TOKOH PELOPOR & SABILILLAH (1) Bindere Miskun, Santri yang Berkhidmah untuk Berjuang

SYAMSUL A. HASAN Selasa, 10 November 2020 07:11 WIB
1118x ditampilkan Berita

Ijinkan, kali ini saya akan bercerita sekilas tentang sebagian tokoh-tokoh yang mendampingi K.H.R. As’ad Syamsul Arifin saat berjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Baru kali ini saya tulis kembali, setelah 18 tahun saya pendam. Kisah mereka kami peroleh ketika kami melakukan penelitian tentang “Pelopor: Perjuangan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin mengubah Dunia Hitam Bromocorah Menjadi Putih” yang kemudian dibukukan menjadi Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat (LKIS, 2003). Mereka tidak dapat menyaksikan penganugrahan Kiai As’ad sebagai Pahlawan Nasional, karena mereka; setelah buku Kharisma Kiai As’ad terbit, telah wafat. Namun kisah dan penuturan mereka sangat berguna sebagai pendukung pengajuan gelar pahlawan Kiai As’ad.  Semoga bermanfaat.

 

 

Bindere Miskun, termasuk Pelopor senior era Kiai As’ad. Saya mendapat gambaran yang baik tentang sejarah Pelopor darinya. Ketika pertama kali kami bersilaturrahim ke rumahnya dan mengutarakan untuk mendengar kisah perjuangan Kiai As’ad, ia menolak. Ia khawatir mengurangi keikhlasan dalam berjuang dan terdapat pesan Kiai As’ad agar memendam kisah perjuangannya. Namun setelah kami “bujuk” sambil menunjukkan surat rekomendasi penelitian dari Kiai Fawaid, akhirnya ia melunak.

 

Saya menduga, saat itu usianya sudah 80 tahunan. Namun fisiknya segar bugar. Bicaranya lancar, ingatannya tajam. Orangnya ramah.

 

Ia santri Sukorejo, masih famili dengan Kiai As’ad. Ia mengaku di pesantren termasuk santri “nakal”. Namun justru dengan “kenakalan” itu yang membawanya “keberuntungan”. Kiai As’ad mampu membaca potensi “kenakalan” Bindere Miskun dengan memberinya tanggung jawab merekrut tokoh orang-orang “nakal” di pelosok pedesaan.

 

Bindere Miskun ditugaskan mencari tokoh bajingan dan membawanya ke Sukorejo. Sebelum terjun ke lapangan, Kiai As’ad memberinya semacam “kursus singkat”.

 

Bindere Miskun menaklukkan tokoh bajingan, dengan kesukaan dan kesenangan mereka. Para bajingan senang berjudi, Bindere Miskun pun ikut berjudi dan kerap menang. Karena selalu menang, mereka menanyakan ajimat kemenangannya. Bindere Miskun menjawab, ia tidak memiliki ajimat namun memiliki seorang guru. Kalau tertarik, ia bersedia mengantarkan mereka untuk nyabis ke sang guru. Bindere Miskun kemudian mengantarkan mereka ke Kiai As’ad. “Jadi resep dakwah di kalangan bajingan, harus abejing juga,” imbuhnya.  

 

Menurut Bindere Miskun, beberapa pekan sebelum pertempuran 10 Nopember di Surabaya, ia diajak Kiai As’ad untuk mengikuti pertemuan para kiai di Surabaya. Setelah itu Kiai As’ad, ditemani Bindere Miskun, langsung ke Madura, ke beberapa pesantren dan kiai, untuk mensosialisasikan hasil pertemuan dan memobilisasi massa. Massa tersebut mau dilatih perang, terutama untuk menghadapi Belanda. Sebab mereka sudah mencium gelagat Belanda mau datang dan menjajah Indonesia lagi. Siapa yang paling tepat untuk dilatih?

 

Bagaimana kalau kiai yang dilatih perang? Kurang pas. Kalau kiai disuruh langsung terjun perang, nanti siapa yang akan ngajar? Santri? Kalau santri banyak yang mati syahid, akibat perang, lalu siapa nantinya yang akan berdakwah dan berjuang? Kalau wali santri bagaimana? Kalau banyak wali santri yang meninggal dunia lalu siapa yang akan mengirim anaknya di pondok? Kalau para bajingan? Ya, ya bajingan. Rasa-rasanya inilah yang paling pas. Bukankah mereka mempunyai modal keberanian? Lagi pula, kalau mereka nantinya mati, berarti mengurangi jumlah orang jahat. Syukur-syukur kalau mereka nantinya insyaf.

 

Kiai As’ad mengunjungi beberapa kiai di Madura agar mengontak seluruh tokoh bajingan di daerahnya. Para bajingan diminta datang ke Sukorejo Situbondo, untuk dilatih perang. Kalau mereka tidak mempunyai bekal, nantinya akan diberi bekal oleh Kiai As’ad.

 

Tidak beberapa lama kemudian, Pondok Pesantren Sukorejo dipenuhi “santri-santri baru”, para bajingan. Mereka para tokoh bajingan dari seluruh Pulau Madura dan Karesidenan Besuki. Kiai As’ad langsung memberi pengarahan dan memompa semangat mereka. Mereka diminta kesediaannya untuk ikut membela agama dan mempertahankan kemerdekaan. “Perang itu, harus niat menegakkan agama dan arebbuk negere, merebut negara! Jangan hanya arebbuk negere!  Kalau hanya arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara, sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!” kata Kiai As’ad di hadapan pejuang.

 

Dalam kesempatan itu juga, Kiai As’ad mengungkapkan: Barang siapa, termasuk bajingan yang telah berbuat dosa sebesar apa pun, kalau mengikuti perintahnya, Kiai berjanji akan tetap bergabung sampai nanti di akhirat. Kalau seandainya mereka tidak ada di surga, Kiai sendiri yang akan mencarinya dan memohon kepada Allah agar bersama-sama dikumpulkan kembali di surga.