Kiai-nya Calon Wartawan

Tampaknya, almarhum KHR. Achmad Fawaid As’ad mengerti betul betapa pentingnya peran media massa. Selain penyebar informasi, media juga bisa dijadikan sarana penyampai aspirasi, penguatan opini, alat politik, alat provokasi, pembentuk watak, dan sebagai media dakwah. Karena itu, sejak menjadi pengasuh Pesantren Sukorejo (1990) hingga akhir hayatnya (2012), Kiai Fawaid tidak pernah sekalipun menolak proposal pelatihan jurnalistik dari santri-santrinya. Begitu pula kunjungan-kunjungan ke media-media nasional yang justru mendapat dukungan penuh dari putra Kiai As’ad itu.

Ini pula yang dibuktikan penulis. Saat menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy (1999-2003), penulis kerap menggelar dan mengikuti pelatihan jurnalistik yang berlanjut kunjungan ke media nasional. Hampir tiap libur semester, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah, BEM Syariah, dan BEM Tarbiyah, maupun BEM Ibrahimy mengelar pelatihan jurnalistik. Anehnya, semua proposal tersebut tidak pernah ada yang ditolak. Termasuk acara kunjungan ke kantor-kantor media. Tampaknya, Kiai Fawaid memiliki harapan besar agar kelak santri-santrinya ada yang terjun dalam dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan.

Dengan terjun ke dunia kewartawanan, maka seorang santri akan menjadi pelaku utama dalam proses pembelajaran kepada masyarakat. Sebab, apapun isi informasi dari sebuah media, semua berawal dari tulisan wartawan. Masakan apapun semua bergantung dari bahan baku. Bahan baku jelek, maka hasilnya juga jelek. Begitu pula informasi. Jika informasi yang disajikan wartawan bernilai dakwah dan mendidik, maka audiens juga akan terarahkan ke pengetahuan yang lebih baik.

Betapa penting dan mulifungsinya peran media. Tak mengherankan, pada 1993, Kiai Fawaid mendirikan Radio Bhasa FM di Situbondo. Radio ini ditujukan, selain sarana penghibur bagi masyarakat, juga sebagai media dakwah, alat kontrol pemerintah, tempat masyarakat menyampaikan aspirasi, dan sebagai penyampai informasi kepentingan-kepentingan Pesantren Sukorejo. Saat kali pertama menjalankan Bhasa FM, kiai memang tidak melibatkan santri-santrinya dalam urusan manajemen kepenyiaran. Semua diurusai oleh orang-orang profesional dan mengerti media.

Belum puas mendirikan Bhasa FM, kiai juga mengakuisisi Suara Besuki Indah (SBI). SBI yang semula mengudara melalui jalur AM, dirubahnya menjadi FM. Itu karena jalur FM lebih mudah dijangkau masyarakat. Kiai Fawaid juga ikut membidani kelahiran tabloid lokal, Gema Situbondo yang biasa disingkat Gesit. Sayang, pada perkembangannya, tabloid ini gagal bersaing dengan media lokal lainnya.

Saat ini, baik Bhasa maupun SBI, hampir seluruh jabatan di manajemennya sudah dipegang santri-santri Sukorejo. Mulai reporter, koordinator liputan, manajer penyiaran, hingga manajer keuangan.

Apakah hal ini buah dari gencarnya pelatihan jurnalistik yang digelar di pesantren? Bisa jadi, ya. Yang pasti, saat ini santri Sukorejo tidak hanya berkiprah di dua media yang didirikan Kiai Fawaid tersebut. Santri Sukorejo sudah banyak berkiprah di media-media nasional. Baik cetak maupun elektronik.

Di Jawa Pos Group, misalnya. Santri Sukorejo ada yang menjadi wartawan di Radar Banyuwangi dan Lombok Post. Di media televisi, santri Sukorejo ada yang bergabung dengan Trans-TV dan Trans7. Semuanya menduduki posisi-posisi strategis di bidangnya. Ada yang masih menjadi kontributor, reporter, kepala biro, bahkan ada yang sudah menjadi redaktur. Ini membuktikan, pelatihan-pelatihan jurnalistik yang digelar santri Sukorejo sudah membuahkan hasil.

Soal banyaknya santri yang kini menjadi wartawan, Kiai Fawaid bahkan sempat kaget. Saat haul akbar almarhumain tahun 2009 di Aula Putra, acara memang dibuat lain dari biasanya. Sebelum ceramah agama, lebih dulu diperdengarkan suara-suara alumni dari bermacam profesi. Salah satunya dari alumni yang kini menjadi wartawan. “Saya tidak menyangka begitu banyak santri yang jadi wartawan,” kata Kiai Fawaid, saat itu. Tentu saja, kiai menunjukkan wajah sumringah (senang). Rupanya, meski sudah banyak alumni yang berkiprah di media massa, Kiai Fawaid belum mengetahuinya.

Sikap kooperatif kepada wartawan seringkali ditunjukkan Kiai Fawaid dalam berbagai acara. Tak sekalipun beliau menolak permintaan wawancara dari seorang wartawan. Bahkan, saat ada informasi penting, tak segan-segan Kiai Fawaid menyuruh stafnya untuk menghubungi wartawan. Kiai Fawaid juga tak segan mengirim press release ke sejumlah media. Biasanya, isinya mengenai pilihan politiknya saat itu. Bagaimana saat beliau memutuskan bergabung ke PKB, keluar dari PKB, dan memilih bergabung ke PPP. Sebagai agamawan dan pimpinan pesantren yang memiliki ribuan santri dan alumni, tentu apapun sikap politik Kiai Fawaid amat ditunggu-tunggu masyarakat dan jutaan alumninya. Dan, media massa dinilai paling efektif untuk menyampaikan kepentingan tersebut.

Tidak ada satu pun kiai di Indonesia yang saat wafat, beritanya ditulis sendiri oleh alumni pesantrennya. Karena itu, liputan tentang berpulangnya Kiai Fawaid ke Rahmatullah dilansir berhari-hari di media massa. Itu karena yang menulis berita, mulai saat sakit, wafat, pemakaman, tahlilan, hingga siapa calon pengganti Kiai Fawaid, ditulis sendiri oleh alumni Pesantren Sukorejo. Berita yang dimuat di Radar Banyuwangi akan dilansir oleh ratusan media grup Jawa Pos di seluruh Indonesia. Karena ditulis oleh alumni Sukorejo sendiri, maka tulisannya pun dianggap mewakili kepentingan ahlul bait. Salah satu kepentingan ahlul bait adalah penyebarkan informasi tentang siapa sosok pemimpin Pesantren Sukorejo sepeninggal Kiai Fawaid.

Di sinilah salah satu kelebihan Kiai Fawaid dibanding kiai-kiai lainnya. Di saat sejumlah kiai menjauhi media massa karena dianggap provokatif dan penyebar fitnah, Kiai Fawaid justru datang untuk merangkul kalangan media. Sebab, yang salah bukan media-nya. Tetapi orang-orang di dalam media tersebut yang membuat medianya berisi berita provokatif dan fitnah. Karena itu, media harus dikendalikan oleh orang-orang benar dan memegang teguh prinsip jurnalistik. Media harus dijadikan alat untuk menyampaikan kebenaran, pendidikan, dan dakwah. Hanya wartawan yang memiliki dasar agama kuat yang bisa menjalankan prinsip jurnalistik dengan baik dan benar. Dan, itu bisa diwujudkan jika wartawan tersebut adalah seorang santri.

Karena itu, untuk memberikan wawasan yang lebih luas, santri Sukorejo diberi akses yang luas untuk mendapatkan segala bentuk informasi. Koran-koran ditempel agar dibaca santri. Jaringan internet dipasang. Siswa dan mahasiswa diberi keleluasaan menerbitkan majalah atau buletin. Semua itu bertujuan agar santri Sukorejo terbiasa membaca dan menulis. Salah satu cara menguasai media adalah dengan banyak membaca dan menulis di media itu sendiri.

Kini, persaingan media tak hanya terjadi antara media-media besar di Indonesia. Di dalam Pesantren Sukorejo pun persaingan amat terasa. Majalah siswa SMA Ibrahimy putra, Kreasi, tak mau kalah dengan majalah bikinan siswa SMA putri KISS, dan Sensasi milik siswa SMK Ibrahimy 1. Majalah Orator milik Mahasiswa Fakultas Dakwah juga tak mau kalah dengan Obsesi-nya Fakultas Syariah dan Dialektika-nya Fakultas Tarbiyah. Begitu pula buletin Alternatif-nya mahasiswa BPI Fakultas Dakwah tak mau kalah bersaing dengan Tanwirul Afkar-nya santri Ma’had Aly. Tak ketinggalan, pihak pesantren pun menerbitkan Tabloid Salaf untuk menampung karya tulis santri Sukorejo.

Persaingan media di Pesantren Sukorejo ini tidak hanya terjadi dalam kontek isi dan layout (tata letak), tetapi juga terletak pada konsistensi penerbitan. Mereka akan merasa bangga jika majalahnya dapat terbit minimal dua kali dalam setahun, sementara yang lain hanya sekali setahun. Lebih bangga lagi bisa menerbitkan buletin seminggu sekali secara kontinu. Seperti yang dilakukan Tanwirul Afkar.

Raga Kiai Fawaid memang telah tiada. Meninggalkan jutaan santri, alumni, simpatisan, dan masyarakat yang terkagum-kagum akan sosok beliau. Namun, jiwa Kiai Fawaid akan terus terkenang sepanjang masa oleh jutaan pengikutnya. Selamat jalan kiai-nya calon wartawan. Semoga kami bisa meneruskan perjuangan dan mewujudkan cita-cita besarmu. (*)

*) Penulis: Ali Sodiqin (adalah alumni Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy tahun 2003. Kini redaktur Jawa Pos Radar Banyuwangi)