Semilir Kesejukan di Terik Zaman: Catatan Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa K.H. Afifuddin Muhajir

ADMINPESANTREN Selasa, 19 Januari 2021 08:39 WIB
221x ditampilkan Opini

Oleh Nur Taufiq

Setelah sempat mengalami penundaan atas pengukuhan gelar Doktor Honoris Causa  kepada Dr. (HC)  K.H. Afifuddin Muhajir, M.Ag,. Akhirnya acara tersebut akan digelar pada Hari Rabu tanggal 20 Januari 2021.  Jauh sebelum acara pengukuhan dilaksanakan,  beberapa organisasi sudah mengedarkan ucapan selamat melalui akun media sosial seperti di FB, WA, dan sebagainya. Penganugerahan gelar doktor Kehormatan tersebut, setidaknya memberi penegasan perihal kapasitas keilmuan Kiai Afif atau Kiai Khofi (sapaan akrabnya K.H. Afifuddin Muhajir) khususnya di Bidang Fiqih dan Usul Fiqih.  Meski pun seumpama gelar itu tidak disematkan, keilmuaan Kiai Afif tidak diragukan. Baik dalam skala lokal, nasional bahkan internasional.

 

Saya bersyukur pernah langsung mengaji kepada beliau ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo. Waktu itu, Kiai Afif mengajar kitab Tafsir Jalalain sehabis salat isyak di Musala Ibrahimy. Seusai pengajian, biasanya santri berjejer menunggu kesempatan bisa mencium tangannya. Sebagai santri, saya juga melakukan demikian. Ada keyakinan bahwa tradisi itu sebagai salah satu jalan mendapat keberkahan.

Selain pengajian tersebut, bersama para santri lainnya, saya ikut mengaji hataman beberapa kitab  pada waktu Ramadan. Misalnya kitab Minahus Saniyah dan Qatrul Ghais.  Berbeda dengan hari-hari biasanya, pada Bulan Ramadan, Kiai Afif biasanya memberi pengajian sehabis salat Ashar.  Hingga saat ini, Kiai Afif menjadi pengajar di Ma'had Aly Sukorejo. Lembaga yang didirikan Kiai As'ad sebelum wafat tahun 1990.  Bahkan menjadi pengawal keeksisan dan keaktifan lembaga yang banyak melahirkan para Fuqaha.

"Saya bercita-cita agar santri saya seperti Santrinya Sunan Ampel, ada yang menjadi Fuqaha, Seniman, negarawan, dan Waliyullah"  begitulah dawuh Kiai As'ad.

 

Kiai Afif  juga mengampu beberapa mata kuliah di kampus, menjadi narasumber pada kegiatan-kegiatan baik skala lokal, nasional hingga internasional, Tim perumus Bahtsul Masail, penulis kitab dan buku . Karya kitabnya yaitu Fathul Mujib Qarib. Sementara buku yang ditulis di antaranya Manajemen Cinta, Kesan dan Pesan Fiqih kepada Penderitanya, Fiqih Tata Negara, dan lain sebagainya. Saat ini, Kiai Afif masih menjabat sebagai Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo.

 

Selain jabatan yang sudah disebutkan, Kiai Afif juga menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU.

Saya bukan santri yang dekat dengan Kiai Afif sehingga tidak banyak tahu tentang beliau. Namun Kiai Afif bisa dikatakan menjadi tolak ukur keilmuan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo termasuk di Ma'had Aly Sukorejo Situbondo. Ketika  ada tamu penting yang berkunjung, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kiai Afif terlihat senantiasa mendampingi pengasuh. Mulai dari kepengasuhan Kiai Fawaid hingga Kiai Azaim. Seperti pejabat negara, para ulama, dan sebagainya.

 

Berbicara Kiai Afif, saya teringat dengan cerita Kiai Zainulallah Johar. Salah satu alumni Sukorejo yang tergolong mempunyai kedekatan dengan Kiai As'ad. Sewaktu mengisi acara OP2 (Orientasi Pengenalan Pesantren) di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo. " Nul, Fawaid tak usah ajer man de emman, cokop ka ustaz Khofi (Nul, Fawaid tidak usah belajar kemana-mana cukup sama Ustaz Khofi )"  tutur Kiai Zainul menirukan ucapan Kiai As'ad kepadanya.  Ustad Khofi yang dimaksud adalah K.H. Afifuddin Muhajir. Sedangkan Fawaid yang dimaksud Kiai As'ad adalah K.H.R. Ahmad Fawaid As'ad Pengasuh ke 3 Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo.

 

Menurut Kiai Zainullah, beliau belum sepenuhnya paham mendengar dawuh itu. Dalam pikirannya bertanya-tanya mengapa Kiai As'ad memasrahkan keilmuan putranya kepada Kiai Afif. Ternyata keraguan itu terjawab setelah keilmuan Kiai Afif dikenal dimana-mana. Baik dalam skala lokal maupun nasional. "Sekarang saya baru tahu siapa Kiai Afif!"lanjut Kiai Zainullah memberi penegasan. Kiai Afif menjadi guru privat dari K.H.R Ahmad Fawaid As'ad. Dari sana kita pun mengerti bagaimana dawuh Kiai As'ad yang memasrahkan putranya kepada Kiai Afif. Tentu Kiai As'ad sudah mengerti kualitas keilmuan beliau.

 

Salah satu haddamnya yaitu Ustaz Alimin menyampaikan bahwa Kiai Afif menghindari atau mengurangi undangan di malam hari, khawatir meninggalkan pengajian ba'da Isya' Mushola pusat.

"Kalau ada undangan waktunya malam hari berarti ada dua pilihan yaitu malam Selasa atau malam Jum'at. Meskipun berkenan hadir, tetap dengan catatan pukul 20.30 harus pulang persiapan istirahat malam." tutur Ustadz alimin yang seringkali menyertai Kiai Afif.

Lebih lanjut, Ustadz alimin menyampaikan bahwa Kiai As'ad menitipkan dan menugaskan Kiai Afif untuk menjaga Pengajian Kitab Kuning di Musala. Sehingga ketika ada acara di tetangga pesantren semisal tahlilan, Kiai Afif hanya berkenan datang beberapa kali.

Dalam hal lain misalnya ketika Kiai Afif sakit atau kurang sehat, di antara obat paling mujarab adalah kedatangan tamu kemudian terjadi diskusi panjang. Baik persoalan Fiqih maupun Ushul Fiqih.

 

Keistiqamahan Kiai Afif mengajar berbagai disiplin keilmuan, membuat beliau dipercaya sebagai Wakil Pengasuh  Bidang Ilmiah. Sepengetahuan saya, ada tiga Wakil Pengasuh di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo. Wakil Pengasuh Bidang Ilmiah itu K.H. Afifuddin Muhajir. Wakil Pengasuh Bidang Maliyah itu Alm. K.H. Hariri Abdul Adzim. Wakil Pengasuh di Bidang Amaliyah yaitu Alm. K.H. Muzakki Ridwan.

 

K.H. Salwa Arifin ( Bupati Bondowoso) ketika memberi sambutan pada acara Bahtsul Masaail U-17 di Pondok Pesantren Nurut Taqwa menceritakan pengalamannya ketika masih berstatus santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo bersama Kiai Afif. Beliau berdua seringkali diutus mewakili pesantren dalam forum Bahtsul Masail.

Selain jabatan-jabatan yang disebutkan, beberapa waktu lalu Kiai Afif terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Ketua Umum dijabat oleh Rais Am PBNU yaitu K.H. Miftahul Akhyar. Masuknya Kiai Afif dan beberapa tokoh NU yang mumpuni dalam bidang keagaaman setidaknya menjadi harapan dan angin segar terhadap keberadaan MUI kedepannya. Terutama menyangkut fatwa-fatwa penting yang akan dikeluarkan MUI dalam berbagai persoalan hukum. Selama ini, kita seringkali disuguhkan fatwa oleh beberapa pengurus MUI yang cendrung kurang tepat. Itulah yang membuat K.H. Ahmad Mustafa Bisri (Gusmus) seringkali melayangkan sindiran terhadap MUI.

 

Saya juga teringat ketika Kiai As'ad diundang Presiden Suharto untuk mendirikan MUI. Dengan tegas Kiai As'ad menyampaikan bahwa beliau bukan ulama. " Siapa di sini yang ulama, mungkin Pak Hamka? Kalau saya buka ulama!" tutur Kiai As'ad. "Kalau Kiai As'ad saja mengaku bukan ulama apalagi saya." tegas Buya Hamka menanggapi ujaran Kiai As'ad. Ini menandakan bagaimana kehati-hatian Kiai As'ad membawa nama predikat ulama. Kalau Kiai Afif mendapat kepercayaan dari Kiai As'ad untuk mengurusi keilmuan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, menjadi Guru Besar Ma'had Aly Situbondo, menjadi Rais Syuriah PBNU, dan saat ini juga menjabat Ketua MUI. Kita berharap sumbangsih Kiai Afif mengawal keilmuan ulama untuk diterapkan di lingkungan MUI.

Kiai Afif juga mengajarkan beberapa kitab yang disiarkan secara online. Mulai kitab-kitab dasar seperti Jurumiyah dan Kailani maupun kitab lain seperti Jam'ul Jawami'. Melalui akun media  sosial yang dimiliki yaitu FB Afifuddin Muhajir, beliau mengisinya dengan status mencerahkan, menyejukkan, dan mencerdaskan.

 

Selain dikenal dengan kapasitas keilmuan, akhir-akhir ini Kiai Afif terjun langsung mengawal pasangan calon pemimpin di berbagai tingkatan. Mulai Bupati, Gubernur hingga Presiden. Kehadiran beliau dalam mewarnai perpolitikan tanah air sangat dirasakan.  Terutama bagaimana politik dikawal dengan keluhuran nilai-nilai agama. Sehingga proses perpolitikan berjalan dengan  damai.

Tidak hanya itu, Kiai Afif pernah menyampaikan bahwa dalam kontestasi politik bagaimana masyarakat bisa dicerdaskan. Dalam pandangan beliau, setiap kali ada perhelatan politik lima tahunan yang terjadi adalah  pembodohan. Termasuk adanya ketidakadilan dalam sistem pemerintahan. Misalnya pemimpin yang terpilih masih dominan keberpihakan pada kelompoknya. Sehingga kelompok yang tidak mendukung seringkali dimarjinalkan. Menyikapi hal itulah, Kiai Afif sering berpesan pada calon yang didukung untuk tetap merangkul semua pihak meski pun dalam kontestasi politik tidak mendukung. (Nur Taufiq, Alumni Salafiyah Syafi'iyah)

 

Kita meyakini bahwa Kiai Afif adalah manusia terhormat yang lebih berharga dari sekedar gelar kehormatan. Kiai Afif adalah semilir kesejukan di terik zaman. Yang keberadaan dan mamfaatnya benar-benar dirasakan. Semoga Allah senantiasa menjaga dan menjadikan hari-harinya penuh keberkahan.