TOKOH PELOPOR & SABILILLAH (3) Pak Mawie, Sosok Santri Pemimpin Sabilillah Situbondo

SYAMSUL A. HASAN Kamis, 12 November 2020 05:09 WIB
215x ditampilkan Berita

Di dalam ruangan itu tampak gerah dan panas.  Perdebatan makin seru. Masing-masing pihak mempertahankan argumentasi dan masih bersikukuh dengan pendiriannya. Emosi yang hadir sudah tidak terkendali lagi. “Negeri ini milik kami bukan milik gubernur, bukan milik presiden apalagi bukan milik Jepang! Kalian harus meninggalkan negeri ini! Kalau tidak, saya dan rakyat akan menyerang kalian!” bentak Kiai As’ad sambil menggebrak meja. “Brak!”

Hadirin terhenyak. Dilihatnya, meja yang kokoh itu, kini retak dan kakinya menembus lantai kantor yang megah. Pemimpin Jepang bercucuran keringat dingin, tampak ketakutan. Wajah Kiai As’ad memerah, menahan geram. Tidak ada yang berani menatapnya. Semuanya diam, diam membisu. “Kalian harus pulang sekarang juga!” usir Kiai As’ad memecahkan kesunyian.

Mau tidak mau, akhirnya pemimpin Jepang itu menyerah. Mereka bersedia menandatangani persetujuan pemulangan tentara Jepang di Desa Curah Damar Garahan Jember. Ya, sebentar lagi tentara Jepang  akan diangkut dengan truk ke Balung Tutul, kemudian diberangkatkan ke Surabaya, sedangkan gedung dan seluruh senjata akan diambil alih rakyat.

Yang ikut hadir dalam peristiwa pengambilalihan kekuasaan itu, adalah pemimpin Jepang di Garahan dan wakil-wakil rakyat Karesiden Besuki. Tentu, termasuk Pak Mamie, komandan Sabilillah Situbondo.

Pak Mamie, dulunya nyantri di Pondok Sukorejo. Ia sangat cerdas dan cekatan. Karena itu, oleh Kiai As’ad diangkat menjadi ketua Lasykar Sabillah Situbondo. Sedangkan Kiai As’ad menjadi ketua Sabilillah Kabupaten Panarukan (sekarang Kabupaten Situbondo). Bahkan Kiai As’ad menjadi komandan Sabilillah bagian Timur Jawa Timur.

Saya diperkenalkan dengan Pak Mawie oleh Habib Hamzah Situbondo. Habib Hamzah inilah yang melacak beberapa anggota Sabilillah di Situbondo melalui Pak Mawie. Biasanya, kalau sudah ketemu rumahnya dan memungkinkan untuk diwawancarai, Habib Hamzah menghubungi saya untuk bersama-sama mendatangi mereka.

Pak Mawie termasuk anggota veteran. Walaupun sepuh, ia masih gagah. Ia mengaku masih mengamalkan ilmunya saat dilatih di Sabilillah dulu. Beberapa anak buahnya yang saya jumpai, sudah udzur. Tapi Pak Mawie masih sehat. Ia bercerita banyak tentang Sabilillah Situbondo era Kiai As’ad. Ia pun bercerita tentang perjuangannya dulu sampai di Gedangan Sidoarjo, karena perintah Kiai As’ad untuk membantu pertempuran 10 Nopember. Sedangkan Kiai As’ad berkumpul berjuangan bersama-sama kiai pesantren lainnya di Surabaya.