Peringatan Maulid sebagai Bentuk Mahabbah pada Nabi

SYAMSUL A. HASAN Kamis, 29 Oktober 2020 12:32 WIB
594x ditampilkan Berita

Allah memberi petunjuk kepada manusia untuk menggapai kemulian hidup, melalui kehadiran Nabi dan Rasul-Nya. Kemudian Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam mewariskan petunjuk tersebut kepada para sahabat, tabi’in, tabi’in tabi’in, kemudian kepada para ulama sampai sekarang. Secara hierarki, sanad ajaran agama Islam tersebut bersambung melalui belas kasih dan Rahmat Allah. Barangsiapa yang menyambut ajakan dan bersahabat dengannya, maka hati nuraninya akan hidup dan bersih.

Demikian salah satu hikmah Peringatan Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang disampaikan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, tadi pagi. Acara tersebut diikuti pleh pengurus pesantren dan ribuan santri Salafiyah Syafi’iyah yang disiarkan langsung melalui S3TV dan Media Dakwah, Fakultas Dakwah.

Menurut Kiai Azaim, segala bentuk perintah dan larangan Allah yang disampaikan Rasul-Nya menyimpan banyak keutamaan, kemuliaan, dan hikmah yang mendalam; dan hal tersebut sebagai bekal seorang muslim untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Ketaatan kita kepada perintah dan larangan Allah dan Rasul, akan mengarahkan hidup menuju jalan kebenaran. Kebenaran tersebut hanya akan terlihat dan dirasakan oleh hati orang-orang yang beriman.

Sementara itu, Kiai Afifuddin Muhajir dalam peringatan Maulid Nabi di Masjid Jami’ Pesantren Sukorejo mengatakan, memperingati dan menghadiri acara maulid nabi merupakan bagian dari kecintaan kita kepada Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam. Merayakan hari kelahiran Nabi merupakan ungkapan mahabbah dan rasa ta’dhim kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Menurut Kiai Afif, Perayaan Maulid Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam terdiri dari beberapa rangkaian acara. Antara lain, pembacaan Al-Qur’an, Shalawat Nabi, Sirah Nabi, Mauidhah hasanah, serta pemberian shadaqah. “Substansi maulid adalah ibadah sedang kemasan acaranya adalah sarananya. Kemasan maulid tersebut tidak ada perintah juga tidak ada larangan,” imbuh Kiai Afif.