Pengusiran Serdadu Jepang di Garahan Jember

picture-060

Di dalam ruangan itu tampak gerah dan panas.  Perdebatan makin seru. Masing-masing pihak mempertahankan argumentasi dan masih bersikukuh dengan pendiriannya. Emosi yang hadir sudah tidak terkendali lagi. “Negeri ini milik kami bukan milik gubernur, bukan milik presiden apalagi bukan milik Jepang! Kalian harus meninggalkan negeri ini! Kalau tidak, saya dan rakyat akan menyerang kalian!” bentak Kiai As’ad sambil menggebrak meja. “Brak!”

Hadirin terhenyak. Dilihatnya, meja yang kokoh itu, kini retak dan kakinya menembus lantai kantor yang megah. Pemimpin Jepang bercucuran keringat dingin, tampak ketakutan. Wajah Kiai As’ad memerah, menahan geram. Tidak ada yang berani menatapnya. Semuanya diam, diam membisu. “Kalian harus pulang sekarang juga!” usir Kiai As’ad memecahkan kesunyian.

Mau tidak mau, akhirnya pemimpin Jepang itu menyerah. Mereka bersedia menandatangani persetujuan pemulangan tentara Jepang di Desa Curah Damar Garahan Jember. Ya, sebentar lagi tentara Jepang  akan diangkut dengan truk ke Balung Tutul, kemudian diberangkatkan ke Surabaya, sedangkan gedung dan seluruh senjata akan diambil alih rakyat.

Yang ikut hadir dalam peristiwa pengambilalihan kekuasaan itu, adalah pemimpin Jepang di Garahan dan wakil-wakil rakyat Karesiden Besuki. Di antaranya, Mr. Surjadi (ketua Pengadilan Karesidenan Besuki, yang kemudian menjadi Residen Besuki di Bondowoso), Kiai Dzofir (sumukatjok, kepala urusan agama), Kiai Munir, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Semula para tokoh masyarakat yang hadir tersebut, kurang mampu menyakinkan Jepang. Jepang tidak mau keluar dari Garahan. Segala argumentasi dapat dipatahkan pihak Jepang. Ia beralasan menempati markas tersebut karena telah mendapat ijin gubernur. Namun akhirnya, keangkuhan pemimpin Jepang tersebut, dapat ditaklukkan dengan gertakan Kiai As’ad yang disertai sedikit ilmu kanuragannya.

Di luar gedung pertemuan itu, beberapa ribuan orang berkumpul menanti pemimpinnya. Mereka bergerombol sambil menenteng pedang, kapak, clurit, dan senjata tradisional lainnya. Tampaknya, mereka sudah tidak tahan lagi, ingin menyerang “saudara tua”, panggilan tentara Jepang yang memang dipopulerkan sendiri oleh Dai Nippon, untuk menggaet simpati rakyat Indonesia.

Para pemimpin rakyat tersebut, lalu menemui umatnya. Kiai As’ad mengutus para Pelopor untuk mengambil senjata tentara Jepang. Begitu pula dengan para pejuang dan rakyat mulai mendatangi gedung itu. Di dalam gedung, mereka juga mengambil makanan. Tentara Jepang, takut dan tidak berani menegur. Para tentara Jepang, yang beberapa bulan lalu amat gagah, sekarang berjalan gontai, apalagi saat digiring naik truk ke Stasiun Balung Tutul. Mereka hanya diperkenankan membawa pakaian dan makanan.

Ternyata di stasiun, sudah penuh sesak dengan rakyat. Tentara Jepang langsung disuruh naik kereta api. Sedangkan bahan makanan ditaruh di gerbong belakang. Tidak beberapa lama kemudian, sepur dijalankan. Tapi sial, gerbong belakang putus. Salah seorang anggota Pelopor telah memutus cantolan gerbong itu. Dalam hitungan detik, orang-orang menyerbu gerbong makanan itu dan ramai-ramai melahapnya.

Bagaimana ceritanya sehingga rakyat datang berbondong-bondong? Sebelum terjadi perundingan itu, Kiai As’ad memang telah mengontak seluruh anggota Pelopor dan Hizbullah Sabilillah. Kiai As’ad juga telah mendatangi para kiai dan tokoh masyarakat di Jember. Di antaranya, Kiai Umar Sumberwringin dan KH. Dzofier, yang saat itu menjabat kepala urusan agama. Bahkan Kiai Dzofier pun ikut dalam pertemuan dengan petinggi Jepang.

Sebelum pertemuan diadakan, Kiai As’ad menyuruh anggota Pelopor untuk menabur pasir (yang telah disiapkan dari Sukorejo) di sekitar perkampungan Jepang di Garahan. Lalu Kiai As’ad, Kiai Syawir, Kiai Ridwan, dan masyarakat sekitar itu mengadakan istighatsah di Masjid.

Setelah itu, Kiai As’ad dan beberapa tokoh masyarakat Karesidenan Besuki mengadakan perundingan dengan pemimpin Jepang. Sedangkan di luar gedung, beberapa anggota Pelopor, Pasukan Hizbullah Sabilillah, Tentara Keamanan Rakyat dan masyarakat mulai berdatangan.

Lalu kapan peristiwa tersebut terjadi? Dari beberapa dokumen dan catatan media massa—yang bercerita tentang peran Kiai As’ad, terdapat perbedaan mengenai peristiwa penyerangan tentara Jepang di Garahan Jembar.

Pertama, pada saat pendudukan Jepang.  Misalnya, bisa kita baca di Surya, 24 Juli 1990. Bahkan Bindere Miskun, salah seorang tokoh Pelopor yang dekat dengan Kiai As’ad, menyebut terjadi pada tahun 1943.

Kedua, terjadi setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, tanpa menyebut tanggal, bulan, dan tahun. Misalnya, dalam buku riwayat KHR. As’ad Syamsul Arifin dan Biografi KH. Dhofir Jember.

Ketiga, pada tahun 1947. Umpamanya, bisa kita baca di dokumentasi Muktamar NU tahun 1984, yang mengulas Pondok Pesantren Sukorejo sebagai tuan rumah Muktamar. Dokumen ini, menjadi acuan beberapa media yang meliput peristiwa Muktamar ke-27 tersebut—Harian Pelita, 11 Desember 1984, misalnya.

Menurut hemat penulis, peristiwa penyerbuan markas tentara Jepang di Garahan Jember tersebut, sekitar akhir September atau awal Oktober 1945. Kalau pada tahun 1943, rasa-rasa tidak mungkin, mengingat betapa kuatnya Jepang saat itu. Begitu pula pada tahun 1947, Jepang hampir sudah tidak ada lagi di Indonesia, sudah diganti penjajah Belanda.

Mengapa penulis memperkirakan sekitar akhir September atau awal Oktober 1945? Pertama, dari beberapa informan menyebutkan, peristiwa tersebut terjadi sebelum perang bulan Nopember 1945 di Surabaya.

Kedua, beberapa informan menjelaskan, peristiwa itu di akhir pendudukan Jepang. Sekitar setengah bulan kemudian, Kiai As’ad mendapat surat undangan untuk menghadiri pertemuan para ulama se Jawa yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari di Surabaya.

Setelah pertemuan itu, Kiai As’ad langsung keliling daerah Madura lalu pulang. Kiai As’ad mengumpulkan para bajingan dan berkoordinasi dengan para ulama Madura dan Karesidenan Besuki. Penulis menduga, pertemuan ulama itulah yang kemudian menghasilkan “Resolusi Jihad”. Resolusi yang diikuti seluruh konsul NU se-Jawa tersebut, terjadi pada tgl 22 Oktober 1945.

Ketiga, pada tgl 3 September 1945 di Surabaya, diproklamasikan pembentukan daerah RI. Setelah itu, terjadi pengambilalihan kekuasan pemerintahan Jepang dan aksi penurunan bendera Sakura, diganti sang saka merah putih. “Rakyat Surabaya pada waktu itu sudah menjadi pemberontak semua, dan mereka menculik anggota-anggota Tentara Jepang, merampok senjata dan mobil-mobilnya,” kata Admiral Shibata, panglima armada angkatan laut Jepang di Surabaya, sebagaimana yang ditulis dalam salah satu dokumen yang tersimpan di Amsterdam dan London.

Pengambilalihan kekuasaan di Surabaya ini juga diikuti daerah lainnya, termasuk di Karesidenan Besuki. Bahkan menurut beberapa informan di daerah Jember dan Bondowoso, beberapa hari sebelum peristiwa Garahan ini, Kiai As’ad dan anggota Pelopor mengadakan pelucutan tentara Jepang di Gudang Seng Sukowono Jember. Tentara Jepang di Gudang Seng ini, memang tidak sebanyak di Garahan. Dalam peristiwa tersebut, tidak sampai terjadi bentrok fisik.

Begitu pula dengan beberapa markas tentara Jepang lainnya di daerah Karesidenan Besuki, semua senjata tentara Jepang dilucuti dan orangnya dipulangkan. Senjata, kuda, kain, dan barang-barang lainnya oleh para Pelopor diambil untuk berjuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>