Membangun Pola progresif Mahasiswa

Oleh: Syaifullah FD

 

Mahasiswa sering kali di perbincangkan sebagai agen of change man of analisys ketika ada persoalan mahasiswa selalu berada di garda depan mengawal perubahan karena di anggap sebagai insan intelektual yang selalu berpihak pada kaum tertindas, kepercayaan yang di berikan masyarakat terhadap mahasiswa membuat mahasiswa yakin dan kuat dalam setiap gerakan-gerakannya.

Kepercayaan ini tentu harus di jaga dengan baik, agar supaya kebersamaan membangun bangsa tetap kokoh, tapi belakangan ini mahasiswa mengalami dekadensi-dekadensi dalam setiap aspeksnya, mulai dari soal membaca, berdiskusi, berorganisasi, mengadakan penelitian termasuk melakukan pengabdian masyarakat, ini tidak bisa di biarkan begitu saja melainkan harus di cari jalan keluarnya jika tidak maka gerakan mahasiswa tahun 1998 hanya akan menjadi sejarah, sementara perubahan seperti roda yang terus berjalan dan berputar, ini tantangan bagi mahasiswa ke depan (globalisasi (borderlees world, borderless society) perubahan sosial, ekonomi, politik, budaya, termasuk kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi) lebih rinci Aspek Politik: dari otoriterismenya kedemokrasi, dari sentralisasi ke desentralisasi, Aspek Ekonomi: Dari ekonomi lokal ke ekonomi global, globalisasi produk-produk ekonomi, Aspek Sosial Budaya: dari masyarakat lokal ke global, melemahnya ikatan primordialitas, patronase, kekerabatan, kekeluargaan, budaya massa, budaya konsumtif, dan moralitas, permissivennes.

Setelah orde baru runtuh kata “pembangunan seolah-olah tidak memiliki daya tawar atau kekuatan yang berarti lagi. Padahal pembangunan bukan hanya milik orde baru, sampai kapanpun manusia membutuhkan pembangunan, baik pembangunan fisik maupun mental spiritual. Tindakan membangun bukan hanya terkait dengan produk-produk yang terejawantahkan dalam bentuk fisik, melainkan juga dengan hal-hal yang tidak kasat mata. Oleh karena itu, setiap derap pembangunan harus senantiasa merujuk kepada kedua kepentingan, yakni sukses secara lahiriah, dan sukses secara rohaniah.

Berbagai macam, model pendekatan pembangunan yang telah kita ambil ternyata belum menunjukkan hasil yang berarti. Sebagian besar anak negeri belum dapat menikmati kue pembangunan seperti yang di impikan dan di janjikan. Kesejahteraan hanya di nikmati oleh sebagian kecil warga, sementara sebagian besar lainya berada dalam kondisi yang papa. Pada tatanan konsep kita selalu megimpikan suatu negeri yang “subur, makmur, aman, dan sejahtera” , tetapi jalan menuju ke sana ternyata sungguh tidak mudah. Begitu banyak hambatan ; yang harus kita benahi.

Pelajaran selama pemerintahan orde baru menunjukkan bahwa pembangunan fisik yang tidak seimbang dengan pembangunan akhlak manusianya telah menyebabkan negeri ini kehilangan makna pembangunan seutuhnya. Jalan-jalan memang bagus, gedung-gedung bertingkat berdiri dengan megah dan mewah, pusat-pusat perbelanjaan bergemerlapan siang malam. Akan tetapi manusia yang menikmati produk-produk pembangunan tersebut makin lama makin kehilangan jati diri budayanya. Sebagian (besar) dari kita tiba-tiba menjadi sangat mudah tergiur pada harta, ingin menjadi cepat kaya,  dan bahkan cendrung untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan cara yang halal dan benar untuk memperolehnya.

Pembangunan fisik yang sangat luar biasa ternyata hanya melahirkan manusia-manusia yang penuh dengan harapan dan mimpi menjadi orang kaya raya serta hidup enak. Manusia menjadi makin jauh dari nilai mulia yang diwarisi dari pendahulunya dan bahkan kadang-kadang tidak lagi mengenal siapa dirinya. Nilai-nilai luhur yang pernah dijadikan acuan dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, menjadi seperti pakaian mewah yang tergeletak dalam almari apik, tanpa pernah di kenakan oleh pemiliknya. Pembangunan yang di satu sisi memberikan kenyamanan dan kemudahan, di sisi lain tenyata menumbuhkan kecendrungan tak manusiawi dalam diri manusia pendukungnya.

Mahasiswa yang selalu berada di garda depan dalam setiap gerakan memiliki gudang besar yang di maksud dengan kampus, kampus adalah gudang ilmiah sementara mahasiswa adalah masyarakat ilmiah jadi jangan heran bila di ruangan kampus buku-buku berserakan pagi-pagi itu karena malamnya mahasiswa diskusi yang selesainya antara pukul 02.00/03.00 pagi, mereka tidak berfikir akan menjadi apa tapi mereka berfikir proses dan tanggung jawab sebagai insan intelektual yang selalu mengawal dalam setiap perubahan. Kami yakin dalam diri pembaca mungkin keheranan mengingat hal itu sudah tidak lagi di temukan, diskusi saat malam tiba dan berakhir saat  pagi tiba. semua itu hanya tinggal cerita, Pergeseran nilai dan kebiasaan sudah tidak bisa di bendung lagi, mahasiswa sudah mulai terbiasa dengan berfikir pragmatis, hidonis dan matrealistis yang semua itu tidak terlepas dari konsep pembangunan orde baru yang selalu mengedapankan pembangunan fisik yang sangat luar biasa yang ternyata hanya melahirkan manusia-manusia yang penuh dengan harapan dan mimpi menjadi orang kaya raya serta hidup enak, jauh dari nilai mulia yang diwarisi dari pendahulunya dan bahkan kadang-kadang tidak lagi mengenal siapa dirinya. Nilai-nilai luhur yang pernah dijadikan acuan dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa.

ruh mahasiswa sudah mulai terkubur dalam-dalam, mahasiswa tidak siap dengan perkembangan, perkembangan di tanggapi dengan tenang-tenang tanpa ada usaha yang riel, maka jangan heran bila aktivis sekarang gemuk-gemuk karena perkembangan di tanggapi dengan santai dan tidur-tiduran. Kita berharap hal ini tidak terjadi pada mahasiswa IAI Ibrahimy. Jadi pengurus BEM asal mahasiswa, Kuliah asalah kuliah, misuda asal wisuda, pulang ke masyarakat kelimpungan tanpa bisa mewarnai di kampung halamanya. Walau sarjana dan berbasis pesantren tidak menjamin pulang ke kampung bisa berdiri tegak dan kokoh memberi warna baru yang tepat dan lebih baik.

Ingat… cobaan bisa kapan saja datang, jangan pernah bersedih tetaplah yakin dan semangat, masih terlalu luas alam ini untuk dijelajah. hari ini kau boleh gagal di sini, namun aku yakin suatu saat di belahan bumi allah yang lainnya kau akan mendapatkan semua mimpi itu. amin

 

Ketua Forum Kajian Ilmu politik dan Ekonomi IAII

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>