Hikmah Hijrah (1)

Oleh:Ust. Asro Maksum, MEI

Dekan Fakultas Syari’ah

Hijrah sebagai Momentun Membangun Komunikasi

 

Saat ini kita telah memasuki tahun baru Islam 1432 H, dalam momentum tahun baru Islam kali ini kami sedikit ingin menyampaikan Pesan-pesan yang terkandung dalam pristiwa hijrah 1432 tahun yang lalu, yaitu hijrah secra maknawi, bukan secara lafdhi. Banyak sekali pesan yang terkandung dalam peristiwa hijrah ini, bahkan hampir tak terhitung jumlahnya. Sebagian kecil dari nilai-nilai hijrah yang dapat kita teladani itu adalah sebuah perubahan yaitu perubahan dari yang bernilai nigatif menuju perubahan yang bernilai positif normatif, ini terlepas dari apa sebenarnya yang memotivasi Rasulullah melakukan hijrah ini.

Ada beberapa teks yang kita ambil sebagai rangkaian terjadi hijrah ;

Pertama ; Firman Allah surat al- anfal ; 30

Artinya ; Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.

Kedua ; Setelah ayat ini turun lalu Jibril berkata kepada Rasulullah :

Wahai Rasulallah “ malam ini engkau jangan istirahat ( tidur ) ditempat seperti biasa engkau tidur, karena malam ini Allah telah memerintahkan engkau untuk hijrah ke Madinah,

Ketiga ; Setelah itu Nabi datang ke sayyidina Abu bakar seraya berkata ; Allah telah meng-idinkan saya untuk hijrah ke Madinah, lalu Abu Bakar balik bertanya “ apakah dengan saya ya Rasul “ Nabi menjawab “ Ya “

Keempat ; Hadits yang berbunyi :

Artinya : Diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa Nabi pernah bersabda kepada para shabat “ setelah mereka selesai dari peperangan, kalian selesai dari perang yang kecil dan akan menghadapi perang yang lebih besar “ Sahabat balik bertanya, “ Apa yang dimaksud dengan perang yang lebih besar …?, Nabi menjawab ; yaitu memerangi hawa nafsu “

( Hadits Riwayat Bukhari )

Dalam serangkaian teks terjadinya peristiwa hijrah ini, diakui atau tidak, banyak aspek yang terkandung yang dapat kita teladani. Kalau kita pahami ayat qur’an dan hadits serta sikap Malaikat Jibril  tersebut di atas terdapat nilai yang sangat luhur, diantara aspek penting disini adalah  ; aspek komonikasi yang sangat intens antara Nabi dengan Allah, antara Nabi dengan Jibril, antara Nabi dengan para sahabat, dan antara sahabat dengan sahabat yang lain, tidak hanya itu tapi juga antar kaum muhajirin dan kaum anshar. Jika kita perhatikan secara spesifik dari beberapa pernyataan tersebut di atas ada momentum komunikasi yang telah dibangun dengan baik dan efektif. Itu artinya komunikasi yang baik sangatlah penting , kendati menyangkut persoalan yang kecil sekalipun. Karena boleh jadi sesuatu yang kecil menurut kita, belum tentu kecil bagi orang lain, apalagi jika sesuatu itu memang hal yang penting bahkan sangat penting untuk dikomunikasikan.

Seperti yang digambarkan di atas tadi, dalam komunikasi yang efektif hendaknya bisa berjalan secara sejajar pada dua aspek yaitu :

Pertama : Komunikasi yang dipertanggungjawabkan kepada Tuhan

Kedua ; Komunikasi yang dipertanggungjawabkan kepada  manusia

Maksudnya adalah ; apa yang disampaikan dan diperbuat oleh seseorang tidak hanya bertanggung jawab kepada manusia, tapi juga harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ketiga ; komunikasi yang efektif tentu bersumber dari hati ke hati ( dari sentuhan hati nurani ) bukan dari kepala ke kepala ( atau dengan pendekatan kekuatan dan kekuasaan ), karena kominikasi yang tumbuh dan bersumber dari hati seseorang tidak akan pernah dirasakan puas dengan sesuatu yang telah diperolehnya. jika dikemudian hari seandainya seseorang sangat puas dengan keberhasilannya itu,  sesungguhnya ia orang yang telah gagal dalam membangun komunikasi, itu artinya komunikasi yang tumbuh dan bersumber dari kepala ( atau dengan pendekatan kekuatan dan kekuasaan )