Tak Ingin Sosmed jadi Alat Pemecah-Belah

 

SEDIKITNYA 60 praktisi dunia maya dari berbagai wilayah berkumpul di Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, kemarin (23/3). Para ahli cyber ini berasal dari Jawa, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara.

Selain melakukan kopdar alias kopi darat (istilah pertemuan pengguna dunia maya), dalam acara yang dikemas untuk memeriahkan peringatan 1 Abad Pesantren Sukorejo itu, para bloger mengadakan sharing antar sesama aktivis. Isu yang mereka usung adalah mengawal kesatuan dan persatuan bangsa melalui dunia maya.

Menurut salah satu inisiator acara, Cak Usma, peran dunia maya dalam menjaga stabilitas dan persatuan sebuah negara saat ini cukup penting. Dikatakan, para pelaku dunia maya mempunyai tanggungjawab yang sama dalam menjaga persatuan bangsa. “Seperti aparat TNI/Polri, kita juga mempunyai panggilan untuk menjaga stabilitas bangsa melalui dunia yang kita kerjakan,” ujar Usma.

Saat ini, peranan dunia maya sangat vital. Usma mencontohkan, salah satu dampak yang tidak diinginkan dari pengaruh informasi melalui dunia maya bisa dilihat pada revolusi di Mesir. Peristiwa itu bisa menjadi booming dikarenakan ada penggiringan opini melalui salah satu sosial media (sosmed), yakni twitter. Dia berharap hal seperti itu tidak terjadi di Indonesia. “Mesir bisa seperti itu salah satu pendorongnya informasi di Twitter. Kita tidak ingin sosmed di Indonesia dimanfaatkan untuk ajang perpecahan,” ujarnya.

Selain itu, para praktisi dunia maya yang sebagian besar berlatar belakang pesantren ini juga bertekad membentengi arus informasi dari golongan yang mengatasnamakan Islam, namun justru menyebarkan berita yang mengandung unsur perpecahan.

Pria yang juga terhitung sebagai Head of Marketing di salah satu perusahaan telekomunikasi nasional ini menegaskan, yang dilakukan komunitasnya bukan melakukan peretasan terhadap situs-situs yang dinilai kurang bersahabat. Melainkan melakukan pemberitaan yang terkait keadaan toleransi yang ada di Indonesia dan juga mengabarkan hal-hal yang benar seputar Islam yang ada di Indonesia.

Menurut Usma, saat ini banyak sekali informasi yang kurang benar terkait Islam. Dia mencontohkan, jika kita mencari informasi jihad, maka informasi seputar jihad yang muncul di internet akan mengarah kepada pengertian jihad dangkal, seperti perang dan bom bunuh diri. Dan, justru berada di top rangking mesin pencarian. Jarang sekali pengertian jihad terkait kemanusiaan seperti pendidikan dan pelayanan sosial yang muncul. Selain itu, media-media tersebut lebih suka mengabarkan rivalitas antara kelompok Islam yang mana menjadi mayoritas di Indonesia. Padahal, menurut Usma, kondisi di lapangan sangat berbeda. “Media-media yang itu mengabarkan seolah-olah di Indonesia itu rawan konflik horisontal. Padahal kenyataannya kita damai-damai saja. Ini yang kita suarakan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, turut hadir salah seorang peneliti Jawa Pos Institut of Pro Otonomi (JPIP), Nur Hidayat. Hidayat menyampaikan perlu adanya kesadaran dari para praktisi media maya untuk menjaga keutuhan dan integrasi bangsa. “Jangan sampai dunia maya menjadi kendaraan untuk memecah keutuhan bangsa. tugas kita disitu,” ungkasnya. (*)

Sumber: Jawa Pos Radar Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>