Kiai As’ad, Pejuang Sepenuh Hati

13567370_10204847284182193_7485309046336278454_n

Tiga belas tahun yang lalu, saya melihat, dari wajah dan penuturan puluhan saksi sejarah; KHR. As’ad Syamsul Arifin merupakan sosok pahlawan sejati, yang berjuang sepenuh hati. Kiai As’ad, sang perancang strategi perang. Kiai As’ad berada digarda perang terdepan. Tapi setelah perang berhasil, ia pergi dan membiarkan orang-orang menikmati kemenangan; seakan-akan ia berkata, “Kemenangan ini milik Anda bersama! Silakan nikmati, biarkan saya pergi untuk berdakwah dan berjuang lagi”

Karakteristik kepemimpinan yang berjuang sepenuh hati dan tampil di balik layar inilah, yang menurut almarhum KH. Abd. Shomad Jember, sangat langka dan patut dijadikan teladan. Karakteristik pejuang sepenuh hati inilah, yang menurut hemat saya, menjadikan nama Kiai As’ad harum semerbak dan membuat pengikutnya menaruh hormat yang luar biasa.

Kiai Abd. Shomad mencontohkan, ketika penyerangan tentara Jepang di Garahan Jember. Kiai As’adlah yang memimpin dan menaklukkan pemimpin tentara Jepang. Namun setelah berhasil, ia menyingkir sedang para kiai, tokoh masyarakat, dan pejuang yang lain “menikmati” harta rampasan perang. Kiai As’ad datang ketika diperlukan dan diam-diam pergi ketika tugas telah usai.

Salah seorang senior saya, Ust. Zaini Ridwan, yang rajin melakukan pelacakan sejarah Tapak Tilas Perjuangan Kiai As’ad juga menyimpulkan senada. Menurut pelacakannya, Kiai As’ad berjuang di garda terdepan tapi setelah meraih kemenangan, ia dan pasukan Pelopor pergi dan mengatakan kepada anggota tentara, “Jangan bilang-bilang… silakan klaim keberhasilan ini karena perjuangan Anda dan para tentara,”

Karena itu, tepat yang ditulis Kompas dalam Tajuk-nya beberapa hari setelah Kiai As’ad wafat; bahwa pengaruh wibawa Kiai As’ad tidak dipaksakan, akan tetapi terpancarkan. Bukan karena ditunjang oleh organisasi yang efektif, melainkan karena kesukarelaan dan keikhlasan.

Kepemimpinan sepenuh hati ini memang tergolong langka namun patut kita jadikan renungan dan sedapat mungkin kita teladani. Bukankah tergolong langka, bila telah mencapai kemenangan, ia mengatakan, “Kemenangan ini milik Anda, dan nikmatilah karena Andalah yang berjuang!” Coba bandingkan dengan pemimpin sekarang yang selalu mengklaim keberhasilan program bersama karena atas usaha “aku”-nya. Namun ketika program tersebut gagal, dia mengkambinghitamkan orang lain. Mereka selalu mengklaim keberhasilan karena “aku”-nya. Mereka tidak menyebut karena hasil jerih payah “kami” atau  “kita”, apalagi “Anda!”. Karena di dalam kepemimpinan dirinya masih kuat melekat sifat “ego”nya.

Pahlawan sejati, sesungguhnya sepanjang kehidupannya digunakan untuk mengabdi dan melayani masyarakat, nusa, dan bangsa. Pahlawan sejati, dalam konsep konseling psikoanalis, melekat karakter altruism. Altruisme termasuk pertahanan matang (mature defenses) yaitu ketika seseorang mendapatkan kepuasan batin dengan cara melayani orang lain. Dalam teori psikoanalis, sifat keakuannya melebur kepada sifat kebersamaan sehingga yang dipikirkan dan diperhatikan kepentingan masyarakat luas bukan sekadar kepentingan golongan dan pribadi.

Orang yang bekerja sepenuh hati dan tampil di balik layar ini, seakan-akan sekarang sudah menjadi dongeng. Apalagi dalam pergulatan di dunia politik yang carut-marut ini. Seakan-akan sang tokoh sepenuh hati ini, hidup di dunia impian bukan kenyataan. Karena mahapenting itu, pada bab pertama buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat”, saya tulis judul: Tokoh di Balik Layar…

Ataukah Anda tidak percaya dengan “dongeng” saya ini? Anda jangan heran, kisah semacam ini banyak kita temui pada tokoh-tokoh sufistik. Apalagi Kiai As’ad mengaku telah mendapat ijazah 17 macam aliran tarekat untuk mengajarkan kepada yang lain. Sekarang, dapatkah misalnya, kita “mengintegrasikan” nilai-nilai sufistik dalam dunia politik praktis?

Namun profil tokoh sepenuh hati yang berada di balik layar ini, bukan berarti tanpa “kelemahan”. Kelemahan inilah nantinya yang akan menyulitkan penulis biografinya. Saya merasakan hal itu, saya perlu berbulan-bulan melacak jejaknya. Kami (karena saya dibantu oleh beberapa orang) melacak ke beberapa peloposok pedesaan untuk menjumpai beberapa tokoh Pelopor untuk mengungkap misteri perjuangan Kiai As’ad. Kadang yang kami jumpai sudah wafat atau sakit parah.  Ada pula yang masih hidup, tapi harus kami rayu beberapa kali untuk mengungkapkan pengalamannya. Itu tiga belas tahun yang lalu, mereka sekarang sudah meninggal semua.

Apalagi pahlawan sepenuh hati akan diajukan sebagai pahlawan nasional, yang mementingkan segi administrasi (dan politik) yang kuat.

Walhasil, Kiai As’ad—sebagaimana dalam Jati Diri  Jawa Pos, 6 Agustus 1990—memang termasuk kiai jalan lurus dan manusia langka.  Sebagai kiai jalan lurus, Kiai As’ad tak bisa diganti melainkan untuk diteladani dan diikuti jejaknya. Semoga kita, terutama saya, mampu meneladani Kiai As’ad sebagai pejuang sepenuh hati!

 

(Syamsul A Hasan, penulis buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat”)