Kuatnya Hubungan Hati Pendahulu, Menembus Hati Generasi Penerus (Sukorejo-Blokagung)

ADMINPESANTREN Selasa, 1 September 2020 09:24 WIB
502x ditampilkan Opini

Covid-19 yang menimpa para santri di Pesantren Blokagung ternyata menyadarkan orang pada banyak hal. Salah satunya adalah menyadarkan betapa kuatnya ikatan hati, ikatan batin, ikatan persaudaraan para pendiri dan pengasuh pesantren terdahulu.  Setidaknya itu yang saya rasakan, selaku salah satu pengurus Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi'iyah (IKSASS) Sukorejo, Situbondo, khususnya yang ada di Banyuwangi.

 

Sejak terdengar kabar adanya santri yang terkena Covid-19, bahkan jumlahnya terus bertambah, sahabat-sahabat di WAG pengurus IKSASS langsung berinisiatif menggalang solidaritas. Sebagian ingin menggalang bantuan berupa uang. Ada yang usul berupa barang dan lain sebagainya.

 

Namun belum sempat diskusi selesai, bak gayung bersambut, ternyata ada perwakilan pengurus Pusat IKSASS., Ra Udin, yang telpon kepada Ketua Rayon Iksass Banyuwangi, Haji Mohammmad Yamin. Melalui sambungan telpon tersebut, Ra Udin menyampaikan salam dari Ning Sari (Putri Almarhum almaghfurrllah K.H.R. Fawaid As'ad) sekaligus istri Pengasuh Pesantren Sukorejo, K.H.R. Ahmad Azaim Ibrahimy.

 

Ra Udin menyampaikan, agar para alumni ikut berempati dan solidaritas atas apa yang menimpa keluarga besar Blokagung. Apalagi ada hubungan historis antara Pesantren Sukorejo dan Blokagung.  Bukan hanya itu, Ra Udin juga menyampaikan bahwa Ning Sari minta update perkembangan solidaritas dari para alumni.

 

Mendengar intruksi tersebut, sahabat-sahabat alumni Sukorejo seperti mendapat tambahan vitamin untuk menunjukkan solidaritas dan empatinya.

 

Segeralah digalang iuran. Namun lagi-lagi, ketika proses penggalangan dana masih berjalan, ada telpon lagi yang masuk ke Haji Yamin dari Ra Udin.

 

Intinya menyampaikan salam dari Ning Sari, yang menanyakan perkembangan solidaritas sahabat-sahabat alumni di Banyuwangi. Lagi-lagi mendapat telpon tersebut, sahabat-sahabat kembali berdiskusi.

 

Sebab uang yang terkumpul belum seberapa. Masih banyak alumni yang mau ikut memberikan sumbangannya.

 

Sehingga beberapa sahabat alumni minta agar menunggu beberapa hari lagi untuk menyalurkan bantuan. "Malu kalau cuma sedikit. Tunggu biar banyak dulu," Kata Haji Basir, salah satu alumni yang juga anggota DPRD Banyuwangi.

 

Namun usulan Haji Basir ini ternyata tak diamini oleh semua pengurus. "Yang ada kita salurkan dulu aja. Nggak enak ditanya terus sama Ning Sari" Kata Haji Yamin.

 

Sehingga meski jumlah bantuan belum maksimal, kami pun berangkat menuju Blokagung untuk menyampaikan bantuan sekedarnya.

 

Sebab kami yakin, bukan soal jumlah bantuan yang terpenting. Tapi yang membuat KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy dan Ning Sari tersenyum  bahagia melihat alumni2nya, adalah solidaritas dan empati, atas apa yang menimpa Blokagung saat ini.

 

Benar saja, dalam perjalanan pulang dari Blokagung, masih ada saja yang mengirimkan bantuan melalui rekening bendahara Iksass, dengan menunjukkan bukti transfer di WAG. "Ya wes, bagaimana lagi. Bantuan udah kita antarkan kok masih ada aja yang transfer sekarang. Nanti dipikir lagi," Kata Haji Yamin, sambil tancap gas mobilnya.

 

Terlepas dari itu semua, hal yang membuat kita khususnya saya tersadar, adalah betapa kuatnya ikatan batin para pendiri dan pengasuh pesantren terdahulu.

 

Saat ujian yang menimpa Blokagung datang, antara pengasuh pesantren Sukorejo dan alumninya yang ada di Banyuwangi, saat ini,  memiliki perasaan yang sama. Empati dan Solidaritas!

 

Bahkan dalam acara peringatan 10 Muharram, Kiai Azaim mengajak para hadirin mendoakan agar keluarga besar Blokagung segera lulus dari ujian Covid-19.

 

Ikatan batin antara pengasuh pesantren ternyata bukan hanya terjadi antara Sukorejo dan Blokagung. Pesantren-pesantren lain ternyata juga sama.