Memotret Tradisi Pembacaan Al-Barzanji

berjanziMemasuki bulan Rabi’ul Awal –atau lebih dikenal dengan bulan maulid– umat Islam mulai berbenah diri untuk menyongsong hari kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW. Lantunan shalawat dan puji-pujian atas Nabi selalu ramai terdengar dari satu tempat ke tempat lain. Selaksa ikut bergembira akan datangnya bulan agung ini. Dengan suara yang merdu, diiringi alunan nada yang enak didengar dan terkadang diramu dengan tabuhan rebana ciri khas umat Islam menjadikan pesona keceriaan bulan Maulid tampak kian marak. Kegembiraan ini sebagai tanda kecintaan terhadap Nabi panutan.

Sebagai umat yang mengaku cinta kepada Nabinya, tentunya harus mengekspresikannya dengan beragam cara. Salah satunya dengan memuja-muja, mendo’akan, membacakan shalawat dan meneladani semua tingkah lakunya. Karena setiap orang pasti senang menyebut-nyebut dan memuja-muja orang yang dicintainya. Cinta kepada rasul merupakan kewajiban bagi semua umat Islam. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits Nabi : “Tidak sempurna iman seseorang sehingga aku menjadi orang yang paling dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya” (HR. Bukhari).

Maulid Nabi menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa kecintaannya kepada Nabi. Dengan memarakkan dan mengagungkan bulan kelahirannya merupakan bukti rasa syukur atas kehadiran Nabi yang membawa misi agung untuk mengentaskan umat manusia dari lembah kesesatan menuju jalan kebenaran. Kelahiran Nabi Muhammad yang merupakan tonggak awal dimulainya denyut nadi ajaran Islam adalah anugerah terbesar bagi umat manusia yang harus senantiasa dikenang dan diagungkan.

Salah satu tradisi yang terjadi di pesantren-pesantren atau di masyarakat yang umumnya warga nahdliyyin selalu memeriahkan Maulid Nabi dengan pembacaan kitab yang biasanya dikenal dengan al-Barzanji.

Al-Barzanji adalah kitab karangan Syekh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji. Beliau lahir di Madinah tahun 1690 M. dan wafat tahun 1766 M. Barzanji berasal dari nama suatu daerah di Kurdistan, Barzinj. Kitab tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata), tapi kemudian lebih terkenal dengan sebutan al-Barzanji.

Kitab ini bertutur tentang siroh Nabi Muhammad yang mencakup silsilah keturunannya, perjalanan hidupnya semasa kecil, remaja, menginjak dewasa hingga diangkat sebagai Rasul. Di dalamnya juga disebutkan sifat-sifat terpuji, keistimewaan-keistimewaan Nabi dan berbagai peristiwa yang bisa dijadikan teladan bagi umat manusia. Dengan bahasa yang sarat akan nilai sastra yang tinggi menjadikan kitab ini semakin apik dan enak dibaca. Saking indah bahasanya, sehingga terkadang setingkat santri senior pun agak kesulitan untuk memahami maksud dari goresan-goresan tinta al-Barzanji ini. Bisa jadi karena banyak kosakata yang tidak biasa dikenal. Atau karena susunan redaksinya yang mengandung balaghah (sastra Arab). Untuk dapat memahaminya kita perlu mempelajarinya dengan serius dan mendalam. Akan tetapi, kesulitan ini dapat diatasi dengan dibantu syarah kitab al-Barzanji ini, yaitu kitab Madarij al-Shu’ud karya Syekh Nawawi al-Banteni. Dengan membaca kitab syarah ini dapat memudahkan kita memahami maksud dari karya al-Barzanji.

Penulisan kitab al-Barzanji ini bermula dari digelarnya festival penulisan sejarah Nabi yang disertai puji-pujian atas Nabi dengan gaya bahasa yang seindah mugkin. Festival ini diadakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi dalam rangka memeriahkan peringatan maulid Nabi yang baru kali pertama dilakukan. Banyak para cendekiawan dan sastrawan ikut hadir memeriahkan kompetisi akbar ini. Semuanya mengerahkan kemampuannya masing-masing untuk bersaing meraih juara para even besar ini. Akhirnya, yang keluar sebagai pemenang dalam ajang bergengsi ini adalah Syekh Ja’far al-Barzanji dengan karyanya yang terkenal dengan sebutan al-Barzanji.

Pada perkembangan selanjutnya, pembacaan al-Barzanji tidak hanya terdengar saat bulan maulid. Sebagai sarana tawassul kepada Nabi Muhammad, al-Barzanji dibaca ketika ada hajat-hajat tertentu. Misalnya saat kelahiran bayi, akikah, khitanan, pernikahan. Bahkan, sekarang sudah menjadi bacaan rutin setiap seminggu sekali.

Mestinya, al-Barzanji tidak hanya dijadikan sekadar bacaan. Kitab ini bukanlah kumpulan sajak-sajak indah yang sekadar untuk didendangkan sebagai penghibur hati. Akan tetapi, isi dan pesan-pesan yang disampaikan pengarang harus dipahami dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manifestasi kecintaan kita terhadap baginda Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan melantunkan pujian-pujian dan lantunan shalawat atasnya. Terlebih tanpa mengetahui maksud dari apa yang dibacanya. Tidak sempurna kecintaan kita kepada Nabi tanpa mensuriteladani segala perilaku dan sifat-sifat yang dicontohkan Nabi. Tentunya untuk dapat mengikuti jejak-jejak Nabi, kita harus mampu memahami literatur yang bertutur tentang riwayat hidup Nabi. Salah satunya adalah kitab al-Barzanji. (Taufiq Aura, Alumnus Ma’had Aly angkatan V)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>