Peluh-Peluh Sang Ibu

Oleh: zainal yusuf

 

Dalam hidup, kepentingan kita adalah memupuk mimpi tentang masa depan. Namun realita hidup mengatakan bahwa diri kita seringkali takut bahkan enggan untuk menjadi actor yang bergulat dalam hal itu. padahal , pergulatan diri kita dalam ranah kehidupan merupakan langkah atau titian menuju meaning in life (sebuah hidup yang bermakna).

 

Namun, perlu kita tau bahwa di belakang  semua ini ada seseorang yang  begitu sangat berarti dan berperan aktif dalam  mengupayakan  kebermaknaan hidup kita, bisa kita lihat, tatap kemudian renungkan  benarkah dialah seseorang itu: Ya, benar dialah ibu kita  yang selama ini  telah banyak mengajarkan sesesuatu  yang berharga kepada kita semua.

 

Ibu mengajarkan tentang cinta kepada kita , ibu mengajarkan tentang ketegaran  di saat kita di hadapkan dengan persoalan–persoalan pelik  untuk kita pecahkan dan ibu mengajarkan tentang solidaritas kepada kita yang tidak lain tujuanya adalah agar kita tahu bahwa dalam hidup “ kita tak sendiri”.

 

Mungkin kita saat ini telah mersakan nikmatnya   bagaimana  berjalan dengan kaki yag kokoh tanpa harus tertatih-tatih dan terjatuh ke lantai. Namun mari kita pikirkan kembali siapakah yang mengelus-ngelus ketika kita terluka , siapakah yang menunutun kita ketika tertatih-tatih dan lunglai ketika kita mulai mencoba melangkahkan kaki,  ketika kita sedih dan ketika kita tak di anggap pentig  oleh orang lain, dialah seoarang  ibu yang mampu memberikan kedamaian, kasih sayang yang tulus dan air mata untuk kebahagiaan kita di masa yang akan datang. Tapi  ternyata, tanda terima kasih  kita ialah dengan membohonginya dan caci maki ketika apa yang kita minta tak terpenuhi olehnya. padahal , tanpa kita ketahui ibu menangis tersedu-sedu karena ucapan kita , tingkah laku kita dan permintaan kita yang di luar kemampuan mereka. Di sadari atau tidak  yang pasti inilah yang sering kita lakukan selama ini.

 

Sahabat, sosok seorang ibu adalah sosok yang mengangumkan ,gigih dan kesudianya pada apa yang kita butuhkan  walau nyawa menjadi taruhan. Tapi, lalu mengapa kemudian kita  seringkali menghianati cintanya, kasih sayangnya dan bahkan kita  tega menukar cintanya  dengan  cinta yang lain selain ibu kita.

 

Sahabat, mari kita renungkan apa-apa yang telah  ibu lakukan pada  kita semua sehingga kita menjadi yang saat ini kita rasakan.

 

Masihkah kita ingat , ketika ibu kita membuatkan makanan kesukaan kita untuk yang terakhir kali semenjak kita hendak berpisah denganya untuk mencari  bekal hidup di negeri orang???

Masihkah kita ingat , tetesan air mata ibu ketika kita mulai melankahkan kaki  dan lambaian tangan pada orang –orang yang kita cintai , dan kitapun telah meninggalkan  mereka semua.

sahabat , inilah  potret kerja keras seorang ibu  yang terkadang  kita  tidak ketahui bahkan kita “ masa bodoh “ dengan hal itu :

 

Sahabat-sahabat yang masih mamiliki seorang ibu, mari kita sadari dan minta maaflah kepadanya bahwa kita seringkali bertindak arogan ketika apa yang kita minta tak terpenuhi  olehnya. Ingat !! tak ada seorang ibu yang menginginkan anaknya tak bahagia

Sahabat, bisa kita katakan bahwa dulu ibu kita adalah sosok yang paling cantik di antara ibu –ibu yang lain. Namun, mari kita lihat ibu kita  yang saat ini, dia telah begitu tua , telah mulai merasakan sakit-sakitan dan  merasakan betapa sedihnya  ketika hidup tanpa seorang suami , tanpa adanya kita yang  sedang di rumah istri dan tanpa adanya kita yang sedang di perantauan ilmu.

Sahabat, mari kita tundukan kepala , pejamkan mata dan hadirkan wajah ibu kita…., kemudian  berdoalah :

 

Ya allah ampuni segala dosa-dosa kami…

kami telah banyak berbuat kesalahan kepada ibu dan bapak kami ya allah…….

Berikanlah nikmat sehatMU kepada ibu bapak kami ya allah….

Mudahkanlah pintu-pintu rizkiMU pada ibu bapak kami ya allah…

Ya allah….hanya kepadaMU  kami mengadukan semua ini ya allah…..

Hanya Engkau  maha kuasa yang dapat mengabulkan do’a-do’a kami ya allah…

Terimalah  do’a kami ya allah….

Amin ya robbal Alamin……!!!!

.

 

“Terima kasih dan maafkanlah kami atas segalanya wahai ibu”