Bentuk Jaminan Kesetiaan Kiai As’ad, Bukan Menanggung Dosa Bajingan

SYAMSUL A. HASAN Senin, 5 Oktober 2020 18:09 WIB
677x ditampilkan Berita

Beberapa hari ini, saya mendapat beberapa pertanyaan dari teman-teman tentang dawuh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, salah seorang pahlawan nasional. Mereka mengirim sebuah foto Kiai As’ad dan dawuh, “Asal kamu mau ikut saya, mau berjuang untuk agama Islam dan negara, dosamu akan saya tanggung kelak di akhirat,”

Apa betul itu dawuh Kiai As’ad, Mas?

Silakan lihat di buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat”, jawab saya.

Karena sudah puluhan teman saya yang bertanya, akhirnya saya cek kiriman tersebut dari sumber aslinya. Artikel tersebut, berjudul “As’ad Syamsul Arifin, Kiai Penakluk Bandit” https://www.validnews.id/As---ad-Syamsul-Arifin--Kiai-Penakluk-Bandit-dOY, tertanggal 6 Desember 2019. Jadi cukup lama, namun baru viral sekarang.

Di artikel tersebut tertulis demikian: “Asal kamu mau ikut saya, mau berjuang untuk agama Islam dan negara, dosamu akan saya tanggung kelak di akhirat,” begitu ucapan Kiai As’ad Syamsul Arifin kepada para preman yang diasuhnya.

Pernyataan itu dia sampaikan pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Kiai dari Nahdlatul Ulama (NU) ini, dan para bandit yang diasuhnya, ikut berjuang pada hari itu bersama Laskar Merah Putih. Mereka bersatu berupaya mengusir tentara sekutu dari Indonesia.”

 

Saya telah membaca keseluruhan artikel tersebut. Terdapat beberapa data yang kurang tepat. Saya tidak tahu mereka mengutip dari mana; hanya disebutkan dari berbagai sumber. Saya menduga, sang penulis mengutip dari beberapa media sosial (yang kerap masih dipertanyakan kebenarannya).

Saya penasaran dengan dawuh Kiai As’ad tersebut. Saya cek di Novel Ksatria Kuda Putih, karya Mas Sufi. Mas Sufi tidak menulis demikian. Ia mengutip kalimat aslinya, di buku saya, Kharisma Kiai As’ad demikian:

“Sapa bei bajingan se ngelakone dusa se paling hebat tape norok tang perintah, bung tabung sabbu’ pagik neng akhirat, montada’ e suarge engkok senyareah (Siapa saja bajingan yang berbuat dosa paling hebat pun, tapi ikut perintah saya, kelak di akhirat akan bergabung dengan saya, kalau tidak ada di surga, saya yang akan mencari!)”

Jadi kalimat di media tersebut kurang tepat. Kiai As’ad, tidak menanggung dosa para bajingan. Begitu pula, ucapan tersebut tidak diucapkan pada perang 10 Nopember; tapi saat perekrutan anggota Pelopor. Pelopor ini berdiri sekitar tahun 1920-an.

Dawuh Kiai As’ad di hadapan para bajingan sebagai bentuk jaminan kesetiaan sehidup-semati. Ucapan dari seorang kiai besar bahkan orang yang dianggap wali; yang akan tetap berkumpul di surga kelak merupakan ucapan penyejuk hati yang tiada taranya, bagi mereka. Bagi orang-orang yang dulunya bergelimpangan dosa; bermain curang, suka main perempuan, mencuri, dan menghilangkan nyawa orang-orang yang tak berdosa. Rekes, jaminan sehidup-semati ini sungguh besar maknanya bagi mereka.

Ucapan tersebut, sebagai daya tarik personal.  Kiai As’ad memberikan dorongan semangat (targhib) yang berupa jaminan sehidup semati. Kiai As’ad sering menggunakan teknik targhib ini untuk menundukkan hati para bajingan. Kiai As’ad selalu membangkitkan semangat mereka sekaligus menjamin akan sehidup-semati,

Targhib tujuannya untuk membangkitkan minat dan semangat orang, agar mereka mengerjakan sesuatu yang diinginkan atau untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan. Targhib mirip dengan teknik suggestion, yang merupakan teknik umum pada setiap terapi. Suggestion dapat berarti motivasi dan aksi terapis kepada konseli. Targhib mirip juga dengan konsep reinforcement pada konseling behavioral. Secara psikologis, reinforcement ini sangat penting dilakukan bahkan beberapa peraturan akan efektif bila didukung dengan reinforcement.

Jadi dawuh Kiai As’ad tersebut, sebagai teknik untuk memotivasi para bajingan agar mereka mengikuti Kiai As’ad dalam wadah Pelopor. Pelopor berarti memimpin agama dan memimpin rakyat; bajingan diajak ke jalan Allah dan berjuang ke rakyat. Kiai As’ad mengharapkan, agar anggota Pelopor bisa memimpin karena Allah dan dapat memimpin di jalan Tuhan. Anggota Pelopor juga sangat diharapkan sanggup memimpin masyarakat, membina, dan mampu melindungi umat serta berjuang bersama rakyat.