Kunjungi Sukorejo, Rombongan Rihlah Ilmiyah dari Tasikmalaya Minta Diakui Jadi Alumni Sukorejo.

Pada Hari Selasa, tanggal 15 april kemarin, pengasuh dan pengurus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, menerima secara langsung kunjungan Himpunan Alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda (HAMIDA), Manon Jaya, Tasikmalaya Jawa Barat.

Rombongan Alumni Pondok Pesantren dari Jawa barat itu, tiba di sukorejo sekitar pukul enam sore.

Kunjungan ke pesantren Sukorejo tersebut adalah rangkaian kunjungan mereka dalam rangka Rihlah Ilmiyah ke Pesantren-pesantren besar sekitar Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Sementara itu, menurut salah satu rombongan rihlah ilmiyah yang akan berakhir pada tanggal 18 april itu. bertujuan memperkuat nilai-nilai Salafi sebagai ciri khas pesantren.

Nilai-nilai salafi itulah menurut sumber tersebut, terutama dipesantren-pesantren di jawa barat sudah mulai terkikis. Nah, dengan kunjungan tersebut tambahnya, diharapkan nilai-nilai salafi itu, muncul kembali.

Kepada para rombongan, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, dalam sambutannya berharap, agar silaturrahmi semacam itu tidak berakhir pada malam itu. Sebab, menurut Kiai Azaim, silaturrahmi seperti itu penting dilakukan untuk memperkuat aktifitas dakwah islamiyah maupun tukar informasi antar pesantren-pesantren.

Rombongan Rihlah Ilmiyah itu berjumlah 90 orang dengan rincian 60 orang laki-laki dan 30 orang perempuan. Dalam kunjungan itu mereka juga tidak lupa melihat aktifitas santri, dan berkeliling ke sekitar pesantren termasuk ke makam pendiri dan pengasuh pesantren.

Mereka juga mengadakan dialog dengan pengasuh serta pengurus Pesantren.  Dalam dialog yang bertempat di Pendopo Pengasuh itu, salah satu Alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya, Jawa Barat, meminta agar mereka diakui menjadi santri dan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Menurutnya, suatu kehormatan yang tidak terhingga, jika para rombongan rihlah ilmiyah itu diakui menjadi santri atau alumni.

Dengan diakuinya mereka menjadi bagian dari pesantren yang didirikan oleh KHR. Syamsul Arifin itu, berarti mereka juga ikut dido’akan oleh para pendiri, pengasuh serta pengurus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.