Menulis untuk Menyampaikan Kebenaran

ok-3-6-2017 (27)

Gagasan menulis dapat berasal dari tempat mana saja dan muncul kapan saja. Namun dalam proses kepenulisan harus dimulai dalam keadaan suci dan memiliki misi untuk menyampaikan kebenaran. Sebagai seorang santri, motivasi terbesar menulis dapat berasal dari keteladanan dan ketekunan sang kiai dalam berkarya.

 

Demikian salah satu pernyataan, Taufiqurrahman Al-Azizy, salah seorang novelis islami best seller di hadapan ratusan santriwati Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Kegiatan tersebut dikemas dalam acara Pengajian Menulis, yang diselenggarakan BEM Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy.

 

Menurut penulis novel trilogi Makrifat Cinta tersebut, ia menjadi penulis karena terinspirasi oleh sang kiai ketika ia nyantri dulu. Pada suatu hari, ia mencoba masuk ke perpustakaan pribadi sang kiai, KH. Drs. Ahsin Wijaya al-Hafidz, MA, pengasuh Pondok Pesantren Ilmu al-Qur’an Hidayatul Qur’an. Ia kaget, ketika menemukan karya tulis sang kiai tentang panduan menghafal al-Qur’an. “Kiai yang sepuh dapat menghasilkan karya tulis, mengapa saya tidak?” pikirnya.

 

Karena itu, sebagai santri kita dapat menjadi penulis. Apalagi, sebenarnya menulis itu mudah namun yang agak sulit, membuat kata-kata indah. Gagasan dalam kepenulisan dapat berasal dari mana saja dan muncul kapan saja. “Namun dalam memulai menulis, hendaknya berwudhu dulu,” ujarnya alumni Fakultas Dakwah tersebut.

 

Penulis novel  “Jangan Biarkan Surau Ini Roboh” mengaku, ketika menulis jangan memiliki impian untuk menjadi orang terkenal atau novelnya menjadi best seller. Namun harus menyucikan hati dan diri hanya untuk menyampaikan kebenaran. Segala kesuh kesah dan pengalaman kita dapat dijadikan bahan untuk menulis novel.