Guru Harus Sabar Mendidik

“Ketua kamar harus sabar menarbiyah, mendidik anak kamarnya, bukan sekadar mengajar”

 

Begitu dawuh Kiai As’ad kepada para santrinya. Dalam konteks masyarakat luas, ketua kamar adalah pemimpin dan guru. Karena ketua kamar di lingkungan pondok pesantren salah satu fungsinya sebagai pemimpin di dalam sebuah asrama sekaligus ustadz.

Dengan demikian –menurut Kiai As’ad– seorang ustadz harus mampu mendidik muridnya, seorang guru harus mampu mendidik siswa, seorang pemimpin harus mampu mendidik rakyatnya.

Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Dengan demikian, seorang guru dalam mendidik sang murid harus menyadari benar bahwa pendidikan tersebut merupakan proses panjang yang tujuannya untuk mengubah perilaku sang murid. Dalam perjalanan panjang itu, akan ditemukan jalan terjal. Tentu ada murid yang “nakal”. Namun dengan adanya murid yang nakal itulah justru akan melahirkan guru-guru yang sabar dan tabah. Kalau sang guru tidak sabar dalam mendidik siswanya, gagallah ia disebut guru yang tabah. Karena itu, Kiai As’ad selalu menganjurkan kepada para guru untuk memperbanyak membaca, Robbisyahri shadri; agar dada sang guru diberi kelapangan.