Mantabkan Niat dalam Meraih Ilmu

SYAMSUL A. HASAN Jumat, 4 Juni 2021 05:15 WIB
255x ditampilkan Berita

Mempelajari ilmu pengetahuan, terutama ilmu diniyah, membutuhkan proses yang panjang dan penuh perjuangan. Para santri dilatih untuk bersabar, berhati-hati, dan beberapa akhlakul karimah lainnya. Hal tersebut, sebagai bekal menuju perjalanan keabadian kehidupan di akhirat kelak. “Tempuhlah pendidikan di pesantren ini dengan baik. Mempelajari ilmu agama jangan instant, jangan mondok dalam hitungan hari, lalu pulang menyampaikannya (berdakwah) melebihi kapasitas yang kita miliki,” dawuh Kiai Azaim.

 

Pesan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo tersebut, disampaikan pada acara Istightsah Jum’at Manis tadi malam. Kiai Azaim berpesan agar para santri memantabkan niat untuk mencari ilmu yang mendapatkan ridha Allah. Karena ilmu apapun yang telah mendapat ridha Allah, maka ilmu tersebut akan bermanfaat dan berkah.

 

Para santri baru Sukorejo harus “membayar” mahar bacaan Shalawat Fatih. Mengapa Shalawat Fatih? Kiai Azaim memilih shalawat tersebut karena Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki sering membaca Shalawat Fatih dalam setiap majelis. Menurut Kiai Azaim, salah satu keutamaan membaca Shalawat Fatih adalah menjadi perantara terbukanya hati dan pikiran. Dengan membaca Shalawat Fatih, para santri diharapkan hati dan pikirannya terbuka menyambut kedatangan ilmu yang barokah. “Dan harapan yang tertinggi melalui bacaan sholawat ini, kita merindukan syafaat baginda Nabi Muhammad SAW,” imbuh Kiai Azaim.

 

Pada malam tadi, Kiai Azaim mengungkap beberapa istilah di Pondok Sukorejo. Menurut Kiai Azaim, beberapa tradisi istilah penamaan dari sejumlah kegiatan di Pondok Sukorejo, mengandung makna tafa'ulan berharap kebaikan dari suatu amal baik.

 

Misalnya, istilah “Sabar” untuk santri baru, dengan harapan para santri baru dianugerahi kesabaran dalam menempuh perjuangan mencari ilmu. Mereka harus bersabar untuk berpisah dengan orang tua dan sanak famili di rumah. Mereka harus bersabar belajar beradaptasi dalam suasana baru di pesantren. Mereka juga harus bersabar menjalani aktifitas belajar yang merupakan perjuangan jihad.

 

Untuk santri lama diberi istilah “Salam” dengan harapan semoga selamat dalam perjalanan menempuh ilmu sampai selesai. Sehingga ketika pamit atau rekomendasi tercatat sebagai santri yang husnul khatimah. Istilah Salam juga mengandung pesan, para santri harus bersikap hati-hati di pesantren. mereka harus menjaga hubungan baik dengan masyayikh, menjaga sopan santun kepada para guru dan sesama santri. “Hati-hati tetap menjaga hubungan baik, tidak boleh menyakiti, menyinggung perasaaan mereka sehingga pulang nanti akan menjadi santri yang memiliki kesan baik kepada semua orang,” imbuhnya.

 

Kemudian ada istilah pulang berjamaah yang disingkat dengan “Puja”. Dengan harapan, semoga ketika santri selama mengisi liburan menjadi sosok yang dipuja, tidak hanya oleh manusia tetapi juga dipuja oleh penghuni langit tentunya kita berharap ridlo Allah Swt. agar terpuja dalam akhlaqul karimah, terpuja dalam perilaku amal soleh, terpuja dalam kemanfaatn ilmu dan keberkahannya, amin ya rabbal ‘alamin.

 

Begitu usai masa liburan berpuasa ramadlan, mengisi hari-hari bulan Syawal maka pada saaatnya balik berjamaah yang kita singkat dengan istilah dengan “Baja”, ini mengandung pesan bahwa ketika diuji dengan liburan santri harus siap-siap dengan semangat mem”baja” kembali ke pesantren melanjutkan cita-citanya jangan sampai liburan kurang lebih 50 hari itu mengubah tujuan, menggeser niat dan semangat senhingga bemalas-malasan kembali ke pondok pesantren, ingat dengan hal-hal yang melalaikan di rumahnya, ingat dengan game onlinenya, ingat dengan permainannya, ingat dengan keluyurannya. Maka lupakan semua itu, “Kembalilah pada tujuan semula, kalian punya tugas mulia untuk melanjutkan perjuangan ini, kalianlah generasi harapan, generasi emas Dua puluh tahun mendatang pemimpin-pemimpin masa depan adalah berada harapannya di pundak-pundak kalian semua!” tutur Kiai Azaim.