Kunjungi Sukorejo, Mahfud Ditanya Soal Capres

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI, Mahfud MD hadir ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (P2S2) Sukorejo, di Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, siang kemarin (16/2). Pria kelahiran Madura tersebut menjadi nara sumber dalam lokakarya nasional bertajuk Nilai-nilai Aswaja dalam Pluralitas Kehidupan Berbangsa.

Yang menarik, dalam kegiatan untuk memperingati satu abad P2S2 Sukorejo ini, semua peserta kompak bertanya kepada Mahfud MD dalam kapasitasnya sebagai calon presiden (capres). “Apa yang akan bapak Mahfud lakukan jika nanti ditakdirkan sebagai presiden,” tanya seorang peserta, mengenai langkah kongkrit Mahfud untuk merealisasikan nilai-nilai ahlussunnah waljamaah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keadaan ini memang tidak terlalu berlebihan. Pasalnya, meski tidak terang-terangan memproklamirkan diri sebagai capres dalam acara yang ditempatkan di Auditorium Putra tersebut, namun Mahfud memberikan buku profil dirinya kepada semua peserta. Dalam buku setebal 90 halaman berjudul ‘Mahfudz MD, Bersih dan Membersihkan’ itu di dalamnya terselip kartu nama bertuliskan Mahfud MD, Capres PKB 2014.

“Pak Mahfud ke sini (P2S2 Sukorejo) tidak ada kaitannya dengan pencapresan atau dukung mendukung. Ini murni untuk acara peringatan satu abad Pesantren Sukorejo. Kalau masalah pemberian buku, itu souvenir kepada peserta dari beliau tidak ada kaitannya dengan acara dan kepanitiaan,” terang Sekretaris P2S2 Sukorejo, Lora Fadhoil.

Dalam acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, Mahfud MD banyak memaparkan tentang langkah-langkah yang dilakukannya saat menjadi pejabat negara. Selain itu juga tentang kondisi tanah air yang sebenarnya kaya raya namun menjadi miskin karena banyaknya korupsi.

“Belanja APBN kita Rp 1.800 triliun, sementara utangnya sampai Rp 4.000 trilliun. Namun tahukan saudara-saudara semua bahwa uang negara yang dikorupsi itu jauh lebih besar dari itu. Untuk bidang migas saja, uang negara yang dikorupsi mencapai Rp 7.000 triliun pertahun. Ini hasil penghitungan KPK,” tegasnya.

Menurut Mahfud, meskipun keadaan negara saat ini masih jauh dari harapan masyarakat, namun jangan pernah berkeinginan membubarkan negara. Sebab, keadaan yang terjadi justru akan lebih mengerikan. “Kita lihat saja sekarang bagaimana Mesir, bagaimana Syiria, pembantaian seperti tak pernah berujung. Sulit sekali membentuk negara kembali jika sudah seperti itu,” terangnya.

Mengenai wacana pihak-pihak tertentu tentang berdirinya negara Islam, bagi Mahfud, yang jauh lebih penting adalah memperjuangkan membuminya kebenaran ajaran Islam. “Jadi bukan pada ranah formalisasi. Negara paling Islami itu menurut penelitian, ada di Selandia Baru. Padahal di sana tidak ada muslim. Tapi di sana ada Islam. Lha di Indonesia banyak muslim, tapi sulit sekali melihat Islam,” tegasnya. (pri/als)

sumber: Radar Banyuwangi