, dengan acara :

1. Pembacaan Rotibul Haddad, Qosidah Istighotsah, Likhomsatun

2. Cek list Meja masing² dan barang² yg dibutuhkan

3. Penjelasan alur Screening Penyambutan

Yang betugas tadi malam bisa bergantian dengan tim yang lain.

Hampir setiap hari Tim melayani diluar jam yang ditentukan, baik siang ataupun malam hari, semata-mata memberikan pelayanan maksimal agar santri segera kembali keasrama dan beristirahat.

 

Bagaimana dengan konsumsinya?

Konsumsi TIM dikomandani oleh srikandi-srikandi Pusat iksass. Setiap pagi selalu ada pesan WA di Grup TIM “sarapan sudah siap dikantor iksass, monggo yang belum sarapan” disiang haripun seperti itu, “Makan siang sudah siap” begitupun dengan malam hari. “Bagian medis dari PKM Banyuputih silahkan langsung menuju Geprek Lyla”. Itu dilakukan tiap hari selama depalapan hari. Luar biasa, padahal konsumsi nasi saja setiap beli tidak kurang dari 70 bungkus nasi, karena tidak hanya TIM, tapi ada juga petugas keamanan pesantren yang selalu siap mengawal bersama satrianya diparkiran sampai menuju asrama masing-masing.

Selain nasi dengan menu nasi peccel, sodu, campur dan nasi goreng ada juga menu pemanis seperti coklat, pentol, jihu, es kelapa, es jeruk dan es-es yang lain. Yang pasti kekompakan bagian konsumsi patutu diacungi jempol.

 

Hari dan malam kedelapan itulah waktu yang paling ramai dan banyak menerima santri. Di malam itu sudah tercatat 8.363 santri yang datang pada gelombang ketiga dengan rata-rata yang datang tiap harinya 1.000 santri lebih. Alhamdulillah selesai.

Waktu penyambutan dan pemeriksaan santripun segera berakhir, itu sudah mulai terasa pada hari kesembilan, biasa setiap hari, setiap pagi ada pengumuman dan informasi persiapan, pagi itu tidak terlihat lagi. Suasana yang selalu ramai diarea parkiran, hari itu juga sudah terlihat sepi, hanya ada meja dan kursi yang sudah tersusun tak beraturan. Para petugas keamananpun sudah terlihat sedikit, hanya beberapa pasukan satria yangbertugas menjaga gerbang parkiran. Kebersamaan selama betugas telah memberikan sebuah kenangan. Menjadi bagian dari TIM ini menjadi kebanggaan tersendiri karena akan tercatat dalam sejarah di tahun 2020, disaat pandemi Covid 19 bisa berpartisipasi berkhidmad kepada pesantren.

Saat saya menulis ini, santri masih terus berdatangan dengan diantar orang tua dan juga berkelompok. Sementara santri dengan jumlah yang lumayan banyak seperti dari Raas, Sepudi dan Kengean akan datang secara bertahap mulai tanggal 27 Juli 2020 sampai batas waktu yang belum ditentukan. Hal ini terjadi karena terkendala oleh waktu atau jadwal rapid tes yang disiapkan di daerah masing-masing dan mungkin juga karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Mereka harus nyeberang laut dengan waktu yang tidak sebentar.

Secara umum saya tidak melihat wajah ketakutan dari para santri yg sudah datang. Saya melihat wajah-wajah yang penuh dengan optimisme dan kebahagiaan karena sudah kembali ke bumi mulia dimana mereka menuntut ilmu. Mengurus administrasi di rumah, melakukan isolasi mandiri, kemudian mengikuti pemeriksaan dengan standar yang cukup ketat di pesantren, membutuhkan mental dan fisik yg harus kuat. Luar biasa. Secara pribadi saya sangat terharu dan bangga atas apa yang sudah dilakukan para santri dan orang tuanya.

Pesantren telah siap dengan persiapan maksimal, ikhtiar telah dilakukan semaksimal dan semampu yang pesantren bisa dengan melibatkan semua staceholder termasuk Satgas Penanganan Covid 19 dari tingakt desa sampai tingkat nasional.

Kami yakin, pesantren dan kita semua bisa melalui situasi ini dengan baik dan sukses. Semoga semuanya diberikan kekuatan dan kesabaran serta kesuksesan dalam menjalankan amanah ini. Santri sehat, pesantren hebat, Indonesia kauat dan ummat selamat. Berharap do'a dan barokahnya para guru. Amin... (Yohandi, salah seorang tim penyambutan santri)