Dunia Santri, Dunia Pragmatis

Oleh : Khalil Muhammad

Dalam benak kita, setiap mendengar kata santri sering terbayang sosok penuh tawadhu’, kebiasaannya hanya belajar dan mengaji di sebuah pondok pesantren. Walaupun memang tak jarang kita temui beberapa santri yang berada di luar koridor tersebut. Namun yang jelas santri identik dengan sosok orang baik, berbudi luhur, banyak memahami masalah keagamaan, calon ustadz yang akan mengajar di surau, masjid, dan sekolah. Atau bahkan menjadi seorang da’i yang sering berfatwa dan memberi nasihat di atas pentas ataupun di media, dan memiliki jiwa keikhlasan yang kuat.

 

Sosok ini merupakan jelmaan ulama masa depan yang patut dihormati kedudukannya sebagai tholibul ilmi yang hanya berkelut dengan kitab dan agama. Akhir-akhir ini santri sudah banyak disandingi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terkesan ketinggalan zaman, karena santri sering diidentikkan sebagai orang kuper, kurang pandai bergaul dan tidak up to date. Hal ini disebabkan pandangan yang mengatakan bahwa kehidupan yang ada di pesantren merupakan dunia fiktif jauh dari realitas social.

 

Namun bagaimana pun, seorang santri ketika sudah habis masa tenggangnya di pesantren harus terjun dan go with public. Di masyarakat itulah seorang santri dituntut agar mampu mengaplikasikan ilmunya dalam konteks kekinian, atau dalam redaksional kogkritnya sesuai dengan tuntutan zaman, baik ia hidup di pedesaan atau di perkotaan.

 

Ketika santri berada di tengah masyarakat desa mungkin tidak terlalu sulit untuk bergaul, karena kebanyakan masyarakatnya masih antusias dengan urusan keagamaan, apalagi budaya gotong royongnya masih tertanam kuat, dan relasi cultural antartetangga masih kental. Walaupun pengetahuan keagamaannya kadang-kadang masih minim. Karena santri juga potensial berperan dalam menyangga keutuhan bangsa dan negara sehingga sudah barang tentu selalu menarik untuk disimak sepak terjangnya.

 

Dalam dunia perkotaan, santri dituntut memiliki daya tahan (self defense) yang kuat agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak sesuai dengan basic yang dimilikinya serta mampu menghadapi dunia yang dipenuhi berbagai macam karakteristik kehidupan. Salah satu karakteristik masyarakat kota terutama kota-kota besar sekarang adalah pragmatis. Lalu apa kaitannya antara pragmatis dengan santri?

 

Pragmatisme merupakan suatu istilah yang berasal dari kata Yunani ”pragma” yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Pragmatisme adalah filsafat yang mementingkan hal-hal yang praktis (practicality) dan kerja keras yang kriteria utamannya adalah sukses. Dalam kehidupan pragmatis, seseorang akan bertindak berdasarkan empiris, berdasarkan akal dan berusaha jauh dari agama. Keuntungan merupakan hal pokok yang harus diperoleh tanpa pamrih. Dan apa-apa yang dilakukan harus menghasilkan uang. Hal ini bisa terlihat dari sebuah slogan “di dunia ini tidak ada yang gratisan”. Slogan ini merupakan titik awal dari bangkitnya pragmatisme di dunia pesantren. kalimat ini juga tak jarang kita dengar dari seorang yang berpredikat santri. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan dalam benak penulis, “adakah santri pragmatis dan ataukah pragmatisme santri?”

 

Ikon dari pragmatisme adalah Amerika, dari sana pulalah kapitalisme muncul. Namun untuk menjadi yang pragmatis-pragmatis tidak perlu belajar kesana karena pada kenyataannya ajaran-ajaran amerika sudah mengakar kuat di Indonesia. Bahkan sampai masuk ke dunia pesantren “insya Allah”.

 

Ada dua karakteristik yang bertolak belakang antara santri dengan masyarakat pragmatis, antara jiwa keikhlasan santri dengan ideologi Utilitarian kaum pragmatis. Bisa saja sosok santri yang berkarakteristik ideologi keikhlasan secara pribadi amat religius, tetapi memisahkan “urusan” dengan agamanya. Karena agama merupakan penyatuan nilai antara urusan ketuhanan dan kemanusiaan. Dari integrasi nilai tersebut bisa berkembang menjadi pragmatisme santri dan santri pragmatis.

 

Kaum sarungan, dalam hal ini santri yang nota benenya merupakan salah satu element yang tidak hanya berperan menyangga moral beragama umat, tidak boleh secara totalita menjadi kaum pragmatis. Karena dia juga dituntut mampu menyangga segala bentuk transformasi negatif, terutama dalam dunia global saat ini, perubahan sudah pasti tak dapat dihindari, baik itu merupakan proses pendewasaan atau bahkan kemerosotan, tergantung pada person yang menyikapinya.

 

Oleh karena itu, santri harus dibekali dengan terapi jiwa keikhlasan tinggi, mampu bersaing dalam kapasitas global dan memiliki self defense yang kuat Agar tidak terjebak dalam materialistik. Semua element pesantren khususnya harus mampu memberi uswah yang baik bagi segenap santri di sekitarnya.

 

Penulis Adalah Santri Ma’had ‘Ali Angkatan VI Periode 2005-2008

One Response to Dunia Santri, Dunia Pragmatis

  1. Santri adalah enam huruf yang sangat erat hubungannya dengan perkara-perkara ukhrawiyah(keakhirata), dan dalam tujuannya adalah sebagai pengemban amanah dari Nabi dan para Ulama’ salafus Shaleh sebagai pengayom, pengopen, pembimbing, pembina, guru, panutan, motor penggerak dalam hubungan sosial. oleh karena itu santri kata yang amat sangat gampang diucapkan lisan akan tetapi dibalaik label itu tersimpan proses yang alot, panjang, berat, susah, senag, dan sebagainya yang tidak semua orang yang mengemban label SANTRI tersebut mampu memikulnya.
    sebagai santri yang notabene salafiyah syafi’iyah ahlus sunnah wal jamaa’ah maka keperaan akan adanya faktor berkah yang dalam bahasa santrinya BAROKAH sangatlah terbukti adanya. selama kita percaya itu dan selama yang Maha Kuasa Menghendaki maka kun fayakun,yang tidak kita sangka akan keilmuannya malah menjadi panutan, yang pas-pasan bekal akademiknya malah menjadi pemimpin di kampung halamannya. bahkan yang kita agungkan karena kecerdasannya dan keahliannya malah menyusahkan masyarakat, dan seterusnya. kesimpulannya Menjadi Santri memang berat tergantung cara kita menikamatinya serta faktor berkah sangatlah menentukan dalam hidup ini. semoga bermanfaat.

Leave a Reply to muhammadsaman Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>